PRAKIRAAN KESESUAIAN PERAIRAN UNTUK BUDI DAYA RUMPUT LAUT DI WPPNRI 715

  • Romanu Dwi Sasongko Balai Riset dan Observasi Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan
  • Bayu Priyono Balai Riset dan Observasi Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan
  • Dessy Berlianty Balai Riset dan Observasi Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan
  • Wingking Era Rintaka Balai Riset dan Observasi Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan

Abstract

Abstrak – Pemanfaatan output model numerik laut dapat digunakan untuk mengetahui kondisi dan dinamika perairan laut dalam bentuk informasi spasio-temporal serta memperkirakan potensi daya dukung perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesesuaian perairan terhadap potensi budi daya rumput laut di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 715 yang meliputi Teluk Tomini, Laut Maluku, Laut Halmahera, Laut Seram, dan Teluk Berau dengan menggunakan analisa scoring dan weighting (pembobotan). Data yang digunakan adalah data oseanografi fisik dan biologi dengan resolusi spasial 5 menit, terdiri dari  kedalaman perairan (ETOPO5), tinggi gelombang, kecepatan arus, suhu, salinitas, kecerahan,  pH, fosfat, nitrat, dan amonia yang merupakan produk dari Copernicus Marine Environment  Monitoring Service (CMEMS). Untuk validasi, digunakan data dari Argofloat, buoy pantai, dan satelit. Seluruh data diintegrasi dan disusun dalam format netCDF menggunakan software ferret. Validasi data suhu dan salinitas dari model CMEMS dengan data observasi diperoleh selisih nilai yaitu 0.25 ± 0.65 0C untuk suhu dan -0.10 ± 0.14 psu untuk salinitas, sehingga data model dapat digunakan sebagai input model. Topografi  perairan pantai di WPPNRI 715 sebagian besar curam dengan karakteristik kedalaman perairan  yang bertambah secara signifikan dengan bertambahnya jarak dari garis pantai. Pada perhitungan skor kesesuaian area budi daya, pembobotan batimetri merupakan faktor dominan sebesar 90% pada formula submodel fisik. Oleh sebab itu, hasil perkiraan kawasan yang sesuai untuk budi daya rumput laut di WPPNRI 715 terletak di sebagian kecil Maluku, Kepulauan Raja Ampat, dan Teluk Berau di Papua, dengan nilai skor kesesuaian yaitu 3 hingga 4 yang relatif  tetap pada setiap bulannya, mengikuti faktor dominan kondisi batimetri yang relatif tidak berubah. 

Kata Kunci: Kesesuaian Perairan, Budi Daya Rumput Laut, WPPNRI 715, Model Oseanografi 

 

Abstract – The output of marine numerical model can be used to determine the conditions and marine waters dynamics in the form of spatio-temporal information and estimate the carrying capacity potential of the sea waters. The aim of study is to identify the suitability of the waters for seaweed cultivation potential in the Fisheries Management Area of the Republic of Indonesia (WPPNRI) 715 which includes Tomini Bay, Maluku Sea, Halmahera Sea, Seram Sea, and Berau Bay using scoring and weighting analysis. The 5 minutes resolution in temporal of physical and biological oceanographic data is used. Consist of water depth (ETOPO5), wave height, current speed, temperature, salinity, brightness, pH, phosphate, nitrate, and ammonia which are products of the Copernicus Marine Environment. Monitoring Service (CMEMS). For validation, data from Argofloat, coastal buoys, and satellite dataFerret software were used to integrate and compile in netCDF format. Validation of temperature and salinity data from the CMEMS model with observation obtained a difference in values of 0.25 ± 0.65 0C for temperature and -0.10 ± 0.14 PSU for salinity. These values assumed that the numerical model data can be used as cultivation model input. The topography of the coastal waters in WPPNRI  715 is mostly steep, indicated by the depth of water increases significantly from the shoreline. In the suitability score calculation of the cultivation area, the bathymetri is the dominant factor (90 % of weighting) in the physical submodel formula. Therefore, the results of suitable areas estimation for seaweed cultivation in WPPNRI 715 are located in a few part of Maluku, Raja Ampat Islands, and Berau Bay in Papua. These areas have suitability score of 3 to 4 which is relatively constant by the time following the unchanging bathymetri as dominant factor. 

Keywords: water suitability, seaweed cultivation, WPPNRI 715, oceanographic numerical model

Published
2021-10-25