Jurnal Bahari Papadak https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP <p>Jurnal Bahari Papadak adalah sebuah jurnal nasional dalam bidang ilmu kelautan dan perikanan yang dikelola oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana. Tujuan utamanya adalah menyajikan artikel-artikel hasil riset atau penelitian yang berkualitas yang meliputi semua sub-bidang kajian dalam lingkup ilmu kelautan dan perikanan. Jurnal ini menyediakan ruang publikasi bagi akademisi, peneliti, mahasiswa dan kalangan professional lainnya. Artikel ilmiah yang diajukan untuk diterbitkan dalam jurnal ini harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu, merupakan paper asli (bebas plagiarisme), tidak dipublikasikan atau tidak sedang diajukan ke jurnal lain. Lingkup topik Jurnal Bahari Papadak meliputi manajemen sumberdaya perairan, perikanan tangkap, pengolahan hasil perikanan, sosial ekonomi perikanan, ilmu kelautan, bioteknologi perikanan, biologi dan ekologi biota perairan, serta penilaian dan pengelolaan ekosistem perairan.</p> <p>ISSN Online :&nbsp;<strong>2723-6536</strong></p> <p>Waktu Terbit : Bulan April dan Oktober</p> <p>Email : baharipapadak@gmail.com</p> en-US yahyahrachim@gmail.com (Dr. Ir. Yahyah, M.Si) nikanor_armos@staf.undana.ac.id (Nikanor Hersal Armos, S.Kel., M.Si) Sat, 04 Apr 2026 00:00:00 +0000 OJS 3.1.1.2 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 SEBARAN JENIS SAMPAH LAUT PADA TEMPAT BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI DESA TUNGANAMO, KECAMATAN PANTAI BARU, KABUPATEN ROTE NDAO https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/article/view/28165 <p><strong>Abstra</strong>k- Sampah laut merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang banyak ditemukan di wilayah pesisir dan perairan laut. Keberadaan sampah laut di sekitar lokasi budidaya rumput laut dapat memengaruhi kualitas lingkungan perairan serta berpotensi mengganggu kegiatan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis dan kepadatan sampah laut yang terdapat di sekitar lokasi budidaya rumput laut di Desa Tunganamo, Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2025 dengan menggunakan metode line transect dan plot pengamatan pada tiga stasiun penelitian dengan total 12 plot pengamatan berukuran 10 × 10 m². Parameter yang dianalisis meliputi komposisi jenis sampah laut dan kepadatan sampah laut yang ditemukan pada area budidaya rumput laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampah laut yang ditemukan didominasi oleh jenis sampah plastik, dengan total 11 jenis sampah, yaitu kantong plastik, botol plastik &lt;2 liter, tutupan botol, tali rafia, sedotan plastik, tali nilon atau tali jaring, gelas plastik sekali pakai, kemasan minuman sachet, kemasan deterjen, kemasan makanan ringan, dan styrofoam. Komposisi sampah plastik tertinggi ditemukan pada kemasan makanan ringan sebesar 20,699%, diikuti oleh tali nilon sebesar 16,233% dan tutupan botol sebesar 16,104%. Nilai kepadatan total sampah laut di lokasi penelitian sebesar 0,520 potongan/m², dengan kepadatan tertinggi pada kemasan makanan ringan sebesar 0,118 potongan/m², diikuti oleh tutupan botol dan tali nilon masing-masing sebesar 0,082 potongan/m². Tingginya keberadaan sampah plastik di sekitar lokasi penelitian diduga dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat pesisir, kegiatan perikanan, serta aktivitas budidaya rumput laut di sekitar wilayah penelitian.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Sampah Laut, Komposisi Jenis, Kepadatan Sampah, Budidaya Rumput Laut.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong><em>Abstract-</em></strong><em> Marine debris is one of the environmental problems commonly found in coastal and marine areas. The presence of marine debris around seaweed cultivation areas can affect the quality of aquatic environments and potentially interfere with seaweed farming activities. This study aims to analyze the types and density of marine debris found around seaweed cultivation areas in Tunganamo Village, Pantai Baru District, Rote Ndao Regency. The research was conducted in July 2025 using the line transect and observation plot method at three research stations with a total of 12 observation plots measuring 10 × 10 m². The parameters analyzed included the composition of marine debris types and the density of marine debris found in the seaweed cultivation area. The results showed that the marine debris found was dominated by plastic waste, with a total of 11 types, namely