Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya https://ejurnal.undana.ac.id/FISA <p><strong>p-ISSN :&nbsp;<a href="http://u.lipi.go.id/1461570616" target="_blank" rel="noopener">2503-5274</a> (Printed)&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;e-ISSN : <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1554973637&amp;1&amp;&amp;2019" target="_blank" rel="noopener">2657-1900</a> (Online)</strong><br><strong><a href="https://doi.org/10.35508/fisa" target="_blank" rel="noopener">doi : https://doi.org/10.35508/fisa</a></strong><br>Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya diterbitkan oleh Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknk - Universitas Nusa Cendana secara berkala (setiap 6 bulan) yaitu setiap bulan April dan Oktober, dengan tujuan untuk menyebarluaskan hasil penelitian, pengkajian, dan pengembangan bidang Fisika beserta dengan terapan ilmu fisika. Artikel yang dipublikasi dalam Jurnal FiSA dapat berupa Artikel Penelitian maupun Artikel Konseptual (non-penelitian). <br> <strong>JFISA INDEXED BY :</strong> <br><a title="Jurnal Fisika Sains dan Aplikasinya" href="https://ejurnal.undana.ac.id/FISA" target="_blank" rel="noopener"><img src="/RujUxYuks/site/images/clouk/LogoIndeks.png">&nbsp;</a></p> <p><a title="JFISA in SINTA" href="http://sinta2.ristekdikti.go.id/journals/detail?id=5417" target="_blank" rel="noopener"><img src="/RujUxYuks/site/images/clouk/sinta_51-small.jpg"></a></p> Universitas Nusa Cendana en-US Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya 2503-5274 <p><strong>Published By</strong>&nbsp;<a title="Universitas Nusa Cendana" href="http://undana.ac.id/" target="_blank" rel="noopener"><img src="/RujUxYuks/site/images/clouk/undana.png"></a></p> <p>Jl. Adisucipto, Penfui-Kupang, Lasiana, Klp. Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur., Indonesia</p> <p><a title="CC-BY-NC-ND 4.0" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0" target="_blank" rel="noopener"><img src="/RujUxYuks/site/images/clouk/Attrib1.png"></a></p> <p>This work is licensed under <a title="CC-BY-NC-SA 4.0" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0" target="_blank" rel="noopener">Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0)</a></p> Front Matter Vol 5, No. 2 - Oktober 2020 https://ejurnal.undana.ac.id/FISA/article/view/3474 Andreas Christian Louk ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2020-10-22 2020-10-22 5 2 i vii SISTEM KONTROL SUHU PADA PENGERING IKAN BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA 8535 https://ejurnal.undana.ac.id/FISA/article/view/903 <p><strong>Abstrak</strong> <br>Telah dirancang sebuah sistem kontrol secara loop tertutup pada unit pengeringan ikan menggunakan sensor LM35, mikrokontroler ATmega8535, seven segment serta beberapa komponen elektronika yang tesedia dipasaran. Sistem dikendalikan oleh mikrokontroler ATmega8535 untuk pengambilan data suhu menggunakan sensor LM35 dan menampilkan data suhu melalui seven segment, serta mengontrol pemanas melalui aktuator. Hasil pengukuran nilai suhu akan dibandingkan dengan nilai setpoint, sehingga diperoleh selisih nilai yang akan digunakan sebagai indikator untuk melakukan proses pengontrolan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pengontrolan bekerja dengan baik dalam merespon setiap perubahan suhu udara. Ketika suhu di bawah setpoint 53°C maka aktuator akan berada dalam kondisi on sehingga pemanas aktif, sebaliknya jika suhu berada di atas setpoint 53°C maka aktuator akan berada dalam kondisi off untuk mematikan heater. Hasil pengeringan selama 4 jam menunjukkan bahwa pengeringan ikan pada massabasah ikan 200 gram, yaitu pada keadaan ventilasi atas kotak pengeringan terbukaakan menghasilkan massa kering90 gram. Pengujian selama 4 jam pada keadaan ventilasi kotak pengeringan tertutup akan menghasilkan massa kering 130 gram. Selain itu, pengeringan secara tradisional selama 12 jam dengan massa basah ikan 200-gram akan menghasilkan massa kering 90 gram.<br><strong>Kata Kunci</strong>: Suhu, pengeringan ikan; mikrokontroler Atmega8535; seven segment; aktuator</p> <p><br><em><strong>Abstract</strong> </em><br><em>A closed-loop control system of temperatures in fish drying unit using LM35 sensor, ATmega8535&nbsp;</em><em>microcontroller, seven segment and also some of the available electronic market components has&nbsp;</em><em>been designed. The system is controlled by a microcontroller ATmega8535 for temperature data&nbsp;</em><em>collection using LM35 sensor and temperature data is displayed on seven segments, as well as&nbsp;</em><em>heating control via actuators. The measurement results will be compared with the value of the&nbsp;</em><em>temperature set point value in order to obtain the difference in value to be used as an indicator for&nbsp;</em><em>process control. The results show that the control works well in response to any changes in air&nbsp;</em><em>temperature. If the setpoint temperature below 53°C, the actuator will in on condition that the&nbsp;</em><em>heating is on, otherwise if the temperature is above 53°C setpoint then the actuator will on condition&nbsp;</em><em>to turn the heater off. Drying for 4 hours results show that the drying fish on the fish wet mass of&nbsp;</em><em>200 grams, which is the state of the top vents open drying box will produce a dry mass of 90 grams.