IDENTIFIKASI JENIS, KEPADATAN, DAN KOMPOSISI SAMPAH LAUT (MARINE DEBRIS) DI EKOSISTEM LAMUN PADA AREA BUDIDAYA RUMPUT LAUT Eucheuma cottonii DI DESA OENGGAE, ROTE NDAO

  • Valeriani Claudia Eso(1*)
    Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana
  • Ismawan Tallo(2)
    Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana
  • Yahyah Yahyah(3)
    Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana
  • Aludin Al Ayubi(4)
    Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana
  • (*) Corresponding Author

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis, kepadatan, dan komposisi sampah laut (marine debris) ekosistem lamun di area budidaya rumput laut Eucheuma cottonii di Desa Oenggae, Kabupaten Rote Ndao. Penelitian dilaksanakan pada Juli 2025 menggunakan metode deskriptif kuantitatif melalui observasi lapangan dengan transek kuadrat berukuran 1 × 1 m² pada tiga stasiun yang mewakili tingkat aktivitas manusia berbeda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima jenis lamun, yaitu Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halodule pinifolia, Halophila ovalis, dan Syringodium isoetifolium. Sebanyak 101 item sampah laut ditemukan terdiri atas plastik, karet, kain, logam, kertas dan karton, serta kayu. Sampah plastik menjadi jenis paling dominan dengan jumlah 77 item atau 76,2% dari total sampah. Kepadatan dan komposisi sampah tertinggi ditemukan pada Stasiun III yang berdekatan dengan area budidaya rumput laut, yaitu sebesar 1,6 item/m² dengan komposisi 88,9%, sedangkan Stasiun II memiliki kepadatan terendah sebesar 0,80 item/m² dengan komposisi 64,0%. Dominasi sampah plastik diduga dipengaruhi aktivitas budidaya rumput laut, kegiatan pelabuhan, dan aktivitas masyarakat pesisir. Hasil penelitian menegaskan aktivitas manusia berkontribusi terhadap akumulasi sampah laut pada ekosistem lamun sehingga diperlukan pengelolaan sampah yang efektif, peningkatan kesadaran masyarakat, serta upaya konservasi berkelanjutan untuk menjaga kualitas lingkungan pesisir.

Kata kunci: sampah laut, ekosistem lamun, Eucheuma cottonii, komposisi sampah, Desa Oenggae.

 

Abstract: This study aimed to identify the types, density, and composition of marine debris in the seagrass ecosystem within the Eucheuma cottonii seaweed farming area in Oenggae Village, Rote Ndao Regency. The study was conducted in July 2025 using a descriptive quantitative approach through field observations with a 1 × 1 m² quadrat transect method at three sampling stations representing different levels of human activities. The results identified five seagrass species, namely Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halodule pinifolia, Halophila ovalis, and Syringodium isoetifolium. A total of 101 marine debris items were recorded, consisting of plastic, rubber, fabric, metal, paper and cardboard, and wood. Plastic debris was the dominant category, accounting for 77 items (76.2%) of the total debris collected. The highest debris density and composition were recorded at Station III, located near the seaweed farming area, with a density of 1.6 items/m² and a composition of 88.9%, while Station II had the lowest density, with 0.80 items/m² and a composition of 64.0%. The dominance of plastic debris is likely associated with seaweed farming activities, port operations, and coastal community activities. These findings indicate that human activities contribute significantly to marine debris accumulation in seagrass ecosystems, highlighting the need for effective waste management, increased public awareness, and sustainable conservation efforts to protect coastal ecosystems.

Keywords: marine debris, seagrass ecosystem, Eucheuma cottonii, debris composition, Oenggae Village.

Downloads

Download data is not yet available.

PlumX Metrics

Published
2026-10-10