plastic bags, plastic bottles &lt;2 liters, bottle caps, raffia ropes, plastic straws, nylon ropes or net ropes, plastic cups, sachet drink packaging, detergent packaging, snack packaging, and styrofoam. The highest composition of plastic debris was found in snack packaging at 20.699%, followed by nylon rope at 16.233% and bottle caps at 16.104%. The total density of marine debris at the study site was 0.520 pieces/m², with the highest density found in snack packaging at 0.118 pieces/m², followed by bottle caps and nylon ropes at 0.082 pieces/m² each. The high presence of plastic debris in the study area is suspected to be influenced by coastal community activities, fishing activities, and seaweed farming activities around the research area.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Marine Debris, Composition of Debris Types, Debris Density, Seaweed Cultivation.</em></p> Astri Sukur, Yahyah Yahyah, Aludin Al Ayubi ##submission.copyrightStatement## https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/article/view/28165 Wed, 01 Apr 2026 00:00:00 +0000 KEPADATAN DAN KEANEKARAGAMAN POPULASI MAKROZOOBENTOS SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS PERAIRAN PADA LOKASI BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI DESA TESABELA, KECAMATAN PANTAI BARU, KABUPATEN ROTE NDAO https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/article/view/28169 <p><strong>Abstrak-</strong> Kegiatan budidaya rumput laut di wilayah pesisir berpotensi memengaruhi kondisi ekosistem dasar perairan, khususnya komunitas makrozoobentos yang berperan sebagai bioindikator kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepadatan dan keanekaragaman makrozoobentos pada lokasi budidaya rumput laut di Desa Tesabela, Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2025 menggunakan metode kuadran transek pada tiga stasiun pengamatan dengan total 27 titik pengambilan sampel. Parameter yang dianalisis meliputi kepadatan populasi dan indeks keanekaragaman Shannon–Wiener (H’), serta didukung oleh pengukuran suhu, salinitas, dan pH perairan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makrozoobentos yang ditemukan terdiri atas 13 spesies dari dua filum, yaitu Mollusca dan Echinodermata. Kepadatan makrozoobentos berkisar antara 12,56–14,67 ind/m², dengan nilai tertinggi pada Stasiun II (14,67 ind/m²), diikuti Stasiun I (12,89 ind/m²), dan terendah pada Stasiun III (12,56 ind/m²). Nilai indeks keanekaragaman berkisar antara 0,364–0,368, yang tergolong rendah dan mengindikasikan komunitas makrozoobentos berada dalam kondisi tertekan. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh aktivitas budidaya rumput laut dan tekanan antropogenik di sekitar lokasi penelitian.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong>: Makrozoobentos, Kepadatan, Keanekaragaman, Budidaya Rumput Laut</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstract- </em></strong><em>Seaweed cultivation activities in coastal areas have the potential to affect the condition of the aquatic ecosystem, especially the macrozoobentos community which acts as a bioindicator of environmental quality. This study aims to analyze the density and diversity of macrozoobentos at the seaweed cultivation location in Tesabela Village, Pantai Baru District, Rote Ndao Regency. The research was carried out in July 2025 using the transect quadrant method at three observation stations with a total of 27 sampling points. The analyzed parameters included population density and the Shannon–Wiener diversity index (H'), and were supported by measurements of water temperature, salinity, and pH. The results showed that the macrozoobentos found consisted of 13 species of two phylum, namely Mollusca and Echinoderma. The density of macrozoobentos ranged from 12.56–14.67 ind/m², with the highest value at Station II (14.67 ind/m²), followed by Station I (12.89 ind/m²), and lowest at Station III (12.56 ind/m²). The diversity index value ranged from 0.364–0.368, which was relatively low and indicated that the macrozoobentos community was under stress. These conditions are thought to be influenced by seaweed cultivation activities and anthropogenic pressures around the research site.