https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/issue/feed Jurnal Bahari Papadak 2026-11-01T07:16:00+00:00 Dr. Ir. Yahyah, M.Si yahyahrachim@gmail.com Open Journal Systems <p>Jurnal Bahari Papadak adalah sebuah jurnal nasional dalam bidang ilmu kelautan dan perikanan yang dikelola oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana. Tujuan utamanya adalah menyajikan artikel-artikel hasil riset atau penelitian yang berkualitas yang meliputi semua sub-bidang kajian dalam lingkup ilmu kelautan dan perikanan. Jurnal ini menyediakan ruang publikasi bagi akademisi, peneliti, mahasiswa dan kalangan professional lainnya. Artikel ilmiah yang diajukan untuk diterbitkan dalam jurnal ini harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu, merupakan paper asli (bebas plagiarisme), tidak dipublikasikan atau tidak sedang diajukan ke jurnal lain. Lingkup topik Jurnal Bahari Papadak meliputi manajemen sumberdaya perairan, perikanan tangkap, pengolahan hasil perikanan, sosial ekonomi perikanan, ilmu kelautan, bioteknologi perikanan, biologi dan ekologi biota perairan, serta penilaian dan pengelolaan ekosistem perairan.</p> <p>ISSN Online :&nbsp;<strong>2723-6536</strong></p> <p>Waktu Terbit : Bulan April dan Oktober</p> <p>Email : baharipapadak@gmail.com</p> https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/article/view/30746 ANALISIS RANTAI PEMASARAN TERIPANG YANG TERTANGKAP OLEH NELAYAN DI DESA PAPELA, KECAMATAN ROTE TIMUR, KABUPATEN ROTE NDAO 2026-10-18T03:02:09+00:00 Rendy Esaul Bessie rendyesaul@gmail.com Yahyah Yahyah yahya@staf.undana.ac.id Aludin Al Ayubi aludinayubi@staf.undana.ac.id Kiik Gretty Sine kiik.sine@staf.undana.ac.id <p><strong>Abstrak :</strong> Teripang merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang berperan penting bagi pendapatan masyarakat pesisir di Indonesia timur. Namun, nilai ekonomi tersebut belum sepenuhnya meningkatkan kesejahteraan nelayan akibat permasalahan dalam sistem pemasaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur rantai pemasaran dan margin pemasaran teripang di Desa Papela, Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur terhadap 15 responden yang terdiri dari nelayan, pengumpul, dan pedagang, serta didukung data sekunder. Analisis dilakukan terhadap rantai pemasaran, margin pemasaran, margin relatif, dan Fisher’s share. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rantai pemasaran teripang bersifat vertikal dan tertutup, dengan pengumpul sebagai aktor dominan dalam penguasaan modal dan akses pasar. Nelayan hanya menerima 29,17% dari harga jual akhir, sementara pengumpul dan pedagang memperoleh margin lebih besar. Rendahnya Fisher’s share mengindikasikan bahwa sistem pemasaran belum efisien dan belum berpihak pada nelayan, sehingga diperlukan penguatan kelembagaan nelayan dan peningkatan transparansi harga.</p> <p>Kata Kunci: Teripang; Rantai Pemasaran; Margin Pemasaran; Fisher’s share; Nelayan Pesisir.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstract :</strong> <em>Sea cucumbers are high-value fishery commodities that play an important role in supporting the livelihoods of coastal communities in eastern Indonesia. However, their high economic value has not fully improved fishermen’s welfare due to problems within the marketing system. This study aims to analyze the structure of the marketing chain and marketing margins of sea cucumbers in Papela Village, East Rote District, Rote Ndao Regency. The study employed a descriptive method with a quantitative approach. Data were collected through structured interviews with 15 respondents, consisting of fishermen, collectors, and traders, supported by secondary data. The analysis focused on marketing chains, marketing margins, relative margins, and Fisher’s share. The results indicate that the sea cucumber marketing chain is vertical and closed, with collectors acting as the dominant actors in controlling capital and market access. Fishermen receive only 29.17% of the final selling price, while collectors and traders obtain larger margins. The low Fisher’s share indicates that the marketing system is inefficient and does not favor fishermen, highlighting the need for strengthening fishermen’s institutions and improving price transparency.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Sea Cucumber; Marketing Chain; Marketing Margin; Fisher’s Share; Coastal Fishermen.</em></p> 2026-10-04T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/article/view/30748 KONSTRUKSI RAWAI DASAR YANG DIGUNAKAN OLEH NELAYAN DI PPP TENAU, KUPANG 2026-10-18T03:24:25+00:00 Theresia Kutan iralamatapo@gmail.com Kiik Gretty Sine kiik.sine@staf.undana.ac.id Winster Larwuy winster_larwuy@staf.undana.ac.id Ismawan Tallo ismawantallo@staf.undana.ac.id <p><strong>Abstrak: </strong>Rawai dasar (<em>bottom longline</em>) merupakan salah satu alat tangkap yang banyak digunakan nelayan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tenau, Kota Kupang. Alat tangkap ini dinilai efektif untuk menangkap ikan demersal, mudah dioperasikan, serta memiliki biaya operasional relatif rendah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konstruksi rawai dasar yang digunakan nelayan di PPP Tenau. Penelitian dilaksanakan pada Juli–Agustus 2025 menggunakan metode survei. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi pada 10 nelayan pemilik/nakhoda kapal rawai dasar yang dipilih secara <em>purposive sampling</em>. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk menggambarkan karakteristik komponen dan ukuran konstruksi rawai dasar. Hasil penelitian menunjukkan konstruksi rawai dasar terdiri atas tali utama (<em>main line</em>), tali cabang (<em>branch line</em>), mata pancing, umpan, pemberat, dan pelampung/penanda. Panjang tali utama berkisar 180–5.000 m dengan bahan nylon atau senar, tali cabang 1–5 m, ukuran mata pancing nomor 5–12, dengan umpan yang umum digunakan meliputi ikan layang, selar, tongkol, kembung, tembang, dan lemuru, dan pemberat umumnya berupa besi atau semen cor, serta pelampung menggunakan plastik kapsul dan/atau bendera penanda.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong>: Rawai dasar, konstruksi alat tangkap, PPP Tenau, Kota Kupang.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong><em>Abstract: </em></strong><em>Bottom longline is a fishing gear widely used by fishers at the Tenau Coastal Fisheries Port (PPP Tenau), Kupang, because it is effective for catching demersal fish, easy to operate, and relatively low-cost. This study aimed to describe the construction of bottom longline gear used by fishers at PPP Tenau. The research was conducted in July–August 2025 using a survey method. Data were collected through observation, interviews, and documentation from 10 bottom-longline boat owners/skippers selected by purposive sampling. Data were analyzed using descriptive quantitative methods to characterize the components and dimensions of the gear. The results show that the bottom longline consists of a main line, branch lines, hooks, bait, sinkers/weights, and floats/markers. Main line length ranged from 180 to 5,000 m (nylon or monofilament), branch lines ranged from 1 to 5 m, hook sizes ranged from No. 5 to No. 12, commonly used baits included scad, sardine, tuna, and related small pelagic fish, weights were typically made of iron or cast cement, and floats/markers used plastic capsules and/or flag markers.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: Bottom longline</em><em>, fishing gear construction, PPP Tenau, Kupang.</em></p> 2026-10-10T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/article/view/30749 ANALISIS PENDAPATAN NELAYAN ALAT TANGKAP RAWAI DASAR (MINI BOTTTOM LONGLINE) DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI TENAU KUPANG 2026-10-18T03:33:23+00:00 Maria Selviana Luruk selvinahak318@gmail.com Alexander Leonidas Kangkan alexanderkangkan@staf.undana.ac.id Lady Cindy Soewarlan cindysoewarlan@staf.undana.ac.id <p><strong>Abstrak:</strong> Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi sosial ekonomi nelayan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tenau Kupang yang masih menghadapi ketidakpastian pendapatan akibat hasil tangkapan yang dipengaruhi musim, cuaca, serta biaya operasional penangkapan. Padahal sektor perikanan memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, khususnya nelayan rawai dasar (<em>mini bottom long line).</em> Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan nelayan alat tangkap rawai dasar di PPP Tenau Kupang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan pendekatan kuantitatif dan didukung analisis deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap 17 responden nelayan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data yang dianalisis meliputi biaya tetap, biaya operasional, penerimaan, dan pendapatan bersih nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan nelayan rawai dasar dipengaruhi oleh jumlah hasil tangkapan, jenis ikan, harga jual ikan, serta besarnya biaya operasional yang dikeluarkan selama kegiatan penangkapan. Sistem bagi hasil antara pemilik dan nahkoda juga memengaruhi besarnya pendapatan yang diterima nelayan di PPP Tenau Kupang.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> pendapatan nelayan, rawai dasar, biaya operasional, penerimaan, PPP.