&nbsp;</em><em>Testing for 4 hours in a drying box vents closed state will produce 130 grams of dry mass. In&nbsp;</em><em>addition, traditional drying for 12 hours with 200 grams of fish wet mass will produce 90 grams of&nbsp;</em><em>dry mass.</em><br><em><strong>Keywords</strong>: Temperature; drying fish; ATmega8535 microcontroller; seven segments; actuators.</em></p> Fredy M. Baitanu Ali Warsito Jonshon Tarigan ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2020-10-22 2020-10-22 5 2 87 95 10.35508/fisa.v5i2.903 RANCANG BANGUN LEMARI PENGERING DAUN MARUNGGA (Moringa Oleifera) https://ejurnal.undana.ac.id/FISA/article/view/1760 <p><strong>Abstrak</strong> <br>Pohon Marungga merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki manfaat yang besar. Untuk daunnya sendiri dapat dijakdikan menjadi suplemen gizi dan juga sebagai bahan dasar kosmetik. Daun Marungga sendiri dapat dijadikan bubuk untuk selanjutnya diproses ke dalam berbagai kebutuhan. Sebelum dijadikan bubuk, sebelumnya daun tersebut harus dikeringkan. Pengeringan manual selama ini membutuhkan waktu yang panjang dan tidak higienis. Pada penelitian ini diperoleh hasil, proses pengeringan selama 19 jam diperoleh<br>hasil penurunan kelembaban tidak bisa dilakukan secara cepat. Hal ini disebabkan karena temperatur dalam ruangan tidak mampu memanaskan udara sekitar dengan cepat sehingga proses pengeringan cenderung lebih lambat. Dengan beban pengeringan 20 kg daun Marungga mentah, diperoleh sekitar 3 kg daun kering.<br><strong>Kata kunci</strong>: marungga; perpindahan panas; lemari</p> <p><em><strong>Abstract</strong> </em><br><em>Marungga tree is one of the plants that have great benefits. The leaves themselves can be&nbsp;</em><em>transformed into nutritional supplements and also as a cosmetic base ingredient. Marungga&nbsp;</em><em>leaves themselves can be used as a powder for further processing into various needs. Before&nbsp;</em><em>being made into powder, the leaf must be dried beforehand. Manual drying so far requires a&nbsp;</em><em>long time and is not hygienic. In this study the results were obtained, the drying process for</em><br><em>19 hours obtained the result of humidity reduction could not be done quickly. This is because&nbsp;</em><em>the temperature in the room is not able to heat the surrounding air quickly so the drying&nbsp;</em><em>process tends to be slower. With a drying load of 20 kg of raw Marungga leaves, about 3 kg&nbsp;</em><em>of dried leaves are obtained.<br></em><em><strong>Keywords</strong>: marungga; heat transfer; cabinets</em></p> Ben Vasco Tarigan Jefri S. Bale Matheus M. Dwinanto Muhamad Jafri Daud P. Mangesa Dominggus G. H. Adoe ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2020-10-22 2020-10-22 5 2 96 99 10.35508/fisa.v5i2.1760 IDENTIFIKASI ASPEK GELOMBANG BUNYI KELUARAN ALAT MUSIK SASANDO TRADISIONAL DAN SASANDO ELEKTRIK https://ejurnal.undana.ac.id/FISA/article/view/1960 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Telah dilakukan penelitian tentang identifikasi aspek gelombang bunyi alat musik sasando tradisional dan sasando elektrik. Subjek penelitian ini adalah bunyi alat musik sasando tradisional dan sasando elektrik yang bertipe sasando biola dengan jumlah dawai 32. Bunyi alat musik sasando direkam dengan mikrofon <em>Havit Straight </em>M-80 dan dianalisis menggunakan perangkat lunak <em>Wavepad sound editor</em>. Aspek gelombang bunyi ditentukan dengan menggunakan metode <em>Fast Fourier Transform</em> (FFT). Sampel original bunyi sasando tradisional dan sasando elektrik dengan rentang frekuensi dari 86 Hz sampai 1206 Hz dan 97 Hz sampai 1077 Hz. Rentang intensitas dari sasando tradisional dan sasando elektrik secara berturut-turut (-45,95398906) dB sampai (-12,38564365) dB dan (-33,44661942) dB sampai (-9,780729931) dB. Kemudian dengan perangkat lunak excel diperoleh grafik data bunyi sasando tradisional dan sasando elektrik berupa grafik intensitas, frekuensi dan noise. Setelah dilakukan filter terhadap sampel original bunyi sasando tradisional dan sasando elektrik, yang mempengaruhi kualitas gelombang bunyi adalah adalah rentang noise pada sampel bunyi&nbsp; dari pengolahan data -2 dB sampai 0 dB dan -4,22&nbsp; dB sampai -0,14 dB dengan persentase noise 0 % sampai 8,27 % dan 0,57 % sampai 22,76 %. Sebagian besar persentasi noise berpengaruh pada bunyi asli.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata Kunci: Sasando, sampel original, mikrofon <em>Havit Straight </em>M<em>-</em>80, <em>Wavepad sound editor</em>, metode <em>Fast Fourier Transform</em> (FFT), frekuensi, intensitas, noise.