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: macrozoobentos, density, diversity, seaweed cultivation</em></p> Magdalena Noyanti Srimawar, Yahyah Yahyah, Lebrina Ivantry Boikh ##submission.copyrightStatement## https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/article/view/28169 Sat, 04 Apr 2026 00:00:00 +0000 STUDI MORFOMETRIK TERIPANG (HOLOTHUROIDEA) HASIL TANGKAPAN NELAYAN DESA PAPELA, KECAMATAN ROTE TIMUR, KABUPATEN ROTE NDAO https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/article/view/28171 <p><strong>Abstrak-</strong> Teripang (Holothuroidea spp.) merupakan salah satu sumber daya perikanan bernilai ekonomi tinggi yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir, termasuk di Desa Papela, Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao. Pemanfaatan teripang yang terus meningkat perlu diimbangi dengan pengelolaan berbasis data biologis agar keberlanjutan sumber daya tetap terjaga. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah studi morfometrik untuk mengetahui struktur ukuran populasi teripang yang tertangkap. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik morfometrik teripang yang meliputi panjang tubuh, lebar tubuh, dan berat basah hasil tangkapan nelayan di Desa Papela. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2025 dengan metode observasi langsung terhadap 150 individu teripang yang diperoleh dari hasil tangkapan nelayan. Data morfometrik dianalisis secara deskriptif kuantitatif melalui penyajian distribusi frekuensi dalam bentuk tabel dan histogram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran ukuran panjang, lebar, dan berat teripang didominasi oleh kelas ukuran kecil hingga sedang, sedangkan individu berukuran besar ditemukan dalam jumlah yang relatif sedikit. Pola ini mengindikasikan bahwa struktur ukuran populasi teripang hasil tangkapan nelayan di perairan Desa Papela belum didominasi oleh individu dewasa penuh. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan tekanan penangkapan yang berlangsung secara terus-menerus tanpa mempertimbangkan ukuran minimum layak tangkap. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa struktur morfometrik teripang di Desa Papela cenderung didominasi oleh ukuran kecil dan sedang, sehingga berpotensi memengaruhi keberlanjutan populasi apabila tidak dikelola secara tepat. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan berupa penetapan ukuran minimum layak tangkap sebagai dasar pemanfaatan sumber daya teripang secara berkelanjutan.</p> <p><strong>Kata kunci</strong>: Teripang, Morfometrik, Struktur Ukuran, Desa Papela, Pengelolaan Berkelanjutan</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstract-</em></strong><em> Sea cucumbers (Holothuroidea spp.) are one of the fishery resources with high economic value that are widely utilized by coastal communities, including those in Papela Village, East Rote District, Rote Ndao Regency. The increasing exploitation of sea cucumbers needs to be balanced with biologically based management to ensure resource sustainability. One approach that can be applied is a morphometric study to assess the size structure of harvested sea cucumber populations. This study aimed to analyze the morphometric characteristics of sea cucumbers, including body length, body width, and wet weight, landed by fishermen in Papela Village. The study was conducted in July 2025 using direct observation methods on 150 sea cucumber individuals obtained from fishermen’s catches. Morphometric data were analyzed using descriptive quantitative methods by presenting frequency distributions in the form of tables and histograms. The results showed that the distributions of length, width, and weight were dominated by small to medium size classes, while large-sized individuals were found in relatively low numbers. This pattern indicates that the size structure of sea cucumbers landed in Papela waters has not been dominated by fully mature individuals. This condition is presumed to be related to continuous fishing pressure without consideration of minimum legal catch size. Based on these findings, it can be concluded that the morphometric structure of sea cucumbers in Papela Village is dominated by small and medium sizes, which may potentially affect population sustainability if not properly managed. Therefore, management measures such as the establishment of a minimum legal catch size are necessary as a basis for the sustainable utilization of sea cucumber resources.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Sea cucumber, Morphometrics, Size structure, Papela Village</em></p> Valeria Wildiman Zaun, Yahyah Yahyah, Lebrina Ivantry Boikh ##submission.copyrightStatement## https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JBP/article/view/28171 Sat, 04 Apr 2026 00:00:00 +0000