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em>: This research is motivated by the socio-economic conditions of fishermen at the Tenau Kupang Coastal Fishing Port (PPP), who still face income uncertainty due to catches influenced by seasons, weather, and fishing operational costs. However, the fisheries sector has great potential in improving the welfare of coastal communities, especially bottom long line fishermen. This study aims to analyze the income of bottom long line fishermen at the Tenau Kupang Coastal Fisheries Port (PPP). The research method used is a survey method with a quantitative approach and supported by qualitative descriptive analysis. Data collection was conducted through interviews, observations, and documentation of 17 fishermen selected using a purposive sampling technique. The data analyzed included fixed costs, operational costs, revenues, and net income. The results showed that the income of bottom longline fishermen was influenced by the amount of catch, fish species, fish selling price, and the amount of operational costs incurred during fishing activities. The profit-sharing system between the owner and the captain also influenced the amount of income received by fishermen at the Tenau Kupang PPP.</em></p> <p><strong>Keywords</strong>: <em>fishermen's income, bottom longline, operational costs, revenue, PPP</em><em>.</em></p> 2026-10-10T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/article/view/30954 HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP BUBU LIPAT YANG DIGUNAKAN NELAYAN DI PANTAI ANTONIFUI, DESA TUAMESE KECAMATAN BIBOKI ANLEU, KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA 2026-11-01T05:56:16+00:00 Vegrenia Thresimar Du’a Paceli grenipaseli@gmail.com Alexander Leonidas Kangkan alexanderkangkan@staf.undana.ac.id Kiik Gretty Sine kiik.sine@staf.undana.ac.id <p><strong>Abstrak: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis hasil tangkapan yang diperoleh dari penggunaan alat tangkap bubu lipat oleh nelayan di Pantai Antonifui, Desa Tuamese, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi langsung terhadap proses pemasangan dan pengangkatan bubu lipat, serta dokumentasi hasil tangkapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bubu lipat menghasilkan dua jenis tangkapan utama, yaitu ikan nila (<em>Oreochromis niloticus</em>) dan ikan bandeng (<em>Albula forsteri</em>), serta satu tangkapan sampingan berupa kepiting bakau (<em>Scylla serrata</em>). Hasil tangkapan menunjukkan konsistensi selama periode operasi, dengan kisaran total tangkapan 6–12 kg per operasi. Variasi ukuran ikan yang tertangkap mengindikasikan keberadaan populasi multi-kohort yang mendukung regenerasi stok perikanan. Temuan ini menegaskan bahwa penggunaan bubu lipat di Pantai Antonifui masih tergolong efektif dan berpotensi ramah lingkungan, serta dapat mendukung pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan sesuai prinsip CCRF.</p> <p><strong>Kata </strong><strong>k</strong><strong>unci:</strong> Bubu lipat, hasil tangkapan, ikan nila, ikan bandeng, kepiting bakau, Pantai Antonifui, perikanan berkelanjutan.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstract: </em></strong><em>This study aims to identify the types of catches obtained from the use of collapsible traps by fishermen at Antonifui Beach, Tuamese Village, Biboki Anleu District, North Central Timor Regency. Data collection was conducted through interviews, direct observation of the installation and removal of the collapsible traps, and documentation of the catch. The results indicate that the collapsible traps produced two main catches: tilapia (Oreochromis niloticus) and milkfish (Albula forsteri), as well as one bycatch of mud crab (Scylla serrata). The catches showed consistency throughout the operational period, with a total catch range of 6–12 kg per operation. Variations in the size of the fish caught indicate the presence of a multi-cohort population that supports fishery stock regeneration. These findings confirm that the use of collapsible traps at Antonifui Beach is still considered effective and potentially environmentally friendly, and can support the sustainable use of fishery resources in accordance with the CCRF principles.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Collapsible traps, catch, tilapia, milkfish, mud crab, Antonifui Beach, sustainable fisheries.</em></p> 2026-10-10T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/article/view/30955 ANALISIS KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN MAKROALGA DI PANTAI OENGGAE KABUPATEN ROTE NDAO PADA LOKASI BUDIDAYA RUMPUT LAUT EUCHEUMA COTTONI 2026-11-01T06:02:23+00:00 Yunani A. J. Klau yunaniklau@gmail.com Ismawan Tallo ismawantallo@staf.undana.ac.id Yahyah Yahyah yahya@staf.undana.ac.id Chaterina Agusta Paulus chatepaulus@undana.ac.id <p>Abstrak: Makroalga merupakan komponen penting ekosistem pesisir yang berperan sebagai produsen primer serta memiliki nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis keanekaragaman, kelimpahan, penyebaran, dan dominansi makroalga pada lokasi budidaya <em>Eucheuma cottonii</em> di Pantai Oenggae, Kabupaten Rote Ndao. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik transek kuadran pada tiga stasiun pengamatan. Analisis data meliputi kelimpahan, indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H'), <em>evenness </em>indeks (E), dan indeks dominansi Simpson (D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 12 jenis makroalga yang tergolong ke dalam tiga filum, yaitu Rhodophyta, Chlorophyta, dan Heterokontophyta, dengan total 503 individu. Nilai indeks keanekaragaman berkisar antara 1,36-1,94 yang menunjukkan kategori keanekaragaman sedang. Secara keseluruhan, kawasan budidaya <em>Eucheuma cottonii</em> di Pantai Oenggae masih mendukung keberlangsungan komunitas makroalga yang relatif stabil sehingga berpotensi menunjang pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan.</p> <p><strong>Kata</strong> <strong>Kunci:</strong> Makroalga; Keanekaragaman; Kelimpahan; Eucheuma cottonii; Oenggae.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><strong>: </strong><em>Macroalgae are important components of coastal ecosystems that function as primary producers and possess significant ecological and economic values. This study aimed to analyze the diversity, abundance, evenness, and dominance of macroalgae in the Eucheuma cottonii cultivation area at Oenggae Beach, Rote Ndao Regency. The study employed a survey method using the quadrat transect technique at three observation stations. Data analysis included abundance, Shannon-Wiener diversity index (H'), evenness index (E), and Simpson dominance index (D). The results revealed that 12 species of macroalgae belonging to three phyla, namely Rhodophyta, Chlorophyta, and Heterokontophyta, were identified, with a total of 503 individuals. The diversity index ranged from 1.36 to 1.94, indicating a moderate level of diversity. Overall, the Eucheuma cottonii cultivation area at Oenggae Beach still supports a relatively stable macroalgal community and has the potential to contribute to sustainable coastal resource management.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><strong><em>:</em></strong> <em>Macroalgae; Species Diversity; Abundance; Eucheuma cottonii; Oenggae.</em></p> 2026-10-10T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/article/view/30956 IDENTIFIKASI JENIS, KEPADATAN, DAN KOMPOSISI SAMPAH LAUT (MARINE DEBRIS) DI EKOSISTEM LAMUN PADA AREA BUDIDAYA RUMPUT LAUT Eucheuma cottonii DI DESA OENGGAE, ROTE NDAO 2026-11-01T06:07:29+00:00 Valeriani Claudia Eso valerianiclaudiaeso@gmail.com Ismawan Tallo ismawantallo@staf.undana.ac.id Yahyah Yahyah yahya@staf.undana.ac.id Aludin Al Ayubi aludinayubi@staf.undana.ac.id <p><strong>Abstrak:</strong> Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis, kepadatan, dan komposisi sampah laut (marine debris) ekosistem lamun di area budidaya rumput laut <em>Eucheuma cottonii</em> di Desa Oenggae, Kabupaten Rote Ndao. Penelitian dilaksanakan pada Juli 2025 menggunakan metode deskriptif kuantitatif melalui observasi lapangan dengan transek kuadrat berukuran 1 × 1 m² pada tiga stasiun yang mewakili tingkat aktivitas manusia berbeda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima jenis lamun, yaitu <em>Thalassia hemprichii</em>, <em>Cymodocea rotundata</em>, <em>Halodule pinifolia</em>, <em>Halophila ovalis</em>, dan <em>Syringodium isoetifolium</em>. Sebanyak 101 item sampah laut ditemukan terdiri atas plastik, karet, kain, logam, kertas dan karton, serta kayu. Sampah plastik menjadi jenis paling dominan dengan jumlah 77 item atau 76,2% dari total sampah. Kepadatan dan komposisi sampah tertinggi ditemukan pada Stasiun III yang berdekatan dengan area budidaya rumput laut, yaitu sebesar 1,6 item/m² dengan komposisi 88,9%, sedangkan Stasiun II memiliki kepadatan terendah sebesar 0,80 item/m² dengan komposisi 64,0%. Dominasi sampah plastik diduga dipengaruhi aktivitas budidaya rumput laut, kegiatan pelabuhan, dan aktivitas masyarakat pesisir. Hasil penelitian menegaskan aktivitas manusia berkontribusi terhadap akumulasi sampah laut pada ekosistem lamun sehingga diperlukan pengelolaan sampah yang efektif, peningkatan kesadaran masyarakat, serta upaya konservasi berkelanjutan untuk menjaga kualitas lingkungan pesisir.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> sampah laut, ekosistem lamun, Eucheuma cottonii, komposisi sampah, Desa Oenggae.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><strong><em>: </em></strong><em>This study aimed to identify the types, density, and composition of marine debris in the seagrass ecosystem within the Eucheuma cottonii seaweed farming area in Oenggae Village, Rote Ndao Regency. The study was conducted in July 2025 using a descriptive quantitative approach through field observations with a 1 × 1 m² quadrat transect method at three sampling stations representing different levels of human activities. The results identified five seagrass species, namely Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halodule pinifolia, Halophila ovalis, and Syringodium isoetifolium. A total of 101 marine debris items were recorded, consisting of plastic, rubber, fabric, metal, paper and cardboard, and wood. Plastic debris was