</strong></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>Research has been conducted on the identification of aspects of the sound waves of traditional Sasando musical instruments and Sasando electric. The subject of this research is the sound of traditional Sasando musical instruments and Sasando electric type of Sasando violin with 32 strings. The sounds of Sasando musical instruments were recorded with the Havit Straight M-80 microphone and analyzed using Wavepad sound editor software. Sound wave aspects are determined using the Fast Fourier Transform (FFT) method. Original samples of traditional Sasando sound and Sasando electric range in frequency from 86 Hz to 1206 Hz and 97 Hz to 1077 Hz. The intensity ranges from traditional Sasando and Sasando electric are (-45,95398906) dB to (-12,38564365) dB and (-33,44661942) dB to (-9,780729931) dB. Then with Excel software obtained data graphs of traditional Sasando sound and Sasando electric in the form of graphs of intensity, frequency and noise. After filtering the original samples of traditional Sasando sound and Sasando electric, what affects the sound wave quality is the range of noise in the sound sample from data processing of -2 dB to 0 dB and -4.22 dB to -0.14 dB with a percentage of noise 0 % to 8.27% and 0.57% to 22.76%. Most of the noise percentage affects the original sound.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong> <strong><em>Sasando, original sample, Havit Straight M-80 microphone, Wavepad sound editor, Fast Fourier Transform (FFT) method, frequency, </em></strong><strong>intensit</strong><strong>y</strong><strong><em>, noise.</em></strong></p> Martince Aryani Jusuf Kaba ali warsito laura A.S lapono ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2020-10-22 2020-10-22 5 2 100 107 10.35508/fisa.v5i2.1960 OPTIMALISASI PENERIMAAN INTENSITAS CAHAYA MATAHARI PADA PERMUKAAN PANEL SURYA (SOLAR CELL) MENGGUNAKAN CERMIN https://ejurnal.undana.ac.id/FISA/article/view/2243 <p><strong>Abstrak</strong> <br>Energi surya merupakan salah satu energi yang bias dikonversi menjadi energi listrik dengan menggunakan panel surya (photovoltaic solar). Pada penelitian ini, dirancang panel surya dengan cermin datar sebagai reflektor scanning dengan empat buah reflektor pada empat sisi panel surya. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk mendapatkan keluaran panel surya yang optimal menggunakan cemin sebagai media reflektornya dan mendapatkan konfigurasi penempatan cermin untuk meningkatkan keluaran arus dan tegangan panel surya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan melakukan percobaan terhadap objek bahan penelitian dengan kemiringan reflektor cermin 30<sup>o</sup>, 45<sup>o</sup>, dan 60<sup>o</sup>. Dengan penambahan reflector cermin pada panel surya menyebabkan peningkatan keluaran panel surya pada pukul 12.00 Wita. Panel tanpa reflektor mengahasilkan Arus 2,1 Ampere, Tegangan 6,52 Volt. Panel reflektor 30<sup>o&nbsp;</sup>menghasilkan Arus 1,89 Ampere, Tegangan 6,25 Volt, Panel reflektor 45<sup>o</sup>, Arus 2,33 Ampere, Tegangan 6,15 Volt dan Panel reflektor Arus 3,02 Ampere, dan Tegangan 6,41 Volt.<br><strong>Kata kunci</strong>: Energi; fotovoltaik; panel surya; cermin.<br> <br><em><strong>Abstract</strong> </em><br><em>Solar energy is one of the energies that can be converted into electrical energy using solar panels (photovoltaic solar). In this study, a solar panel with a flat mirror as a scanning reflector was designed with four reflectors on the four sides of the solar panel. The objectives to be achieved in this study are to obtain optimal solar panel output using the mirror as a reflector medium and obtain a mirror placement configuration to increase the current and voltage output of the solar panels. The method used in this research is an experimental method by conducting experiments on the object of the research material with a mirror reflector tilt of 30<sup>o</sup>, 45<sup>o</sup>, and 60<sup>o</sup>. With the addition of a mirror reflector on the solar panel, it causes an increase in the output of the solar panel at 12.00 GMT+08. The panel without a reflector produces a current of 2.1 Ampere, a voltage of 6.52 volts. The 30<sup>o</sup>-reflector panel produces a current of 1.89 Amperes, a Voltage of 6.25 Volts, a 450 Reflector Panel, a Current of 2.33 Amperes, a Voltage of 6.15 Volts and a Current 3.02 Amperes of Reflector Panel, and a Voltage of 6.41 Volts.</em></p> <p><em><strong>Keywords</strong>: Energy; photovoltaic; solar panel; mirror</em></p> Soni A Kaban Muhamad Jafri Gusnawati Gusnawati ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2020-10-22 2020-10-22 5 2 108 117 10.35508/fisa.v5i2.2243 ANALISIS POLA HUJAN DAN DISTRIBUSI HUJAN BERDASARKAN KETINGGIAN TEMPAT DI PULAU FLORES https://ejurnal.undana.ac.id/FISA/article/view/2451 <p><strong>Abstrak</strong> <br>Telah dilakukan analisis pola dan distribusi hujan berdasarkan ketinggian tempat di pulau Flores. Data rata-rata bulanan untuk mendapatkan pola curah hujan, data curah hujan harian ke dasarian untuk mendapatkan data curah hujan dan data periode curah hujan selama musim hujan. Penelitian ini menggunakan software Geographic Information System (GIS) untuk membuat peta distribusi curah hujan dan di analisis menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk mendeteksi perbedaan nilai tengah variabel pengamatan pada elevasi yang berbeda. Berdasarkan grafik pola hujan yang ada di pulau Flores adalah pola hujan monsunal. Hasil dari perhitungan menggunakan RAL, diperoleh nilai populasi pengamatan P1 pada ketinggian tempat (0-300 m dpl) dengan curah hujan rata-rata 851,75 mm dan periode musim hujan rata-rata 10,50 dasarian. P2 pada ketinggian tempat (301-600 m dpl) memiliki curah hujan rata-rata 1367,75 mm dan periode musim<br>hujan rata-rata 13,75 dasarian. P3 pada ketinggian tempat (601-900 m dpl) memiliki curah hujan rata-rata 1875,25 mm dan periode musim hujan rata-rata 15,75 dasarian. P4 pada ketinggian tempat (901-1200 m dpl) memiliki curah hujan rata-rata 3164,50 mm dan periode musim hujan rata-rata 22,25 dasarian. Hal ini menunjukan ketinggian tempat memiliki pengaruh terhadap curah hujan dan periode musim hujan di pulau Flores.<br><strong>Kata Kunci</strong>: Pola hujan; curah hujan; periode musim hujan; Geographic Information System (GIS); Rancangan Acak Lengkap (RAL).</p> <p><em><strong>Abstract</strong> </em><br><em>An analysis of rainfall patterns and distribution based on altitude on the island of Flores has been&nbsp;</em><em>done. Monthly average data to get rainfall patterns, daily to basic rainfall data to get rainfall data,&nbsp;</em><em>and rainfall period data during the rainy season. This study used Geographic Information System&nbsp;</em><em>(GIS) software to create rainfall distribution maps and is analyzed using the Completely Randomized&nbsp;</em><em>Design (CRD) method to detect differences in mean values of observational variables at different&nbsp;</em><em>elevations. Based on a chart of rain patterns on Flores island is a monsoonal rain pattern. The&nbsp;</em><em>results of calculations using RAL, observational population obtained values P1 at altitude (0-300&nbsp;</em><em>m asl) with an average rainfall of 851.75 mm and an average rainy season period of 10.50 dasarian.&nbsp;</em><em>P2 at altitude (301-600 m asl) has an average rainfall of 1367.75 mm and an average rainy season&nbsp;</em><em>period of 13.75 dasarian. P3 at altitude (601-900 m above sea level) has an average rainfall of&nbsp;</em><em>1875.25 mm and an average rainy season period of 15.75 dasarian. P4 at altitude (901-1200 m asl)&nbsp;</em><em>has an average rainfall of 3164.50 mm and an average rainy season period of 22.25 dasarian. This&nbsp;</em><em>shows that altitude has an influence on rainfall and the rainy season period on Flores Island.</em></p> <p><em><strong>Keywords</strong>: Rain patterns; rainfall, periods of the rainy season; Geographic Information System&nbsp;</em><em>(GIS); Completely Randomized Design (CRD).</em></p> Elisabet Marlin Lesik Hery Leo Sianturi Apolinaris S Geru Bernandus Bernandus ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2020-10-22 2020-10-22 5 2 118 128 10.35508/fisa.v5i2.2451 PERANCANGAN SISTEM TRANSMISI MESIN PRES BIJI KELOR DENGAN PUTARAN MESIN 1400 RPM https://ejurnal.undana.ac.id/FISA/article/view/2967 <p><strong>Abstrak</strong> <br>Mesin pres biji kelor termasuk jenis mesin hidrolik dengan mekanisme tekan horizontal. Cara kerja mesin pres biji kelor dengan meneruskan daya putaran dari poros melalui media penghantar (fluida) menjadi daya tekan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem transmisi mesin pres biji kelor dengan putaran mesin 1400 rpm, daya 1 Hp dan kapasitas awal 100 gram. Metode penelitian berupa analisis numeric dengan variabel yang disesuaikan. Perancangan system transmisi menggunakan bahan S30C dengan kekuatan tarik 58 kg/mm<sup>2</sup> dan tegangan geser diizinkan 4,83 kg/mm<sup>2&nbsp;</sup>Mesin pres biji kelor menghasilkan kecepatan transmisi 18,70m/s dengan perkiraan waktu pemerasan 2,18 detik. Mesin pengepress biji kelor dengan mekanisme tekan horizontal memiliki hasil perasan yaitu sekitar 15,6% (100 g biji kelor = 16 ml minyak kelor) dengan gaya tarik transmisi 267,54 N. <br><strong>Kata kunci</strong>: Sistem transmisi, putaran mesin, daya, mesin pres<br> <br><strong><em>Abstract</em> </strong><br><em>Moringa seed press is a type of hydraulic machine with a horizontal pressing mechanism. The moringa</em><em>&nbsp;seed press works by passing the rotational power from the shaft through the conveying&nbsp;</em><em>medium (fluid) to become compressive power. This study aims to design a transmission system for the&nbsp;</em><em>moringa seed pressing machine with an engine speed of 1400 rpm, 1 hp power, and an initial&nbsp;</em><em>capacity of 100 grams. The research method is numerical analysis with adjusted variables. The&nbsp;</em><em>design of the transmission system uses S30C material with tensile strength () 58 kg/mm</em><sup><em>2&nbsp;</em></sup><em>and </em><em>allowed shear stress () 4.83 kg/mm</em><sup><em>2</em></sup><em>. The moringa seed pressing machine produces a transmission&nbsp;</em><em>speed of 18.70m/s with an estimated squeeze time of 2.18 seconds. The moringa seed pressing&nbsp;</em><em>machine with a horizontal pressing mechanism has a yield of about 15.6% (100 g of moringa seeds&nbsp;</em><em>= 16 ml of Moringa oil) with a transmission pulling force of 267.54 N.