EFEK ANTI DIABETES EKSTRAK ETANOL DAUN SEMAK MERDEKA (Chromolaena odorata) TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH (Rattus novergicus) GALUR SPARGUE DAWLEY
PDF

Keywords

ekstrak etanol Chromolaena odorata, diabetes, glukosa darah puasa

How to Cite

Yudistira, D., Lidia, K., & Manafe, D. (2019). EFEK ANTI DIABETES EKSTRAK ETANOL DAUN SEMAK MERDEKA (Chromolaena odorata) TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH (Rattus novergicus) GALUR SPARGUE DAWLEY. Cendana Medical Journal (CMJ), 6(3), 490-498. Retrieved from https://ejurnal.undana.ac.id/CMJ/article/view/1457

Abstract

Beragam efek samping dari obat antihiperglikemi oral menjadikan obat herbal sebagai alternatif pengobatan. Tanaman semak merdeka (Chromolaena odorata) merupakan tanaman obat tradisional. Daun tanaman semak merdeka adalah bagian tanaman yang bermanfaat untuk menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian ekstrak etanol daun semak merdeka terhadap kadar glukosa darah tikus putih galur Sprague dawley. Metodologi penelitian dilaksanakan menggunakan jenis rancangan eksperimental laboratoris dengan pendekatan pre test–post test with control group design. Sebanyak 24 ekor tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur Sprague dawley dibagi dalam enam kelompok perlakuan dan terdiri dari empat ekor tikus  untuk setiap kelompok. Kelompok Kn, K+, K-, K1, K2 dan K3 secara berturut-turut adalah kelompok kontrol normal, kelompok kontrol positif (diberikan glibenklamid 0,9 mg/hari per oral), kelompok kontrol negatif (diberikan CMC-Na 0,5% per oral), kelompok dosis rendah (ekstrak semak merdeka dosis 87,5 mg/200 gram BB tikus per oral), kelompok dosis sedang (ekstrak semak merdeka dosis 175 mg/200 gram BB tikus per oral) dan kelompok dosis tinggi (ekstrak semak merdeka dosis 350 mg/200 gram BB tikus per oral). Tikus diseluruh kelompok terkecuali kelompok Kn diinduksi DM dengan injeksi aloksan single dose 24 mg/200 gram BB tikus secara intraperitoneal. Glukosa darah puasa (GDP) diukur sebelum mendapatkan perlakuan (hari ke-10) dan sesudah mendapatkan perlakuan (hari ke-13, 17, 21 dan 25). Hasil terdapat penurunan kadar GDP yang bermakna (p<0,05) kelompok K2 dan K3 pada hari ke-13, 17, 21 dan 25 (sesudah mendapatkan ekstrak daun Chromolaena odorata) dibandingkan dengan hari ke-10 (sebelum mendapatkan ekstrak daun Chromolaena odorata) sedangkan kelompok K1 penurunan kadar GDP yang bermakna (p<0,05) terlihat pada hari ke-25.  Kesimpulan ekstrak daun Chromolaena odorata dosis 87,5; 175; 350 mg/200 gram BB tikus memiliki efek antidiabetes

PDF

References

1. World Health Organization. Global Report on Diabetes. 2016.
2. Pusat Data Informasi Kementrian Kesehatan RI. infodatin-diabetes. Jakarta; 2013. p. 1–8.
3. Soelistijo AS, Novida H, Rudijanto A, Soewondo P, Suastika K, Manaf A, et al. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2015. PB PERKENI; 2015. 6-40 p.
4. Schteingart DE. Pankreas: Metabolisme Glukosa dan Diabetes Melitus. In: Hartanto H, Wulansari P, Susi N, Mahanani DA, editors. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit/ Sylvia Anderson Price, Lorraine McCarty Wilson volume 2. 6th ed. Jakarta: EGC; 2005. p. 1259–74.
5. Hollander P. A Review of Type 2 Diabetes Drug Classes. US Endocrinol. 2008;4(1):58–61.
6. Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI) [Internet]. Badan POM RI. 2014 [cited 2017 May 14].
7. WHO. General Guidelines for Methodologies on Research and Evaluation of Traditional Medicine World Health Organization. World Health Organization (WHO); 2000. p. 1–2.
8. Hanphakphoom S, Thophon S, Waranusantigul P, Kangwanrangsan N. Antimicrobial Activity of Chromolaena odorata Extracts against Bacterial Human Skin Infections. Can Cent Sci Educ. 2016;10(2):159–71.
9. Marianne, P DL, Sukandar EY, Kurniati NF. Antidiabetic Activity of Leaves Ethanol Extract Chromolaena odorata (L.) R. M. King on Induced Male Mice with Alloxan Monohydrate. J Nat. 2014;14(1):1–4.
10. Suyono S. Patofisologi Diabetes Melitus. In: Sidartawan S, Soewondo P, Subekti I, editors. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. 2nd ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2013. p. 11–8.
11. Widowati W. Potensi Antioksidan sebagai Antidiabetes. Jkm. 2008;7(2):1–11.
12. Suarsana IN, Priosoeryanto BP, Bintang M, Wresdiyati T. Profil Glukosa Darah dan Ultrastruktur Sel Beta Pankreas Tikus yang Diinduksi Senyawa Aloksan. Jitv. 2010;15(2):118–23.
13. Granner DK. Hormon Pankreas dan Traktus Gastrointestinal. In: Santoso A, editor. Biokimia Harper. 24th ed. Jakarta: EGC; 1999. p. 598–616.
14. Handoko T, Suharto B. Insulin, Glukagon dan Antidiabetik Oral. In: Ganiswarna S, editor. Farmakologi dan Terapi. 5th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2012. p. 490–1.
15. Kennedy M. Hormon Pankreas dan Obat Antidiabetes. In: Nirmala W, editor. Farmakologi Dasar dan Klinik. 10th ed. Jakarta: EGC; 2010. p. 718.
16. Katno, Pramono S. Tingkat Manfaat dan Kemanan Tanaman Obat dan Obat Tradisonal. 2010;1–7.
17. Chakraborty AK, Rambhade S, Patil U. Chromolaena odorata (L.): An Overview. J Pharm Res. 2011;4(3):573–6.
18. Suryani N, H T, Aulanni’am. Pengaruh Ekstrak Metanol Biji Mahoni terhadap Peningkatan Kadar Insulin, Penurunan Ekspresi TNF- α dan Perbaikan Jaringan Pankreas Tikus. J Kedokteran Brawijaya. 2013;27(3):137–45
Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

Downloads

Download data is not yet available.