the dominant category, accounting for 77 items (76.2%) of the total debris collected. The highest debris density and composition were recorded at Station III, located near the seaweed farming area, with a density of 1.6 items/m² and a composition of 88.9%, while Station II had the lowest density, with 0.80 items/m² and a composition of 64.0%. The dominance of plastic debris is likely associated with seaweed farming activities, port operations, and coastal community activities. These findings indicate that human activities contribute significantly to marine debris accumulation in seagrass ecosystems, highlighting the need for effective waste management, increased public awareness, and sustainable conservation efforts to protect coastal ecosystems.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> marine debris, seagrass ecosystem, Eucheuma cottonii, debris composition, Oenggae Village.</em></p> 2026-10-10T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/article/view/30957 ANALISIS SALURAN PEMASARAN KOMODITAS RUMPUT LAUT DI DESA OENGGAE, KECAMATAN PANTAI BARU, KABUPATEN ROTE NDAO 2026-11-01T06:13:20+00:00 Gaudensius Oktaviano Latu gaudensiuslatu@gmail.com Ismawan Tallo ismawantallo@staf.undana.ac.id Lumban Nauli Lumban Toruan lumbannauli@staf.undana.ac.id Yahyah Yahyah yahya@staf.undana.ac.id <p><strong>Abstrak: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji saluran pemasaran, margin pemasaran, serta tingkat efisiensi pemasaran komoditas rumput laut di Desa Oenggae, Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao. Penelitian dilaksanakan pada Juli hingga Agustus 2025 dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Penentuan responden dilakukan melalui teknik sampel jenuh yang melibatkan seluruh populasi, yaitu 19 responden yang terdiri atas 17 petani rumput laut dan 2 pengepul. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner serta observasi langsung di lokasi penelitian. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan pola saluran pemasaran, sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk menghitung margin dan efisiensi pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan adanya dua pola saluran pemasaran. Saluran I melibatkan petani, pengepul, dan perusahaan/eksportir, sedangkan Saluran II terdiri atas petani, pengepul, dan pedagang besar. Margin pemasaran yang diperoleh pada Saluran I sebesar Rp.3.500/kg, sedangkan pada Saluran II mencapai Rp.4.000/kg. Tingkat efisiensi pemasaran pada petani masing-masing sebesar 2,8% untuk Saluran I dan 2,5% untuk Saluran II. Pada tingkat pengepul, nilai efisiensi pemasaran tercatat sebesar 17,69% pada Saluran I dan 16,25% pada Saluran II. Berdasarkan kriteria efisiensi pemasaran yang digunakan, kedua saluran pemasaran tersebut termasuk dalam kategori efisien.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> rumput laut, saluran pemasaran, margin pemasaran, efisiensi pemasaran.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstract: </em></strong><em>This study aimed to examine the marketing channels, marketing margins, and marketing efficiency of seaweed in Oenggae Village, Pantai Baru District, Rote Ndao Regency. The research was conducted from July to August 2025 using a quantitative descriptive approach. Respondents were selected through a saturated sampling technique, involving all members of the study population, consisting of 17 seaweed farmers and 2 collectors, for a total of 19 respondents. Primary data were obtained through structured questionnaire interviews and direct field observations. Descriptive analysis was applied to identify the existing marketing channels, while quantitative analysis was employed to determine the marketing margins and marketing efficiency. The findings indicated that two marketing channels were identified. Channel I involved farmers, collectors, and companies/exporters, whereas Channel II consisted of farmers, collectors, and wholesalers. The marketing margin was Rp</em><em>.</em><em>3.500/kg in Channel I and Rp</em><em>.</em><em>4.000/kg in Channel II. At the farmer level, the marketing efficiency values were 2.8% and 2.5% for Channels I and II, respectively. At the collector level, the corresponding efficiency values were 17.69% for Channel I and 16.25% for Channel II. According to the established marketing efficiency criteria, both marketing channels were categorized as efficient.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> seaweed, marketing channels, marketing margins, marketing efficiency.