</em><br><em><strong>Keywords</strong>: Transmission system, engine speed, power, pressing machine</em> </p> Rima Nindia Selan Defmit. Riwu Jack Pah ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2020-10-22 2020-10-22 5 2 129 132 10.35508/fisa.v5i2.2967 INTERPRETASI POLA PENYEBARAN BATUAN DAN DAERAH TERAKUMULASI AIR TANAH MENGGUNAKAN METODE MAGNETIK DESA OEMATNUNU KABUPATEN KUPANG https://ejurnal.undana.ac.id/FISA/article/view/2284 <p><strong>Abstrak</strong> <br>Telah dilakukan penelitian interpretasi pola penyebaran batuan dan daerah terakumulasi air tanah menggunakan metode magnetik di Desa Oematnunu Kabupaten Kupang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola sebaran batuan dan daerah terakumulasinya air tanah serta membuat pemetaannya. Akuisisi data dilakukan dengan Proton Precession Magnetometer (PPM) tipe GSM–19T dan data yang diperoleh berupa nilai medan magnet total serta variasi harian yang diolah serta diinterpretasikan secara kualitatif dan kuantitatif. Interpretasi kualitatif menunjukkan nilai anomali medan magnet total berkisar -250 nT sampai 450 nT dan terbagi atas anomali medan magnet rendah pada kisaran -250 nT sampai -10 nT, anomali medan magnet sedang dengan kisaran nilai -10 nT sampai 110 nT serta anomali medan magnet tinggi di kisaran 110 nT sampai 450 nT. Untuk&nbsp; interpretasi kuantitatif menunjukkan struktur batuan yang diduga berupa batu pasir (aquifer) berada&nbsp;di bagian utara hingga barat laut dengan kedalaman sekitar 0 m - 100 m.&nbsp;<br><strong>Kata kunci</strong>: Metode magnetic; suspeptibilitas; akuifer; Oematnunu <br> <br><em><strong>Abstract</strong> </em><br><em>Interpretation of rock distribution patterns and areas groundwater accumulation&nbsp;</em><em>using magnetic methods in Oematnunu Village Kupang District. The purpose of this research was&nbsp;</em><em>to determine the pattern distribution of rocks and areas of groundwater accumulation and to make the&nbsp;</em><em>mapping. The acquisition data was carried out by using the GSM-19T Proton Precession&nbsp;</em><em>Magnetometer (PPM) and the data obtained in the form of total magnetic field values and daily&nbsp;</em><em>variations were processed and interpreted qualitatively and quantitatively. The qualitative&nbsp;</em><em>interpretation shows the total magnetic field anomaly values ranging from -250 nT to 450 nT and is&nbsp;</em><em>divided into low magnetic field anomalies in the range -250 nT to -10 nT, moderate magnetic field&nbsp;</em><em>anomalies with values ranging from -10 nT to 110 nT, and high magnetic field anomalies. in the&nbsp;</em><em>range 110 nT to 450 nT. For quantitative interpretation, it shows the rock structure which is thought&nbsp;</em><em>to be sandstone (aquifer) in the north to the northwest with a depth of about 0 m - 100 m.<br></em><em><strong>Keywords</strong>: Magnetic method; suspension; aquifer; Oematnunu</em></p> Oktavianus Kette Hadi I. Sutaji Bernandus Bernandus ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2020-10-22 2020-10-22 5 2 133 138 10.35508/fisa.v5i2.2284 A QUADRATIC-QUARTIC-QUINTIC (QQQ) PERTURBATION ON HARMONIC OSCILLATOR: HAMILTONIAN MATRIX REPRESENTATION https://ejurnal.undana.ac.id/FISA/article/view/3471 <p><strong>Abstract</strong></p> <p>T<em>his paper discusses a one-dimensional harmonic oscillator system subjected to simultaneous quadratic-quartic-quintic perturbation. The main objective of this paper is to calculate the matrix representation of its Hamiltonian. To keep more generally, these three perturbation terms use different small parameters. The method used in this paper is the standard algebraic method using Dirac notation with the bases that have also been shown. The results of the analysis that has been carried out, it is obtained in the form of the Hamiltonian matrix representation of this system which contains the three different small parameters. If the three parameters are chosen to be zero (without perturbation), the matrix form will be reduced to a standard harmonic oscillator matrix.<br></em><strong>Keywords</strong><strong><em>:&nbsp;</em></strong><em>QQQ perturbation; harmonic oscillator, Hamiltonian matrix representation.</em></p> Herry F. Lalus ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2020-10-22 2020-10-22 5 2 139 144 KAJIAN AWAL SIFAT OPTIK GRAPHENE OXIDE BERBAHAN DASAR ARANG SEKAM PADI DENGAN METODE LIQUID PHASE EXFOLIATION MENGGUNAKAN ALAT BANTU BLENDER DAN ULTRASONIC CLEANER https://ejurnal.undana.ac.id/FISA/article/view/3472 <p><strong>Abstrak<br></strong>Penelitian tentang kajian awal sifat optik Graphene Oxide (GO) berbahan dasar arang sekam padi dengan metode Liquid Phase Exfoliation (LPE) menggunakan alat bantu blender dan Ultrasonic Cleaner telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh variasi waktu sintesis GO menggunakan blender, ultrasonifikasi, dan blender yang dilanjutkan dengan ultrasonifikasi pada sifat optik GO, berdasarkan pada hasil karakterisasi UV-Vis. Dengan menggunakan alat bantu tersebut dilakukan variasi waktu 1 jam, 2 jam, dan 3 jam. Larutan didiamkan semalam, diambil bagian yang terangkat ke permukaannya dan dipisahkan. Kemudian bagian yang dipisahkan tersebut diencerkan dengan menggunakan aquades. Hasil tersebut dikarakterisasi menggunakan Spektrometer UV-Vis untuk mendapatkan spektrum serapannya. Berdasarkan hasil analisis spektrum dari ketiga perlakuan diperoleh jangkauan spektrum berada dalam range 200 nm sampai 400 nm. Nilai puncak serapan maksimum pada perlakuan blender 1 jam, 2 jam dan 3 jam secara berturut – turut adalah 3,319; 3,333dan 3,983 pada masing – masing panjang gelombang 223 nm; 222 nm dan 223 nm. Nilai puncak serapan maksimum pada perlakuan ultrasonifikasi 1 jam, jam dan 3 jam secara berturut – turut adalah 2,466; 2,115 dan 1,877 pada masing – masing panjang gelombang 223 nm; 223 nm dan 224 nm. Nilai puncak serapan maksimum pada perlakuan blender yang dilanjutkan dengan ultrasonifikasi 1 jam, 2 jam dan 3 jam secara berturut – turut adalah 2,777; 1,838; dan 1,961 pada masing – masing panjang gelombang 224 nm; 223 nm dan 224 nm. Berdasarkan nilai puncak serapan dan rentang panjang gelombang yang diperoleh dari hasil karakterisasi spektrometer UV-Vis, dapat disimpulkan bahwa material GO berhasil disintesis dalam penelitian ini. Dari hasil perbandingan spektrum ketiga perlakuan di atas, sintesis GO dengan metode LPE dengan alat bantu blender menghasilkan GO dengan konsentrasi yang paling tinggi dan waktu mempengaruhi jumlah konsenterasi GO yang dihasilkan.<br><strong>Kata kunci:</strong> GO; LPE, blender; ultrasonifikasi; blender-ultrasonifikasi.</p> <p><em><strong>Abstract<br></strong></em><em>A preliminary study on the optical properties of Graphene Oxide (GO) from rice husk charcoal with the Liquid Phase Exfoliation (LPE) method using a blender and ultrasonic cleaner treatment has been done. The purpose of this research is to determine the influence of the time variation of GO synthesis using a blender, ultrasonication, and blender followed by ultrasonication on the optical properties of GO, based on the results of UV-Vis characterization. With the use of the treatment tools, we made 1 hour, 2 hours, and 3 hours’ time variations respectively. The solution was left overnight, then the raised portion on the surface was separated from the solution. The separated parts were diluted using equates and then characterized using the UV-Vis spectrometer to obtain its absorption spectrum. Based on the results of the spectrum analysis of the three treatments, spectrum coverage is obtained in the range of 200 nm to 400 nm. The maximum absorption coefficients from the 1 – hour, 2 – hour, and 3 – hour blender treatment were 3.319; 3.333, and 3.983 at 223 nm, 222 nm, and 223 nm respectively. The corresponding values from ultrasonication treatment were 2.466; 2.115 and 1.877 at 223 nm, 223 nm, and 224 nm respectively, and those from the blender treatment followed by ultrasonication were 2.777; 1.838 and 1.961 at 224 nm, 223 nm, and 224 nm respectively. Based on the absorption coefficients and the wavelength range obtained from UV-Vis spectrometer characterization results, it can be concluded that the GO material was successfully synthesized in this research. From the comparisons of the three treatments, GO synthesized using the LPE method with the blender treatment yields GO with the highest concentration, and time affects the number of GO concentrations produced.<br></em><em><strong>Keywords:</strong> GO, LPE, Blender, Ultrasonication, Blender- ultrasonication.</em></p> Intan Riani Solo Minsyahril Bukit Albert Z. Johannes Redi K. Pingak ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2020-10-22 2020-10-22 5 2 145 148 PEMULIAAN TANAMAN KACANG TUNGGAK (VIGNA UNGUILATA) LOKAL MALAKA DENGAN METODE IRRADIASI MULTIGAMMA https://ejurnal.undana.ac.id/FISA/article/view/3539 <p><strong>Abstrak</strong> <br>Kacang tunggak (vigna unguilata) merupakan tanaman palawija berpolong yang telah lama dikenal oleh masyarakat NTT sebagai bahan makanan bergizi yang biasanya dimasak bersama nasi. Tingkat produktivitas kacang tunggak sangat dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain penggunaan varietas unggul, kesuburan tanah serta teknik budidayanya. Oleh karena itu untuk meningkatkan produktivitas kacang tunggak pada lahan kering dilakukan penelitian untuk mengetahui dan untuk mendapat varietas unggul, dengan menggunakan teknik radiasi multigamma. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan radiasi multigaamma dengan dosis 1000 rads, 2000 Rads, 3000 Rads, 4000 Rads. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan dosis radiasi terbaik terdapat pada dosis 2000 Rads. Katakteristik fisis unggul yang diperoleh meliputi tumbuh lebih cepat, tinggi tanaman 205,5 cm, umur panen lebih singkat yaitu 80 hari setelah tanam, jumlah produksi lebih tinggi yaitu 43, 67 gram/ 100 biji dan kandungan protein 19, 679%. <br><strong>Kata kunci</strong>: Pemuliaan; kacang tungga; irradias; multigamma.</p> <p><em><strong>Abstract</strong> </em><br><em>The cowpea (vigna unguilata) is a sprouted palawija plant that has long been known by the people&nbsp;</em><em>of NTT as a nutritious food ingredient that is usually cooked with rice. The productivity level of&nbsp;</em><em>cowpea is strongly influenced by many factors including the use of improved varieties, soil fertility&nbsp;</em><em>and cultivation techniques. Therefore, to increase the productivity of cowpea on dry land, a research&nbsp;</em><em>was conducted to find out and to get superior varieties, using multigamma radiation techniques. The&nbsp;</em><em>method used in this research is to use multigaamma radiation at a dose of 1000 rads, 2000 Rads,&nbsp;</em><em>3000 Rads, 4000 Rads. The results showed that the use of the best radiation dose was found at a&nbsp;</em><em>dose of 2000 Rads. The superior physical catabolism obtained includes growing faster, plant height&nbsp;</em><em>205.5 cm, shorter harvest life, 80 days after planting, the number of production is higher, 43.67&nbsp;</em><em>gram / 100 seeds and protein content 19, 679%.&nbsp;<br></em><em><strong>Keywords:</strong> Breeding; cowpea; irradiation; multigamma.</em></p> Adelina Bete Jehunias Leonidas Tanesib Bartholomeus Pasangka ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2020-10-22 2020-10-22 5 2 149 155 VISUALISASI FENOMENA KOMBINASI DIFRAKSI DAN INTERFERENSI PADA CELAH GANDA MEMANFAATKAN METODE SECANT BERBASIS PEMROGRAMAN DELPHI https://ejurnal.undana.ac.id/FISA/article/view/3540 <p><strong>Abstrak</strong> <br>Telah dilakukan penelitian tentang visualisasi fenomena kombinasi difraksi dan interferensni pada celah ganda dengan tujuan menerapkan metode secant untuk memperoleh solusi jarak terang pusat ke terang dengan intensitas tertentu dan memperoleh grafik 2 dimensi dari distribusi intensitas cahaya. Solusi jarak terang pusat (intensitas maksimum) ke terang dengan intensitas tertentu padakasuskombinasi difraksi dan interferensi pada celah ganda diperoleh dengan mencari akar-akar persamaan intensitascahayanya.Dari hasil perhitungan grafis dan komputasi diperoleh solusi jarak terang pusat ke terang dengan intensitas tertentu.Pada nilai perbandingan 0.6I0, metode grafis dengan rentang nilai x dari 0.00877 sampai 0.0088 diperoleh nilai jarak terang pusat ke terang dengan intensitas tertentu sebesar 0.008781 mm. Sedangkan pada metode komputasi dengan nilai tebakan 0.005 dan 0.264 diperoleh nilai jarak 0.00878129 mm. Dari dua variasi yang digunakan<br>dapat dilihat bahwa pada variasi panjang gelombang, 500 nm, 550 nm, dan 600 nm diperoleh interval pita terang pusat berturut-turut dari -0.0094392 mm sampai 0.00943919 mm, -0.0103831 mm sampai 0.01038311 mm, dan-0.011327 mm&nbsp; sampai 0.01132703 mm. Kemudian pada variasi jarak celah ke layar 500 mm, 550 mm, dan 600 mm diperoleh nilai interval pita terang berturut-turut dari&nbsp; -0.0103831mm sampai 0.01038311 mm, -0.01142142 mm sampai 0.01142142 mm, dan -0.0124597 mm sampai 0.01245973 mm.<br><strong>Katakunci</strong>: Difraksi; interferensi; Celah Ganda; Intensitas, Secant</p> <p><em><strong>Abstract </strong></em><br><em>Research on the visualization of diffraction and interference combination phenomena on double slits has been carried out to apply the secant method for determining the solution of the maximum distance intensity to bright with the certain intensity and obtaining a two graph of the light intensity distribution. The solution of the maximum distance intensity to bright with a certain intensity is obtained by looking for the roots of the light intensity equation.From the result of calculation</em><br><em>graphical and computationally have gotten the solution of the maximum distance intensity to bright with a certain intensity. On the comparison value 0.6I0, a graph method with the interval from 0.00877 to 0.0088 is gotten the maximum distance intensity luminous with a certain intensity of 0.008781 mm. Meanwhile, on computational methods with the guessed value, 0.005 to 0.264 is reached distance value 0.00878129 mm. From two variation used, can be viewed that on wavelength variation 500 nm, 550 nm, 600 nm, are obtained a central light band interval successively from -0.0094392 mm to 0.00943919 mm, -0.0103831 mm to 0.01038311 mm, and 0.011327 mm to 0.01132703 mm. Then in the variation of the gap distance to the screen of&nbsp;500 mm, 550 mm, and 600 mm, the values of the&nbsp;bright band intervals are obtained from -0.0103831 mm&nbsp;to 0.01038311 mm, -0.01142142 mm to&nbsp;0.01142142&nbsp;mm, and -0.0124597 mm to 0.01245973&nbsp;mm.&nbsp;</em><br><em><strong>Keywords</strong>: Diffraction; Interference; double slits; intensity; and secant.</em></p> Valerianus Jehadu Ali Warsito Albert Zicko Johannes Andreas Christian Louk ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2020-10-22 2020-10-22 5 2 156 162 PENGARUH WAKTU PERENDAMAN DAN MEDIA PERENDAMAN TERHADAP KEKUATAN TARIK KOMPOSIT OPEN HOLE DISCONTINUOUS KULIT BUAH KELAPA MATRIKS POLYESTER https://ejurnal.undana.ac.id/FISA/article/view/3541 <p><strong>Abstrak</strong> <br>Pemanfaatan serat alam sebagai pengikat pada komposit sudah banyak digunakan, diantaranya Seratb buah lontar, serat daun gewang, serat widuri, serat nenas, serat kelapa dan masih banyak serat lainnya. Perkembangan teknologi, sifat fisika-kimia serat, dan kesadaran konsumen untuk kembali ke bahan alami, membuat serat sabut kelapa dimanfaatkan menjadi bahan baku industri karpet, jok dan dashboard kendaraan, kasur, bantal, dan hardboard. Serat sabut kelapa yang dikombinasikan dengan resin sebagai matriks akan dapat menghasilkan alternatif yang salah satunya aplikasi material yang mendukung pemanfaatan komposit. Dalam penelitian ini, dilakukan analisis pengaruh waktu perendaman dan media perendaman terhadap kekuatan tarik komposit open hole discontinuous kulit buah kelapa matriks polyester. Dalam pengujian kekuatan tarik matriks dan komposit open hole discontinuous menggunkan standar ASTM D5766. Dari pengujian tarik yang dilakukan terhadap spesimen uji, diperoleh data rata-rata beban pengujian untuk setiap jenis komposit yaitu komposit tanpa perendaman memiliki beban tarik putus tertinggi dengan nilai rata-rata sebesar 2013 N, pada komposit yang diberi perlakuan perendaman air tawar 1 hari memilik beban tarik putus dengan nilai rata-rata teringgi 1777 N, dan nilai rata-rata beban tarik putus terendah adalah pada komposit yang diberi perlakuan perendaman air tawar 21 hari dengan nilai beban tarik putus terendah 1477 N. Sedangkan pada perlakuan perendaman air laut 1 hari memiliki nilai beban tarik putus rata-rata tertinggi sebesar 1733 N dan nilai rata-rata beban tarik putus terendah ialah pada komposit yang diberi perlakuan perendaman air laut 21 hari dengan nilai terendah 1380 N. <br><strong>Kata Kunci</strong>: komposit, serat alam, kulit kelapa, uji tarik.<br> <br><em><strong>Abstract</strong>&nbsp;</em><br><em>The use of natural fibers as a binder on composites has been widely used, including palm fiber, gewang&nbsp;</em><em>leaf fiber, thistle fiber, pineapple fiber, coconut fiber and many other fibers. Technological&nbsp;</em><em>developments, physical-chemical properties of fiber, and consumer awareness to return to natural&nbsp;</em><em>materials, make coconut fiber fibers used as raw materials for the industry of carpets, seats and vehicle&nbsp;</em><em>dashboards, mattresses, pillows and hardboards. Coconut coir fibers combined with resin as a matrix&nbsp;</em><em>will be able to produce alternatives, one of which is the application of materials that support the use of&nbsp;</em><em>composites. In this study, an analysis of the effect of immersion time and immersion media on the tensile&nbsp;</em><em>strength of open hole composites was analyzed by discontinuous coconut shells of polyester matrix. In&nbsp;</em><em>testing the tensile strength of the matrix and open hole discontinuous composites using the ASTM D5766&nbsp;</em><em>standard. From the tensile testing performed on the test specimens, the average test load for each type</em><br><em>of composite is obtained without the immersion composite having the highest drop pull load with an&nbsp;</em><em>average value of 2013 N, in the composite treated with fresh water immersion 1 day has a load tensile&nbsp;</em><em>drop with the highest average value of 1777 N, and the&nbsp; lowest average tensile pull load is on the&nbsp;</em><em>composite treated with 21 days freshwater immersion with the lowest drop load value of 1477 N. While&nbsp;</em><em>the treatment of sea water immersion 1 day has a value the highest average drop-out load is 1733 N&nbsp;</em><em>and the lowest average tensile pull load is in the composite treated with 21 days sea water immersion&nbsp;</em><em>with the lowest value of 1380 N.</em><br><em><strong>Keywords</strong>: composite, natural fiber, skin fiber, strain test.</em> </p> Dominggus G. H. Adoe Defmit B. N. Riwu Yoffial D. Banani ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2020-10-22 2020-10-22 5 2 163 167