</em></p> 2026-10-10T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/article/view/30958 ANALISIS PENDAPATAN NELAYAN ALAT TANGKAP JARING INSANG (GILLNET) DI DESA DAIAMA, KECAMATAN LANDU LEKO, KABUPATEN ROTE NDAO 2026-11-01T07:02:21+00:00 Migel Spanyola Loasana migelloasana@gmail.com Kiik Gretty Sine kiik.sine@staf.undana.ac.id Nikanor Hersal Armos nikanor_armos@staf.undana.ac.id Aludin Al Ayubi aludinayubi@staf.undana.ac.id <p><strong>Abstrak</strong><strong>:</strong> Nelayan di Desa Daiama, Kecamatan Landu Leko, Kabupaten Rote Ndao sebagian besar menggunakan alat tangkap jaring insang (<em>gillnet</em>) sebagai sarana utama penangkapan ikan karena praktis, terjangkau, dan sesuai dengan kondisi perairan setempat. Namun, tingkat pendapatan nelayan masih berfluktuasi akibat hasil tangkapan harian, kondisi cuaca, musim penangkapan, serta harga jual ikan di pasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penerimaan, biaya, dan pendapatan nelayan jaring insang, menganalisis struktur biaya usaha, serta menganalisis kelayakan usaha penangkapan ikan di Desa Daiama. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni–Juli 2025 menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik <em>purposive sampling</em> terhadap 34 responden nelayan jaring insang yang ditentukan berdasarkan rumus Slovin dari populasi 48 orang dengan taraf kesalahan 10%. Data dianalisis menggunakan perhitungan Total Biaya (TC = FC + VC), Total Penerimaan (TR = Q × P), Pendapatan (π = TR − TC), <em>Revenue Cost Ratio</em> (R/C), dan <em>Break Even Point</em> (BEP). Hasil penelitian menunjukkan total penerimaan nelayan sebesar Rp429.805.000 per bulan dengan rata-rata Rp12.641.324 per nelayan, sedangkan total biaya sebesar Rp269.220.000 per bulan, terdiri atas biaya tetap Rp77.690.000 (28,85%) dan biaya variabel Rp191.530.000 (71,15%), dengan bahan bakar minyak sebagai komponen biaya terbesar (33,30%). Pendapatan bersih nelayan sebesar Rp160.585.000 per bulan atau rata-rata Rp4.723.088 per nelayan, berdasarkan UMK Kabupaten Rote Ndao tahun 2024 sebesar Rp2.186.826. Nilai R/C Ratio sebesar 1,60 dan BEP sebesar Rp140.127.912 menunjukkan bahwa usaha penangkapan ikan jaring insang di Desa Daiama layak dan menguntungkan untuk dijalankan serta memiliki prospek pengembangan yang baik ke depannya.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Jaring Insang, Pendapatan, Biaya, R/C Ratio, BEP, Desa Daiama.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstract: </em></strong><em>Most </em><em>fishermen in Daiama Village, Landu Leko Subdistrict, Rote Ndao Regency predominantly use gillnets as their primary fishing gear because they are practical, affordable, and well-suited to local water conditions. However, fishermen's income levels remain fluctuating due to daily catch results, weather conditions, fishing seasons, and market fish prices. This study aims to determine the level of revenue, costs, and income of gillnet fishermen, analyze the business cost structure, and analyze the feasibility of the fishing business in Daiama Village. The research was conducted in June–July 2025 using a quantitative descriptive method with a purposive sampling technique involving 34 gillnet fishermen respondents, determined using the Slovin formula from a population of 48 people with a 10% margin of error. Data were analyzed using calculations of Total Cost (TC = FC + VC), Total Revenue (TR = Q × P), Income (π = TR − TC), Revenue Cost Ratio (R/C), and Break Even Point (BEP). The results showed that total fishermen's revenue amounted to IDR 429,805,000 per month, with an average of IDR 12,641,324 per fisherman, while total costs amounted to IDR 269,220,000 per month, consisting of fixed costs of IDR 77,690,000 (28.85%) and variable costs of IDR 191,530,000 (71.15%), with fuel oil as the largest cost component (33.30%). Fishermen's net income amounted to IDR 160,585,000 per month, or an average of IDR 4,723,088 per fisherman, which exceeds the 2024 Rote Ndao Regency Minimum Wage (UMK) of IDR 2,186,826. The R/C Ratio value of 1.60 and BEP of IDR 140,127,912 indicate that the gillnet fishing business in Daiama Village is feasible and profitable to operate and has good development prospects going forward.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong> <em>Gillnet, Income, Cost, R/C Ratio, BEP, Daiama Village</em></p> 2026-10-10T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/article/view/30959 SISTEM BAGI HASIL NELAYAN PUKAT CINCIN (PURSE SEINE) DI DESA TABLOLONG KECAMATAN KUPANG BARAT KABUPATEN KUPANG 2026-11-01T07:07:07+00:00 Piterson Tuka Hapo pitersontukahapo@gmail.com Lady Cindy Soewarlan cindysoewarlan@staf.undana.ac.id Alexander Leonidas Kangkan alexanderkangkan@staf.undana.ac.id <p><strong>Abstrak</strong><strong>:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembagian kerja nelayan pukat cincin (purse seine), sistem bagi hasil, serta tingkat pendapatan juragan kapal dan Anak Buah Kapal (ABK) di Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Penelitian menggunakan metode statistik deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara terstruktur, dokumentasi, dan studi pustaka. Sampel penelitian berjumlah 24 responden yang terdiri atas juragan kapal dan ABK, yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembagian kerja nelayan telah tersusun secara jelas sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Juragan kapal berperan sebagai penyedia modal dan pengambil keputusan, sedangkan ABK bertanggung jawab dalam kegiatan operasional penangkapan ikan. Sistem bagi hasil diterapkan berdasarkan kesepakatan sebelum kegiatan melaut dan dilakukan setelah dikurangi biaya operasional. Juragan kapal memiliki peran dominan dalam menentukan mekanisme pembagian hasil, namun sebagian besar responden menilai sistem tersebut telah berjalan secara adil dan transparan. Tingkat pendapatan nelayan masih bersifat fluktuatif karena dipengaruhi oleh hasil tangkapan, biaya operasional, kondisi cuaca, dan musim penangkapan. Pendapatan juragan kapal relatif lebih tinggi dibandingkan ABK, namun secara umum kesejahteraan nelayan masih berada pada kategori rendah hingga menengah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem pembagian kerja dan bagi hasil pada nelayan pukat cincin di Desa Tablolong telah berjalan dengan baik, tetapi masih diperlukan dukungan pemerintah melalui program pemberdayaan, peningkatan akses permodalan, serta perlindungan sosial bagi nelayan guna meningkatkan kesejahteraan mereka.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> sistem bagi hasil, nelayan, pukat cincin (purse seine), pendapatan, Desa Tablolong.</p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Abstrac</em></strong><strong><em>t: </em></strong><em>This study aimed to analyze the division of labor among purse seine fishermen, the profit-sharing system, and the income levels of boat owners and crew members (ABK) in Tablolong Village, West Kupang District, Kupang Regency. The study employed a descriptive statistical method with a quantitative approach. Data were collected through observation, structured interviews, documentation, and literature review. The research involved 24 respondents consisting of boat owners and crew members selected using a purposive sampling technique.</em> <em>The results showed that the division of labor among fishermen was well organized according to the duties and responsibilities of each member. Boat owners acted as capital providers and key decision-makers, while crew members were responsible for fishing operations. The profit-sharing system was implemented based on mutual agreement before fishing activities and was calculated after deducting operational costs. Boat owners played a dominant role in determining the profit-sharing mechanism; however, most respondents perceived the system as fair and transparent. Fishermen's income remained fluctuating due to variations in fish catches, operational costs, weather conditions, and fishing seasons. Boat owners generally earned higher incomes than crew members, although the overall welfare of fishermen was still categorized as low to moderate.</em> <em>This study concludes that the labor division and profit-sharing system among purse seine fishermen in Tablolong Village have been implemented effectively. However, greater government support is still needed through fishermen empowerment programs, improved access to capital, and social protection to enhance fishermen's welfare.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> profit-sharing system, fishermen, purse seine, income, Tablolong Village.</em></p> 2026-10-10T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/article/view/30960 SUHU PUSAT TUNA (THUNNUS SP) DENGAN NILAI ORGANOLEPTIK FILLET BEKU DI PT ERA MANDIRI CEMERLANG 2026-11-01T07:11:49+00:00 Eba Susana Penuam penuameba@gmail.com Lady Cindy Soewarlan cindysoewarlan@staf.undana.ac.id Chaterina Agusta Paulus chatepaulus@undana.ac.id Ismawan Tallo ismawantallo@staf.undana.ac.id <p><strong>Abstrak: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi suhu pusat ikan tuna (<em>Thunnus</em> sp.) serta nilai organoleptik fillet tuna beku di PT Era Mandiri Cemerlang, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus–September 2025 menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi, dan pengukuran langsung terhadap 100 sampel ikan tuna yang dipilih secara acak. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Analisis statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik suhu pusat ikan tuna yang diterima sebagai bahan baku, meliputi nilai rata-rata (<em>mean</em>), standar deviasi, nilai minimum, dan nilai maksimum. Penilaian mutu organoleptik dilakukan berdasarkan hasil pengelompokan mutu fillet tuna beku ke dalam kategori Grade A, Grade B, dan Grade C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu pusat ikan tuna berkisar antara 1,3–4,4°C dengan nilai rata-rata sebesar 2,66 ± 0,75°C. Berdasarkan penilaian organoleptik, sebanyak 42% sampel termasuk dalam Grade A, 35% termasuk Grade B, dan 23% termasuk Grade C.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> <em>Thunnus</em> sp., suhu pusat, organoleptik, fillet tuna beku, mutu.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em>: This study aimed to determine the core temperature condition of tuna (</em><em>Thunnus</em><em> sp.) and the organoleptic quality of frozen tuna fillets at PT Era Mandiri Cemerlang, Kupang City, East Nusa Tenggara. The research was conducted in August–September 2025 using observation, interviews, documentation, and direct measurements of 100 randomly selected tuna samples. The data were analyzed using a quantitative descriptive method. Descriptive statistical analysis was used to describe the characteristics of the core temperature of tuna received as raw material, including the mean, standard deviation, minimum value, and maximum value. Organoleptic quality assessment was carried out based on the classification of frozen tuna fillets into Grade A, Grade B, and Grade C. The results showed that the core temperature of tuna ranged from 1.3 to 4.4°C, with an average value of 2.66 ± 0.75°C. Based on the organoleptic assessment, 42% of the samples were classified as Grade A, 35% as Grade B, and 23% as Grade C. </em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong> <em>Thunnus</em><em> sp., core temperature, organoleptic, frozen tuna fillet, quality.</em></p> 2026-10-10T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/article/view/30961 EFISIENSI PEMASARAN RUMPUT LAUT (EUCHEUMA COTTONII) MENGGUNAKAN MARGIN PEMASARAN DI DESA LOBOHEDE, KECAMATAN SABU MESARA, KABUPATEN SABU RAIJUA 2026-11-01T07:16:00+00:00 Adi Kamsi Loro kamsiloro04@gmail.com Alexander Leonidas Kangkan alexanderkangkan@staf.undana.ac.id Desy Amalia Hidayati desy_hidayati@staf.undana.ac.id Chaterina Agusta Paulus chatepaulus@undana.ac.id <p><strong>Abstrak: </strong>Kabupaten Sabu Raijua, khususnya Desa Lobohede, memiliki potensi dalam pengembangan budidaya rumput laut. Pemasaran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pendapatan pembudidaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis margin dan efisiensi pemasaran rumput laut (<em>Eucheuma cottonii</em>) di Desa Lobohede, Kecamatan Sabu Mesara, Kabupaten Sabu Raijua. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif analitis. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, kuesioner, dan dokumentasi dengan melibatkan 15 petani rumput laut serta pelaku pemasaran. Analisis meliputi saluran pemasaran, margin, keuntungan, <em>Farmer’s Share</em>, dan efisiensi pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat satu saluran pemasaran, yaitu petani → pedagang pengumpul → distributor. Harga yang diterima petani sebesar Rp15.000/kg, sedangkan harga pada tingkat pedagang sebesar Rp16.000/kg, dengan margin pemasaran Rp1.000/kg. Nilai <em>Farmer’s Share</em> mencapai 93,75%, yang menunjukkan bahwa sebagian besar nilai penjualan diterima oleh petani. Rantai pemasaran yang relatif pendek dan biaya distribusi yang rendah menyebabkan sistem pemasaran rumput laut di lokasi penelitian tergolong efisien. Namun, harga Rp15.000/kg belum dapat menjadi satu-satunya ukuran kesejahteraan petani karena pendapatan juga dipengaruhi oleh produksi, biaya budidaya, kualitas hasil, dan frekuensi panen.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> Rumput laut, <em>Eucheuma cottonii</em>, pemasaran, margin pemasaran, Farmer’s Share, efisiensi pemasaran.</p> <p>&nbsp;</p> <p><em>A<strong>bstract: </strong></em><em>Sabu Raijua Regency, specifically Lobohede Village, possesses potential for the development of seaweed farming. Marketing is a key factor influencing farmers' income. This study aims to analyze the marketing margins and efficiency of seaweed (Eucheuma cottonii) in Lobohede Village, Sabu Mesara District, Sabu Raijua Regency. A quantitative approach with a descriptive-analytical method was employed. Data were collected through interviews, observations, questionnaires, and documentation, involving 15 seaweed farmers and marketing agents. The analysis covered marketing channels, margins, profits, the Farmer’s Share, and marketing efficiency. The results indicate the existence of a single marketing channel: farmer → collecting trader → distributor. The price received by farmers was Rp15,000/kg, while the price at the trader level was Rp16,000/kg, resulting in a marketing margin of Rp1,000/kg. The Farmer’s Share stood at 93.75%, indicating that the majority of the sales value was received by the farmers. The relatively short marketing chain and low distribution costs render the seaweed marketing system in the study area efficient. However, the price of Rp15,000/kg cannot serve as the sole indicator of farmer welfare, as income is also influenced by production volume, cultivation costs, product quality, and harvest frequency.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: seaweed, Eucheuma cottonii, marketing, marketing margin, Farmer’s Share, marketing efficiency.</em></p> 2026-10-10T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement##