https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/issue/feedJurnal Peternakan Lahan Kering2026-02-09T16:45:52+00:00Markus Miten Kledenmkleden21@gmail.comOpen Journal Systems<p>Dryland livestock journal is a journal that publishes various research topics in the field of livestock, covering livestock production, livestock nutrition, forage crops, feed technology, livestock genetics and reproduction, livestock socio-economics, livestock physiology, and livestock processing technology. Articles that can be published are related to livestock as research objects, such as beef cattle, goats, horses, pigs, sheep and poultry, as well as livestock products. Jurnal Peternakan Lahan Kering is an open-access and credible peer-reviewed journal that publishes original research with E-ISSN 2714-7878. Articles are published by the Faculty of Animal Husbandry, Maritime Affairs and Fisheries, which is published four times per year, namely March, June, September and December.</p>https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/24856Analisis Nilai Tambah Produk Ternak Babi Di Kota Ende2026-01-29T05:02:29+00:00Maria Febrianti Jelehotfebbyjelehot15@gmail.comMaria Rosdiana Deno Ratumariadenoratu@staf.undana.ac.idUlrikus Romsen Loleulrikusromsenlole@gmail.comSirilus Romsen Nironsirilusniron@gmail.com<h1>ABSTRAK</h1> <p>Peningkatan produksi daging babi di Kota Ende berkaitan erat dengan adanya usaha ternak babi di tingkat petani dan usaha penjualan daging babi. Keberadaan usaha ini menyebabkan terjadinya peningkatan nilai tambah terhadap komoditas ternak babi. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis besarnya nilai tambah produk ternak babi dan besarnya pendapatan jagal dan peternak babi di Kota Ende. Metode penelitian ini adalah survei. Metode penentuan contoh ditentukan melalui dua tahap. Pada tahap awal, jagal contoh dipilih menggunakan metode purposif. Kemudian tahap ke dua penentuan peternak contoh dilakukan secara <em>snowball sampling</em> dengan cara melakukan wawancara awal dengan para jagal dan selanjutnya berdasarkan informasi dari para jagal ditentukan peternak contoh. Data primer dalam penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara dan observasi lapangan. Sumber data utamanya adalah peternak dan pedagang, dengan kuesioner yang telah dirancang sebelumnya sebagai panduan.Sementara itu data sekunder diperoleh dari laporan-laporan instasi terkait serta hasil-hasil penelitian maupun referensi lainnya. Metode analisis data yang diterapkan meliputi analisis pendapatan dan analisis nilai tambah. Penerapan analisis nilai tambah mengikuti pedoman yang ditetapkan oleh Hayami. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai tambah ternak babi menjadi daging segar sebesar Rp 26.104/kg dengan jumlah keuntungan sebesar Rp 22.312,22/kg. rata-rata pendapatan jagal sebesar Rp263.344.967 dan rata-rata pendapatan peternak sebesar Rp15.929.137/peternak/tahun. dan. Kesimpulan Usaha pemotongan ternak babi di Kota Ende telah mampu meningkatkan nilai tambah ternak babi menjadi daging segar dan menghasilkan pendapatan bagi peternak dan jagal babi di Kota Ende.</p>2026-01-28T18:11:44+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/25410Kualitas Fisik Dan Organoleptik Sui Wu’u Daging Sapi Dengan Penggunaan Bambu Yang Berbeda2026-01-29T05:03:45+00:00Robertha Seranroberthaseran6@gmail.comSulmiyati Sulmiyatisulmiyati@staf.undana.ac.idBastari Sabtubastarisabtu@staf.undana.ac.id<p>Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi kualitas fisik sekaligus karakteristik organoleptik sui wu’u daging sapi disimpan dalam wadah yang berbeda selama 1 bulan. Metode yang diterapkan yakni RAL yang digunakan dengan tiga perlakuan yaitu P1 Denrocalamus asper (bambu betung), P2 Schizostachyum brachycladum (bambu talang), P3 Gigantochloa pseudoarundinacea (bambu gombong) dan 4 ulangan. Parameter yang ditinjau meliputi kekerasan, corak, bau, rasa, tekstur, serta tingkat kesukaan. Temuan penelitian menunjukan bahwa warna yang dihasilkan P1 dan P2, agak merah kecoklatan, dan P3, cukup merah kecoklatan. Sedangkan pada tekstur P1, tidak padat, P2, agak padat, dan P3, cukup padat. Tingkat kesukaan yang dihasilkan P1, P2, dan P3 agak disukai oleh penelis. Disimpulkan bahwa penggunaan jenis bambu yang berbeda memberikan pengaruh terhadap karakteristik organoleptik berdasarkan indikator warna, tekstur, dan tingkat kesukaan. Warna serta tekstur yang baik dihasilkan dari bambu gombong (P3) karena memiliki diameter bambu yang kecil dan tipis sehingga ruang fementasi menjadi lebih tertutup dan stabil. Ketiga jenis bambu menghasilkan sui wu’u daging sapi dengan tingkat kesukaan yang relatif setara dan tergolong agak disukai oleh penelis. Penggunaan jenis bambu yang berbeda tidak menunjukan pengaruh terhadap tingkat kekerasan sui wu’u daging sapi, namun cenderung tingkat kekerasan lebih tinggi yang menggunakan bambu talang.</p>2026-01-29T04:47:17+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/25439Kinerja Ekonomi Usaha Peternakan Ayam Broiler Di Kecamatan Boawae Kabupaten Nagekeo2026-01-29T05:26:26+00:00Marselina Gowamarselinagowa@gmail.comMaria Yasinta Lurukyasintha@staf.undana.ac.idSirilius Nironsirilus.niron26@gmail.comUlrikus Romsen Loleulrikusromsenlole@staf.undana.ac.id<p>This study aims to identify the Input and Output management of broiler chicken farming businesses and analyze the financial feasibility of broiler chicken farming businesses in Boawae District, Nagekeo Regency. This study uses a census method, the types of data used in the study are qualitative and quantitative data sourced from primary and secondary data. The data analysis method used is Input and Output management and financial feasibility analysis using the criteria of R/C ratio, B/C ratio, break even point (BEP). Input management consisting of fixed inputs and variable inputs. The fixed input of partner farmers is Rp8,934,824 while independent farmers are smaller at Rp3,122,933/year, variable input of partner farmers is Rp68,271,353/period and independent farmers are smaller at Rp28,826,400/period. The output is ready-to-sell broiler chickens weighing 2.2 kg. The feasibility of the broiler chicken business is stated to be feasible based on the R/C ratio of partner farmers, which is 1.87, while independent farmers are 2.3. The B/C ratio of partner farmers is 0.87, while independent farmers are 1.3. BEP (Rp) partner farmers are Rp. 15,587,728, while independent farmers are Rp. 5,144,427. BEP production of partner farmers is 282 chickens, while independent farmers are 73 chickens.</p>2026-01-29T05:26:26+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/25629Nilai Ekonomi Pemberian Tepung Limbah Kubis (Brassica oleracea) Terfermentasi terhadap Babi Landrace Fase Starter2026-01-29T06:06:52+00:00Nanda Manafenandamanafe274@gmail.comI Made Suaba Aryantamadearyanta@staf.undana.ac.idJohanes G. Sogensogenjohanes@gmail.comMaria R.D. Ratumariarosdiana1101@gmail.com<p>A study on starter phase of landrace cross breed pigs was conducted to determine the economic value of fermented cabbage (<em>Brassica oleracea</em>) waste flour. The material used was 12 landrace cross breed pigs in the starter phase with and age range of 1-2 months and a body weight of 9-15 kg (KV=15%). This study used a Randomized Block Design with 4 treatments and 3 replications. The treatments were R<sub>0</sub>: 100% basal ration, R<sub>1</sub>: 95% basal ration + 5% fermented cabbage waste flour, R<sub>2</sub>: 90% basal ration + 10% fermented cabbage waste flour, R<sub>3</sub>: 85% basal ration + 15% fermented cabbage waste flour. The parameters measured were income over feed cost (IOFC), income, economic efficiency of feed (EEF) use and operational economic efficiency (OEE). The results showed that the R<sub>3</sub> treatment produced the highest IOFC and income, which were IDR1,702,582 and IDR1,063,846, respectively. However, for EEF and OEE parameters, the treatment with the best efficiency was R<sub>2</sub> treatment with and EEF value of 0.30 and on OEE value of 0.37. the results of anova showed that the treatment had no significant effect (P>0.05) on all parameters measured. Thus it can be concluded that the substitution is profitable and efficient and a substitution of 10% is recommended.</p> <p>Suatu penelitian ternak babi <em>landrace</em> fase <em>starter</em> dilakukan untuk mengetahui nilai ekonomi dari pemberian tepung limbah kubis (<em>Brassica oleracea</em>) terfermentasi. Materi yang digunakan adalah 12 ekor babi peranakan <em>landrace</em> fase <em>starter </em>dengan kisaran umur 1-2 bulan dan berat badan 9-15 kg (KV=15%). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah R<sub>0</sub>: 100% ransum basal, R<sub>1</sub>: 95% ransum basal + 5% tepung limbah kubis terfermentasi, R<sub>2</sub>: 90% ransum basal + 10% tepung limbah kubis terfermentasi, R<sub>3</sub>: 85% ransum basal + 15% tepung limbah kubis terfermentasi. Parameter yang diukur yaitu income over feed cost (IOFC), Pendapatan, efisiensi ekonomi penggunaan pakan (EEPP), dan efisiensi ekonomi operasional (EEO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan R<sub>3</sub> menghasilkan IOFC dan pendapatan tertinggi yaitu berturut-turut Rp1.702.582 dan Rp1.063.846. Namun untuk parameter EEPP dan EEO, perlakuan dengan efisiensi terbaik adalah perlakuan R<sub>2</sub> dengan nilai EEPP sebesar 0.30 dan EEO sebesar 0.37. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0.05) pada semua parameter yang diukur. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa substitusi tersebut menguntungkan, efisien dan direkomendasikan substitusi sebesar 10%.</p>2026-01-29T06:06:52+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/25636Pengaruh Level Inokulum Cairan Rumen Sapi dalam Proses Fermentasi Terhadap Kandungan Anti Nutrisi Kulit Kopi2026-01-29T06:58:29+00:00Aularia sentrin Kurnia Setiamimunkurnia@gmail.comMarkus M. Kledenmkleden21@gmail.comGusti Ayu Yudiwati Lestarigustiayulestari@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengunaan cairan rumen sebagai inokulum dengan level yang berbeda terhadap kandungan anti nutrisi tanin, kafein, dan anti tripsin kulit kopi fermentasi. Metode yang diguna dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan pola racangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 5 perlakuan 4 ulangan. Perlakuan tersebut terdiri dari: LI-0 = tanpa cairan rumen (kontrol); LI-10 = inokulum cairan rumen 10ml/kg kulit kopi; LI-20 = inokulum cairan rumen 20ml/kg kulit kopi; LI-30 = inokulum cairan rumen 30ml/kh kulit kopi; LI40 = inokulum cairan rumen 40ml/kg kulit kopi, masing-masing difermentasi selama 28 hari. Variavel yang diamati adalah kandungan tanin, kafein, dan anti tripsin. Data yang dianalisis menggunakan Analisis Sidik Ragam (RAL) dan uji jarak berganda Duncan dengan bantuan soft ware SPSS versi 25. Hasil penelitian menujukan bahwa level inokulum cairan rumen sapi mampu menurunkan kandungan tanin, kafein, dan anti tripsin kulit kopi dengan masing-masing sebesar 1,37 - 2,75, 0,69 - 1,88, 0,50 - 1,15%. Hasil analisis statistika menujukan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,001) terhadap kandungan anti nutrisi tanin, kafein dan anti tripsin. Dapat disimpulkan kosentrasi senyawa antinutrisi, tanin, kafein, dan anti tripsin yang terkandung dalam kulit kopi sangat tergantung pada level inokulum cairan rumen sapi dengan level penggunaan inokulum terbaik adalah sebesar 40 ml/kg.</p> <p><em>Kata kunci : </em> anti nutrisi, fermentasi, inokulum cairan rumen sapi, kulit kopi.</p> <p> </p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>This study aimed to determine the effect of cow rumen fluid as an inoculum with different levels on the anti-nutrient content of tannin, caffeine and anti-trypsin in fermented coffee husk. The method used in this study was an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) pattern consisting of 5 treatments and 4 replications. The treatments consisted of: LI-0 = without rumen fluid (control); LI-10 = rumen fluid inoculum 10 ml / kg coffee husk; LI-20 = rumen fluid inoculum 20 ml / kg coffee husk; LI-30 = rumen fluid inoculum 30 ml/kg coffee husk; LI-40 = rumen fluid inoculum 40 ml / kg coffee husk, each fermented for 28 days. The variables observed were tannin, caffeine and anti-trypsin content. Data were analyzed using Analysis of Variance (Anova) and Duncan's multiple range test with the help of SPSS software version 25. The results study showed that the level of cattle rumen fluid inoculum was able to reduce the content of tannin, caffeine and anti-trypsin, coffee husk i e 1.37-2.75, 0.69-1.88, 0.50-1.15%, respectively. The results of statistical analysis showed that the treatment had a very significant effect (P <0.001) on reducing the content of anti-nutrients tannin, caffeine and anti-trypsin. It can be concluded that the content of anti-nutrients such as tannin, caffeine and anti-trypsin. It can be concluded that the concentration of anti-nutritional compounds, tannins, caffeine, and anti-trypsin contained in coffee husk is highly dependent on the level of inoculum of cow rumen fluid with the best inoculum usage level being 40 ml/kg.</p> <p><em>Keywords</em>; anti-nutrition, coffee, fermentation, inoculum of bovine rumen fluid,</p>2026-01-29T06:58:29+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/25222Strategi Pengembangan Usaha Ternak Sapi Bali Di Kecamatan Maurole Kabupaten Ende2026-01-29T10:36:03+00:00Yunita Theresia Weayunitawea547@gmail.comAgus A. Nalleagusanalle@staf.undana.ac.idMaria R. Deno Ratumariardenoratu@staf.undana.ac.idUlrikus R. Loleulrikusrlole@staf.undana.ac.id<p>Suatu penelitian telah dilakukan di Kecamatan Maurole Kabupaten Ende. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi usaha ternak sapi bali serta merumuskan strategi pengembangan usaha ternak sapi di Kecamatan Maurole Kabupaten Ende. Metode penelitian ini adalah survei. Populasi penelitian ini adalah seluruh peternak sapi bali di Kecamatan Maurole Kabupaten Ende. Metode penentuan contoh ada dua tahap, yakni penentuan empat desa contoh secara purposif dan penentuan 120 peternak contoh secara acak non proporsional. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal berada pada skor 0,04 dan faktor eksternal berada pada skor 0,10, sehingga menempatkan usaha ternak sapi di Kecamatan Maurole di Kuadran 1 (SO). Keadaan ini menunjukkan bahwa usaha ternak sapi di wilayah tersebut memiliki potensi pengembangan yang baik. Strategi yang direkomendasikan yaitu mengoptimalkan pemanfaatan pakan lokal dan limbah pertanian dengan dukungan teknologi pengolahan pakan, peningkatan kapasitas peternak dalam manajemen usaha, modernisasi kandang dengan memanfaatkan bantuan pemerintah, serta menerapkan praktik pemeliharaan yang baik untuk meningkatkan ketahanan ternak terhadap penyakit. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi peternak, pemerintah daerah, dan akademisi dalam merumuskan kebijakan pengembangan peternakan sapi bali secara berkelanjutan.</p>2026-01-29T10:36:02+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/25743Kualitas Semen Beku Babi Landrace Dalam Pengencer Vitasem Dengan Level DMSO Yang Berbeda2026-01-29T11:15:53+00:00Maria Heni Beto Lamorenmariahenibetolamoren@gmail.comPetrus R. KuneKunepetrus@gmail.comNi Made Paramita R. Setyanimade.setyani@staf.undana.ac.idAlvrado Bire Lawaalvrado.bire.lawa@staf.undana.ac.id<p>Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas semen beku babi landrace dalam pengencer vitasem+kuning telur (vkt) dengan level <em>Dimethyl Sulfoxide</em> (DMSO) yang berbeda. Semen yang dipakai dalam penelitian ini berasal dari pejantan babi landrace berumur 2 tahun yang sehat. Analisis kualitas semen dilakukan berdasarkan pengamatan makroskopis dan mikroskopis. Semen berkualitas baik diproses dengan penambahan pengencer dasar, kemudian di <em>holding time</em> selama 2 jam pada suhu ruang berkisar 27-28℃. Semen diproses lebih lanjut melalui sentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit. Supernatan dibuang, dan endapan diencerkan kembali dengan pengencer dasar, lalu dibagi keempat tabung perlakuan. Sebelum dibekukan, semen dievaluasi untuk mengetahui motilitas, viabilitas, abnormalitas, kemudian dikemas dalam <em>straw</em> yang berukuran 0,5 mL. <em>Straw</em> diekuilibrasi 2 jam pada suhu 3-5℃. Proses pembekuan dilakukan 10 cm diatas nitrogen cair selama 10 menit pada suhu -110℃, selanjutnya disimpan di kontainer nitrogen cair pada suhu -196℃. Tidak ada pengaruh nyata (P>0,05) dari penambahan level DMSO yang berbeda terhadap motilitas, viabilitas, abnormalitas, dan <em>recovery rate</em> spermatozoa dalam penelitian ini. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penambahan level DMSO yang berbeda dalam pengencer vitasem mampu mempertahankan spermatozoa pasca <em>thawing </em>dengan perlakuan terbaik pada P3 dengan nilai motilitas 39,43%, viabillitas 64,84%, abnormalitas 8,72%, dan <em>recovery rate</em> (RR) 43,04%.</p>2026-01-29T11:15:53+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/26744Pengaruh Suplementasi Tepung Daun Katuk dan Seng Biokompleks terhadap Profil Darah Kambing Peranakan Etawa Bunting2026-01-29T11:50:56+00:00Indah Indriyani Malasari Asharindahashar.ia@gmail.comFranky M.S Teluperepapyt2018@gmail.comYakob R. Noachnoach_yakob@yahoo.com<p>The purpose of this study was to analyze the blood profile of pregnant Etawah crossbred goats supplemented with katuk leaf flour and zinc biocomplex. The twelve pregnant Etawah crossbred goats used in this study each had a body weight ranging from 35 to 42 kilograms, with an average of 38.2.3 kilograms and a standard deviation of 6.06%. Completely Randomized Design (CRD) was used in this study, which included four different treatments and three replications. In this study, the treatments were as follows: R0 = Parental pattern feed (Green 10% BW and Concentrate 400 g), R1 = R0 + Katuk Leaf 10% of the portion of Parental Pattern Green BK, R2 = R1 + Zn Biocomplex 1.03 g/kg concentrate, and R3 = R1 + Zn Biocomplex 2.06 g/kg concentrate. Analysis of Variance was used to test the collected data. Based on the results of the study, hemoglobin values ranged from 15,067 to 17,093 mm3, erythrocyte values ranged from 9,590 to 12,163 million per mm3, leukocyte values ranged from 10,907 to 11,680 thousand per mm3, and hematocrit values ranged from 45,200 to 51,280%. Based on the results of statistical analysis, the therapy did not provide a significant effect (P>0.05) on hemoglobin levels, erythrocytes, leukocytes, or other blood components. It can be concluded that the addition of katuk flour and zinc biocomplex to the feed pattern of farmers did not affect the blood profile of pregnant Etawah crossbred goats.</p> <p>Tujuan penelitian ini adalah menganalisis profil darah kambing peranakan Etawah bunting yang diberi suplemen tepung daun katuk dan biokompleks seng. Dua belas ekor kambing peranakan Etawah bunting yang digunakan dalam penelitian ini masing-masing memiliki berat badan berkisar antara 35 sampai dengan 42 kilogram, dengan rata-rata 38,2,3 kilogram dan simpangan baku 6,06%. Rancangan Acak Lengkap (RAL) digunakan dalam penelitian ini, yang meliputi empat perlakuan berbeda dan tiga kali ulangan. Dalam penelitian ini, perlakuannya adalah sebagai berikut: R0 = Pakan pola indukan (Hijau 10% BB dan Konsentrat 400 g), R1 = R0 + Daun Katuk 10% dari porsi Hijauan Pola Induk BK, R2 = R1 + Biokompleks Zn 1,03 g/kg konsentrat, dan R3 = R1 + Biokompleks Zn 2,06 g/kg konsentrat. Analisis Varians digunakan untuk menguji data yang dikumpulkan. Berdasarkan hasil penelitian, nilai hemoglobin berkisar antara 15.067 sampai 17.093 mm3, nilai eritrosit berkisar antara 9.590 sampai 12.163 juta per mm3, nilai leukosit berkisar antara 10.907 sampai 11.680 ribu per mm3, dan nilai hematokrit berkisar antara 45.200 sampai 51.280%. Berdasarkan hasil analisis statistik, terapi tersebut tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap kadar hemoglobin, eritrosit, leukosit, maupun komponen darah lainnya. Dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung katuk dan biokompleks zink pada pola pakan peternak tidak memberikan pengaruh terhadap profil darah kambing peranakan Etawah bunting.</p>2026-01-29T11:50:56+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/26754Pengaruh Lemak Telo Dan Dedak Padi Terhadap Konsumsi Nitrogen, Retensi Nitrogen Dan Nilai Biologis Ransum Ternak Kambing Kacang2026-01-29T15:02:32+00:00Vivi Prianti Mbuilimapriantimbuilima@gmail.comEdwin J. L Lazarusedwinlazarus@staf.undana.ac.idImanuel Benuimanuelbenu@staf.undana.ac.id<p>This study aims to evaluate the use of rice bran mixed with beef tallow (daklow) on nitrogen consumption, nitrogen retention, and biological value of goat feed. Four male goats aged 11-12 months with an average body weight of 17 kg were used as experimental animals. The study used a Latin Square Design (LSD) with 4 treatments and 4 periods as replicates. The ratio of rice bran and beef tallow was 60:40. The treatments given were P0 = Forage + Concentrate (without daklow), P1 = Forage + Concentrate with 10% daklow, P2 = Forage + Concentrate with 15% daklow, P3 = Forage + Concentrate with 20% daklow. The data obtained were analyzed using ANOVA and Duncan's multiple range test. The results showed that the use of daklow in the ration significantly (P<0.05) affected nitrogen consumption, while nitrogen retention and the biological value of the ration were not significantly affected (P>0.05). It was concluded that the use of daklow at a level of 20% in the ration could be used in the ration for goat farming.</p> <p>ABSTRAK</p> <p>Penelitian ini dilakukan untuk memastikan efek lemak telo dam dedak padi yang dicampur terhadap Konsumsi Nitrogen, Retensi Nitrogen, dan Nilai Biologis ransum ternak kambing kacang. Biota uji yang digunakan ialah ternak kambing kacang jantan berusia 11-12 bulan sebanyak 4 ekor dengan rata-rata berat tubuh 17 kg. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) dengan 4 perlakuan dan 4 periode sebagai ulangan. Imbangan dedak padi dan lemak telo adalah 60:40. Perlakuan yang diberikan ialah P0 = Hijauan + Konsentrat (tanpa daklow), P1 = Hijauan + Konsentrat dengan 10% daklow, P2 = Hijauan + Konsentrat dengan 15% daklow, P3 = Hijauan + Konsentrat dengan 20% daklow. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA, kemudia bila berpengaruh nyata, maka diuji jarak Duncan. Hasil ANOVA menunjukkan penggunaan daklow dalam ransum nyata (P<0.05) mempengaruhi Konsumsi Nitrogen sedangkan tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap Retensi Nitrogen dan Nilai Biologis ternak kambing. Disimpulkan bahwa penggunaan daklow dengan level 20% dalam ransum dapat dipakai dalam konsentrat pada ransum ternak kambing.</p>2026-01-29T15:02:32+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/25560Pengaruh Penambahan Sari Buah Sirsak (Annona Muricata L.) Dalam Pengencer Tris Kuning Telur Terhadap Kualitas Spermatozoa Babi Persilangan Landrace Dan Duroc2026-01-29T16:06:03+00:00Ichan Triana Emalichantrianaemal@gmail.comPetrus KuneKunepetrus@gmail.comNi Made Paramita Setyanimade.setyani@staf.undana.ac.idAlvrado Bire Lawaalvrado.bire.lawa@staf.undana.ac.id<p> </p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> <p>This study aims to determine the effect of the addition of soursop juice <em>(Annona</em> <em>muricata L)</em> in egg yolk Tris diluent on the quality of spermatozoa of landrace x duroc crossbred boar. Fresh semen obtained from 1.5 year old male boar. This study used an experimental method and a completely randomised design (CRD) which included 6 treatments and 5 replications, namely: T0 = Tris egg yolk (T-EY), T1 = Tris egg yolk (T-EY) + Soursop fruit juice (SFJ) 2%, T2 = Tris egg yolk (T-EY) + Soursop fruit juice (SFJ) 4%, T3= Tris egg yolk (T-EY)+ Soursop fruit juice (SFJ) 6%, T4= Tris egg yolk (T-EY)+ Soursop fruit juice (SFJ) 8%,T5= Tris egg yolk (T-EY)+ Soursop fruit juice (SFJ) 10%. All treatments were stored in a cool box with 15-20℃. Evaluation was done every 12 hours of storage on motility, viability, abnormality, and survival of spermatozoa up to 40% motility. Data were analysed using <em>analysis of variance</em> (ANOVA) and continued with the Duncan test. The results showed that treatment T4 with the addition of 8% soursop juice was able to maintain the quality of spermatozoa during 48 hours of storage with a motility percentage of 49.00 ± 5.48%, viability of 56.00 ± 4.74%, abnormality of 4.80 ± 0.45% and survival of 56.60 ± 1.52 hours. It can be concluded that the provision of 8% soursop juice level (T4) in egg yolk Tris diluent is able to maintain the quality of spermatozoa of landrace x duroc crossbred pigs for 48 hours.</p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sari sirsak terhadap kualitas spermatozoa babi persilangan Landrace dan Duroc ketika ditambahkan ke pengencer kuning telur tris. P0 (kuning telur tris tanpa penambahan) dan P1 hingga P5 (sari sirsak yang ditambahkan 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10%) merupakan enam perlakuan dan lima ulangan dalam pendekatan eksperimental penelitian ini, yang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Setiap dua belas jam, penilaian motilitas, viabilitas, abnormalitas, dan kelangsungan hidup sperma dilakukan hingga motilitas mencapai 40%. Semua perlakuan disimpan dalam kotak dingin bersuhu antara 15 dan 20°C. Analisis data menggunakan ANOVA, dilanjutkan dengan uji Duncan. Dengan motilitas 49,00±5,48%, viabilitas 56,00±4,74%, abnormalitas 5,80±0,45%, dan kelangsungan hidup 54,00±4,00 jam selama 48 jam penyimpanan, perlakuan P4 (penambahan sari sirsak 8%) menghasilkan hasil terbaik, menurut data. Kualitas dan viabilitas spermatozoa babi hutan hasil persilangan dapat ditingkatkan dengan menambahkan sari sirsak 8% ke dalam pengencer kuning telur Tris.</p>2026-01-29T16:06:02+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/24865Pengaruh Pemberian Asap Cair Daun Kesambi (Schleichera Oleosa) terhadap Aktivitas Antioksidan, Kolestrol, Warna L a b, dan Rendemen pada Daging Se’i Kambing2026-01-30T05:50:42+00:00Juanda Taektjuanda151@gmail.comBastari Sabtubastarisabtu@staf.undana.ac.idGeertruida M. Sipahelutsipahelutetje@gmail.com<p><strong>This research aims to examine the effect of adding liquid smoke from kesambi leaves (Schleichera oleosa) on the quality of goat se'i meat which includes antioxidant activity, cholesterol levels, L a b color and yield. The research was structured using a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and four replications. The treatments applied consisted of P0 as a control without the addition of liquid smoke (0%), P1 with a liquid smoke level of 1%, P2 with a level of 3%, and P3 with a level of 6%. The variables observed included antioxidant activity, cholesterol levels, meat color parameters based on the L a b system and yield values. The data obtained were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and continued with the Duncan test to determine differences between treatments. The results showed that the addition of liquid smoke from kesambi leaves had a significant effect on increasing antioxidant activity, reducing cholesterol levels, and changing the b color value (P < 0.05). On the other hand, the treatments did not show significant differences in the color values of L, a, or the yield of se'i goat meat (P > 0.05). Thus, the use of liquid smoke from kesambi leaves has the potential to improve the functional quality of se'i goat meat without affecting the yield of the final product</strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong> </strong>Kajian ini mengkaji pengaruh asap Schleichera oleosa (daun Kassambi) terhadap aktivitas antioksidan, kolesterol, warna, dan hasil produksi pada anjing Labrador retriever. Rancangan Acak Lengkap (RAL) digunakan, dengan empat kelompok perlakuan, masing-masing diulang empat kali. Kelompok perlakuan meliputi P0 (kelompok kontrol (0%)), P1 (cairan asap dengan konsentrasi 1%), P2 (cairan asap dengan konsentrasi 3%), dan P3. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini meliputi aktivitas antioksidan, kolesterol, warna, dan hasil produksi pada anjing Labrador retriever. Data dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) dan uji Duncan untuk mengetahui perbedaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok perlakuan berpengaruh signifikan terhadap aktivitas antioksidan, kolesterol, dan warna b (nilai P < 0,05). Pengaruh warna terhadap L, a, dan rendemen tidak berbeda signifikan antar kelompok perlakuan (P > 0,05). Penelitian ini menemukan bahwa penambahan asap daun kesambi meningkatkan warna b dan memengaruhi aktivitas antioksidan daging kambing. Namun, hal tersebut tidak memengaruhi rendemen, warna L, maupun a.</p>2026-01-30T03:47:03+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/27002Pengaruh Pemberian Bahan Herbal Terfermentasi Dengan Bioaktifator Lokal Pada “Liquid Feed” Terhadap Kecernaan Bahan Kering Dan Bahan Organik Ternak Babi Peranakan Landrace2026-01-31T15:18:52+00:00Heka benu Benu Hekahekabenu46@gmail.comSabarta Sembiringsabrta@staf.undana.ac.idI Made S. Aryantamadearyan@staf.undana.ac.id<p>The purpose of this study was to determine the effect of the use of fermented herbal ingredients with local bioactivators on the consumption and digestibility of dry matter and organic matter of landrace pigs and also to determine the best level of fermented herbal ingredients. The livestock used were 12 pigs of the grower phase landrace breed aged 3-4 months with an initial body weight ranging from 34-43 kg with an average of 37 kg (CU = 4.12%). This study were Completely Randomized Design (CRD) which consists of 4 treatments and 3 repeats so that there are 12 experimental units. The treatments given is H0: liquid feed without herbs, H1: liquid feed + fermented herbs 10%, H2: liquid feed + fermented herbs 15% and H3: liquid feed + fermented herbs 20%. The variables studied are the consumption and digestibility of dry matter and organic matter. The results showed that the treatment had a highly significant effect (P<0.01) on the consumption and digestibility of dry matter and organic matter. It was concluded that the use of fermented herbal ingredients in basal rations at the level of 15% and 20% increased the consumption and digestibility of dry matter and organic matter of pigs, the administration of 20% fermented herbs provided the highest digestibility of dry matter and organized matter of grower phase pigs.</p> <p> </p> <p>Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan bahan herbal terfermentasi dengan bioaktifator lokal terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik ternak babi peranakan landrace dan juga untuk mengetahui level terbaik dari pemberian bahan herbal terfermentasi. Ternak yang digunakan 12 ekor ternak babi peranakan landrace fase grower yang berumur 3-4 bulan dengan bobot badan awal berkisar 34-43 kg dengan rataan 37 kg (KV=4,12%). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan sehingga terdapat 12 unit percobaan. Perlakuan yang diberikan adalah H0: liquid feed tanpa herbal, H1: liquid feed + herbal fermentasi 10%, H2: liquid feed + herbal fermentasi 15% dan H3: liquid feed + herbal fermentasi 20%. Variabel yang diteliti adalah konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik. Disimpulkan bahwa penggunaan bahan herbal terfermentasi dalam ransum basal pada level 15% dan 20% meningkatkan konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik ternak babi, pemberian 20% herbal terfermentasi memberikan kecernaan tertinggi terhadap bahan kering dan bahan organi ternak babi fase grower.</p>2026-01-31T15:18:51+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/24881Kualitas Kimia Dan Mikrobiologi Daging Babi Yang Direndam Ekstrak Daun Senduduk (Melastoma Malabathricum L) Dengan Waktu Berbeda2026-02-01T11:59:48+00:00Romualda Suryati Ratnaaldaratna23@gamail.comGeertruida M. Sipahelutsipahelutetje@gmail.comBastari Sabtubastarisabtu@staf.undana.ac.id<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Berbagai inovasi dalam upaya peningkatan kualitas dan daya simpan produk daging, salah satunya dengan menambahkan bahan herbal dalam proses pengolahannya, yaitu daun senduduk (<em>Melastoma malabathricum L)</em>. Tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama perendaman daging babi segar menggunakan ekstrak daun Senduduk terhadap kualitas kimia dan mikrobiologi. Metode kajian ini adalah metode Rancangan acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari P0= kontrol (perendaman 0 jam), P1= perendaman 8 jam, P2= perendaman 16 jam dan P3= perendaman 24 jam. Variabel yang diteliti yaitu oksidasi lemak (TBA), kadar kolesterol, kadar lemak dan <em>Total Plate count</em> (TPC). Hasil kajian ini menampilkan lama perendaman daging babi segar menggunakan ekstrak daun senduduk sebanyak 15% sangat signifikan (P<0,01) terhadap oksidasi lemak, kadar kolesterol dan kadar lemak, akan tetapi tidak signifikan (P>0,05) terhadap <em>Total Plate count</em> (TPC). Kesimpulannya adalah nilai oksidasi lemak, kadar kolesterol dan kadar lemak daging babi segar yang direndam menggunakan ekstrak daun Senduduk sebanyak 15% mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya waktu perendaman sampai P3 (24 jam), sedangkan <em>Total Plate count</em> (TPC) mengalami penurunan sampai perlakuan P3 (24 jam) akan tetapi, penurunannya secara signifikan tidak berbeda nyata.</p> <p> </p> <p><em>Kata kunci: daging babi, esktrak daun senduduk, kualitas kimia, lama perendaman, TPC</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Various innovations in improving the quality and shelf life of meat products, one of which is by adding herbal ingredients in the processing process. Namely senduduk leaves (<em>Melastoma malabathricum L</em>). The purpose of this study was to determine the effect of the duration of immersion fresh pork using Senduduk leaf extract on chemical and microbiological quality. This research method is a Completely Randomized Design (CRD) method with 4 treatments and 4 replications. The treatments consisted of T0 = control (0 hour immersion), T1 = 8 hour immersion, T2 = 16 hour immersion and T3= 24 hour immersion. The variables studied were fat oxidation (TBA), cholesterol levels, fat levels and Total Plate Count (TPC). The results of this study indicate that the duration of immersion fresh pork using 15% senduduk leaf extract has a significant effect (P <0.01) on fat oxidation, cholesterol levels and fat levels, but it has no real effect (P >0.05) on Total Plate Count (TPC). The conclusion is that the fat oxidation value, cholesterol content and fat content of fresh pork soaked using 15% Sendunia leaf extract decreased with increasing soaking time up to T3 (24 hours), meanwhile Total Plate Count (TPC) decreased up to T3 (24 hours) but, the decrease was not significantly different.</p> <p><em>Key words: chemical quality, Fresh pork, immersion duration</em><em>, </em><em>senduduk leaf extract, TPC</em></p>2026-02-01T05:47:16+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/27317Pengaruh Pemberian Rebusan Daun Chaya (Cnidoscolus aconitifolius) Melalui Air Minum Terhadap Persentase Organ Pencernaan Broiler2026-02-01T15:49:03+00:00Muhammad Herman Abdullahmhermanabdullah03@gmail.comNi Putu F. Suryatniniputufsuryatni@staf.undana.ac.iidSimon Edison Muliksimonedisonmulik@staf.undana.ac.idAlbert N. Edison Ndunalbethndun@gmail.com<p>The objective of this study was to assess the effect of adding chaya (Cnidoscolus aconitifolius) leaf decoction to drinking water on the proportion of liver, gizzard, and small intestine, and on the length of the small intestine in broiler chickens. A total of 100 CP 707 broiler chickens were used in this experiment, which employed a completely randomized design (CRD). Five treatment groups were established, each with four replicates of five birds. The treatments consisted of P0 (plain drinking water as the control), P1 (25 ml of chaya leaf decoction diluted in 975 ml of water), P2 (50 ml decoction in 950 ml of water), P3 (75 ml decoction in 925 ml of water), and P4 (100 ml decoction mixed with 900 ml of water). The parameters measured included the relative weights of liver and gizzard, the percentage and length of the small intestine. Statistical analysis revealed no significant differences (P > 0.05) among treatment groups for any of the digestive organ measurements. Furthermore, administration of chaya leaf decoction at levels up to 100 ml per liter of drinking water did not significantly affect the proportions or measurements of liver, gizzard, or small intestine in broiler chickens, although there was a non-significant tendency toward reduced small intestine length.</p> <p>ABSTRAK</p> <p>Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh penambahan rebusan daun <em>chaya </em>(<em>Cnidoscolus aconitifolius</em>) ke dalam air minum terhadap proporsi hati, ampela, dan usus halus, serta panjang usus halus pada ayam broiler. Sebanyak 100 ekor ayam broiler CP 707 digunakan dalam percobaan ini. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri dari lima kelompok perlakuan yang berbeda, masing-masing diulang empat kali, dengan setiap ulangan melibatkan lima ekor ayam. Empat perlakuan percobaan tersebut disusun sebagai berikut: P0 = air minum biasa sebagai kelompok kontrol; P1 = 25 ml rebusan daun <em>chaya </em>yang diencerkan dalam 975 ml air; P2 = 50 ml rebusan dalam 950 ml air; P3 = 75 ml rebusan dalam 925 ml air; dan P4 = 100 ml rebusan daun <em>chaya </em>yang dicampur dengan 900 ml air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian rebusan daun <em>chaya </em>melalui air minum tidak menghasilkan perbedaan yang bermakna secara statistik (P > 0,05) dalam proporsi hati, rasio ampela, persentase usus halus, maupun panjang usus halus pada ayam broiler. Kesimpulan, Pemberian rebusan daun <em>chaya </em>dalam air minum dengan level 25ml, 50ml, 75ml, dan 100ml cenderung menurunkan panjang usus halus, namun secara statistik tidak mempengaruhi organ pencernaan hati, ampela, bobot dan panjang usus halus ayam broiler.</p>2026-02-01T15:49:03+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/25009Pengaruh Pemberian Rebusan Krokot (Portulaca oleracea L) dalam Air Minum terhadap Persentase Bobot Organ Imun Ayam Broiler2026-02-02T04:48:08+00:00Khadijah Hasandijemahink1@gmail.comAgustinus Konda MalikAgustinuskondamalik@gmail.comJonas Frits TheedensJonastheedens@staf.undana.ac.id<p>This study aims to examine the effect of adding purslane (Portulaca oleracea L) decoction to drinking water on the percentage increase in the weight of broiler chicken immune organs. The study used a completely randomized design with 100 broiler chickens divided into four treatments and five replicates, namely P0: no purslane decoction (control), P1 25 ml/L addition to drinking water, P2 50 ml/L, and P3 75 ml/L. The variables studied included the percentage of weight of the bursa of Fabricius, thymus, and spleen. The results showed that the addition of croton decoction up to a level of 75 ml had no significant effect (P>0.05) on the percentage of the weight of the bursa of Fabricius and spleen, but had a significant effect (P<0.05) on the percentage of the weight of the thymus. Based on these results, it can be concluded that administering 25 ml/L of krokot decoction in drinking water is the best treatment because it can increase thymus weight and maintain the weight of the bursa of Fabricius and spleen within normal ranges.</p> <p>ABSTRAK</p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian rebusan krokot (Portulaca oleracea L) dalam air minum terhadap pertambahan persentase bobot organ imun ayam broiler. Dalam proses penelitian ini melalui penggunaan rancangan acak lengkap dan sebanyak 100 ekor ayam broiler yang didistribusikan secara acak ke dalam empat perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan terdiri dari P0: tanpa penambahan rebusan krokot (kontrol), P1: 25 ml rebusan krokot/1 liter air minum, P2: 50 ml rebusan krokot/1 liter air minum, dan P3: 75 ml rebusan krokot/1 liter air minum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian rebusan krokot hingga level 75 ml berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap persentase bobot bursa fabrisius dan limpa namun mempengaruhi secara nyata (P<0,05) pada persentase bobot timus. Berlandaskan perolehan penelitian, didapati simpulan bahwasanya pemberian rebusan krokot pada perlakuan P1 (25 ml) memberikan hasil terbaik karena dapat meningkatkan bobot timus serta menjaga bobot bursa fabrisius dan limpa tetap berada dalam kisaran normalPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian rebusan krokot (Portulaca oleracea L) dalam air minum terhadap pertambahan persentase bobot organ imun ayam broiler. Dalam proses penelitian ini melalui penggunaan rancangan acak lengkap dan sebanyak 100 ekor ayam broiler yang didistribusikan secara acak ke dalam empat perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan terdiri dari P0: tanpa penambahan rebusan krokot (kontrol), P1: 25 ml rebusan krokot/1 liter air minum, P2: 50 ml rebusan krokot/1 liter air minum, dan P3: 75 ml rebusan krokot/1 liter air minum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian rebusan krokot hingga level 75 ml berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap persentase bobot bursa fabrisius dan limpa namun mempengaruhi secara nyata (P<0,05) pada persentase bobot timus. Berlandaskan perolehan penelitian, didapati simpulan bahwasanya pemberian rebusan krokot pada perlakuan P1 (25 ml) memberikan hasil terbaik karena dapat meningkatkan bobot timus serta menjaga bobot bursa fabrisius dan limpa tetap berada dalam kisaran normal</p> <p>This study was conducted to investigate the influence of purslane (Portulaca oleracea L.) decoction in drinking water on the relative weight of immune organs in broiler chickens. The study employed a completely randomized design involving 100 broiler chickens, which were allocated into four treatments with five replications each. The treatments consisted of P0: without purslane decoction (control), P1: 25 ml purslane decoction per liter of drinking water, P2: 50 ml per liter, and P3: 75 ml per liter. The findings indicated that the administration of purslane decoction up to 75 ml did not significantly affect (P>0.05) the relative weight of the bursa of Fabricius and spleen, but revealed a meaningful impact (P<0.05) on the relative weight of the thymus. It can therefore be concluded that treatment P1 (25 ml) yielded the most favorable result, as it increased thymus weight while keeping the bursa of Fabricius and spleen within normal weight ranges.</p> <p>This study was conducted to investigate the influence of purslane (Portulaca oleracea L.) decoction in drinking water on the relative weight of immune organs in broiler chickens. The study employed a completely randomized design involving 100 broiler chickens, which were allocated into four treatments with five replications each. The treatments consisted of P0: without purslane decoction (control), P1: 25 ml purslane decoction per liter of drinking water, P2: 50 ml per liter, and P3: 75 ml per liter. The findings indicated that the administration of purslane decoction up to 75 ml did not significantly affect (P>0.05) the relative weight of the bursa of Fabricius and spleen, but revealed a meaningful impact (P<0.05) on the relative weight of the thymus. It can therefore be concluded that treatment P1 (25 ml) yielded the most favorable result, as it increased thymus weight while keeping the bursa of Fabricius and spleen within normal weight ranges.</p>2026-02-02T04:48:08+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/25728Penerapan Biosekuriti pada Usaha Ternak Ayam Broiler di Kecamatan Adonara Kabupaten Flores Timur2026-02-02T13:00:47+00:00Marsianus Rate Kawat Edison Risnoamaratekawat508@gmail.comMaria Yasinta Lurukmarialuruk@staf.undana.ac.idMaria Krovaaguskm021@gmail.comNi Putu F. Suryatniniputufsuryatni@staf.undana.ac.iid<p>A study has been comducted on the application of biosecurity in broiler chicken farming in Adonara district, east Flores regency. This study aims to assess the aplication of biosekurityin developing broiler chicken farming in Adonara district, east Flores regency. The research method used was a survey to obtain primary and secaondary data through observation, interview and dokumentation techniques. The sampling method was carried out through a cencus at the farmer level in Adonara district of 16 farmers. The analysis method used was deskriptive method. The results of the study indicate that brilerchicken farming in Adonara distict product a fairly good level of compliance, with an overal percentage of 63.22%. several aspects that require further attention to biosekurity against feed (5.75%), biosekurity against sick or dead chicken (5.06%), biosekurity against cage cleanliness (4.25%), and significantly increase the efectiveness and productivity of broiler chicken farming include biosecurity against guest workers (1.93%)</p> <p>ABSTRAK</p> <p>Telah dilakukan suatu penelitian tentang penerapan biosekuriti pada usaha ternak ayan broiler di Kecamatan Adonara Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini bertujuan mengkaji penerapan biosekuriti untuk pengembangan usaha ternak ayam broiler di Kecamatan Adonara Kabupaten Flores Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei untuk memperoleh data primer dan data sekunder melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode pengambilan contoh dilakukan melalui sensus pada tingkat peternak di Kecamatan Adonara sebanyak 16 peternak. Metode analisis data yang digunakan adalah metode <em>deskriptif</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha ternak ayam broiler di kecamatan adonara menunjukan tingkat kepatuhan yang cukup baik, dengan persentase keseluruhan sebesar 63,22%. Beberapa aspek yang memerlukan perhatian lebih lanjut untuk meningkatkan efektivitas dan produktivitas secara signifikan dari usaha ternak ayam broiler antara lain biosekuriti terhadap tamu pekerja (1,93%), biosekuriti terhadap ayam sakit atau mati (5,06%), biosekuriti terhadap kebersihan petugas kandang (4,25%), dan biosekuriti terhadap pakan (5,75%).</p>2026-02-02T13:00:47+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/27267Pengaruh Pemberian Vitamin C Dengan Kepadatan Kandang Yang Beerbeda Tehadap Produksi Karkas Ayam Broiler2026-02-02T16:12:53+00:00Zakarias Kundazakariaskunda@gmail.comNi Putu F. Suryatniniputufsuryatni@staf.undana.ac.iidSimon Edison Mulikdijemahink1@gmail.com<p>This study investigated the effect of vitamin C supplementation on broiler carcass yield at the Undana Dryland facility at the Faculty of Animal Husbandry, Marine Affairs, and Fisheries, Nusa Cendana University. PT. 192 day-old chicks (DOC) of CP707 brand were used. They were fed commercial feeds CP11 and CP12 produced by Charoen Pokphand Group. This completely randomized design (CRD) experiment used a 3 x 3 factorial model with nine treatment combinations and four replications, for a total of 36 treatment units. The first factor was stocking density, which varied from 3 birds/0.5 m2, 5 birds/0.5 m2, and 8 birds/0.5 m2, respectively. The second factor was vitamin C, which was added at concentrations of 200 mg, 250 mg, and 300 mg. The study found an interaction between vitamin C and stocking density on final body weight, but not on non-carcass percentage and abdominal fat percentage (P value < 0.05). The cage density significantly affected the final body weight (P > 0.05), but not significantly affected the carcass percentage, non-carcass percentage, or abdominal fat percentage. The results of the study were that cage density and vitamin C significantly affected the final body weight, but not significantly affected the carcass percentage, non-carcass percentage, or abdominal fat percentage. Birds treated with K1C1 (3 birds/0.5 m2, vitamin C 200 mg/L) and K3C1 (8 birds/0.5 m2, vitamin C 200 mg/L) had the highest and lowest body weights, respectively</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Studi ini menyelidiki pengaruh suplementasi vitamin C terhadap hasil karkas broiler di fasilitas Lahan Kering Undana di Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana. PT. 192 anak ayam umur sehari (DOC) merek CP707 digunakan. Mereka diberi pakan komersial CP11 dan CP12 yang diproduksi oleh Charoen Pokphand Group. Percobaan rancangan acak lengkap (RAL) ini menggunakan model faktorial 3 x 3 dengan sembilan kombinasi perlakuan dan empat ulangan, dengan total 36 unit perlakuan. Faktor pertama ialah kepadatan kandang, yang bervariasi dari 3 ekor/0,5 m2, 5 ekor/0,5 m2, dan 8 ekor/0,5 m2, secara berurutan. Faktor kedua ialah vitamin C, yang ditambahkan pada konsentrasi 200 mg, 250 mg, dan 300 mg.Hasil studi ialahadanya interaksi antara vitamin C dan kepadatan kandang terhadap berat badan akhir, tetapi tidak terhadap persentase non-karkas dan persentase lemak abdomen (nilai P < 0,05). Kepadatan kandang signifikan nyata terhadap berat badan akhir (P > 0,05), tetapi tidak signifikan nyata terhadap persentase karkas, persentase non-karkas, maupun persentase lemak abdomen. Hasil studi ialah kepadatan kandang dan vitamin C signifikan terhadap berat badan akhir, tetapi tidak signifikan terhadap persentase karkas, persentase non-karkas, maupun persentase lemak abdomen. Unggas yang diberi perlakuan K1C1 (3 ekor/0,5 m2, vitamin C 200 mg/L) dan K3C1 (8 ekor/0,5 m2, vitamin C 200 mg/L) masing-masing memiliki berat badan tertinggi dan terendah.</p> <p><strong><em>Kata kunci</em></strong><em>: ayam broiler, kepadatan kandang, vitamin C, karkas </em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>This study investigated the effect of vitamin C supplementation on broiler carcass yield at the Undana Dryland facility at the Faculty of Animal Husbandry, Marine Affairs, and Fisheries, Nusa Cendana University. PT. 192 day-old chicks (DOC) of CP707 brand were used. They were fed commercial feeds CP11 and CP12 produced by Charoen Pokphand Group. This completely randomized design (CRD) experiment used a 3 x 3 factorial model with nine treatment combinations and four replications, for a total of 36 treatment units. The first factor was stocking density, which varied from 3 birds/0.5 m2, 5 birds/0.5 m2, and 8 birds/0.5 m2, respectively. The second factor was vitamin C, which was added at concentrations of 200 mg, 250 mg, and 300 mg. The study found an interaction between vitamin C and stocking density on final body weight, but not on non-carcass percentage and abdominal fat percentage (P value < 0.05). The cage density significantly affected the final body weight (P > 0.05), but not significantly affected the carcass percentage, non-carcass percentage, or abdominal fat percentage. The results of the study were that cage density and vitamin C significantly affected the final body weight, but not significantly affected the carcass percentage, non-carcass percentage, or abdominal fat percentage. Birds treated with K1C1 (3 birds/0.5 m2, vitamin C 200 mg/L) and K3C1 (8 birds/0.5 m2, vitamin C 200 mg/L) had the highest and lowest body weights, respectively.</p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: broiler chickens, cage density, vitamin C, carcass</em></p>2026-02-02T16:12:53+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/27294Pengaruh Lama Fermentasi Menggunakan Effective Microorganism 4 (Em4) Sebagai Inokulum Terhadap Kandungan Nutrisi Kulit Kopi2026-02-03T06:51:41+00:00Kornelia Lindalindahkornelia160@gmail.comTwenfosel O Dami Datotwendamidato241061@gmail.comMarkus M. Kledenmkleden21@gmail.comMarthen L. Mullikmarthenmullik@staf.undana.ac.id<p>This study aimed to determine the effect of fermentation duration on the nutrient content (DM, OM, CP, and CF) of fermented coffee husk. A completely randomized design (CRD) with 6 treatments, namely 0 days (LF-0), 2 days (LF-2), 4 days (LF-4), 6 days (LF-6), 8 days (LF-8), and 10 days (LF-10). Each treatment was repeated 4 times. Parameters observed were the content of dry matter, organic matter, crude protein, and crude fiber. Data were analyzed using analysis of variance and Duncan's test. The results showed that the length of fermentation had a highly significant effect (P<0.001) on the content of dry matter, organic matter, crude protein, and crude fiber. Fermentation of coffee husk can increased the dry matter content in the treatment of 4 days fermentation (64,47%), organic matter 10 days (93.32%), and crude protein 2 days (10.45%), on the contrary, it decreased the crude fiber content in the treatment of 4 days fermentation (3.67%). It was concluded that the nutritional content of coffee husk had depended on the length of fermentation time and the best fermentation time to increase crude protein content and reduce crude fiber content had been at a fermentation time of 2 days.</p> <p>ABSTRAK</p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi terhadap kandungan (BK, BO, PK, dan SK) kulit kopi hasil fermentasi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan yakni: 0 hari (LF-0), 2 hari (LF-2), 4 hari (LF-4), 6 hari (LF-6), 8 hari (LF-8), dan 10 hari (LF-10). Setiap perlakuan diulang 4 kali. Parameter yang diamati adalah kandungan bahan kering, bahan organik, protein kasar, dan serat kasar. Data dianalisis dengan sidik ragam dan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi berpengaruh sangat nyata (P<0,001) terhadap kandungan bahan kering, bahan organik, protein kasar, dan serat kasar. Fermentasi kulit buah kopi dapat meningkatkan kandungan bahan kering pada perlakuan lama fermentasi 4 hari (64,47%), bahan organik 10 hari (93,32%), dan protein kasar 2 hari (10,45%), sebaliknya menurunkan kandungan serat kasar pada perlakuan lama fermentasi 4 hari (3,67%). Disimpulkan bahwa kandungan nutrisi kulit kopi tergantung pada lama waktu fermentasi dan lama waktu fermentasi yang terbaik untuk meningkatkan kandungan protein kasar dan menurunkan kandungan serat kasar terdapat pada lama fermentasi 2 hari.</p> <p><em>Kata kunci</em>: Biofermentasi, Inokulum EM4, Kandungan Nutrisi, Kulit Buah Kopi, Lama Fermentasi.</p>2026-02-03T06:51:41+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/24963Efek Suplementasi Premix Dalam Pakan Konsentrat Yang Terkandung Isi Rumen Fermentasi Pada Konsumsi Dan Kecernaan Betn Serta Energi Bali Bakalan2026-02-03T15:48:54+00:00Marselinus Marlon BiliLinusmarse572@gmail.comMarthen Yunusmarthenyunus@staf.undana.ac.idDaud Amalodaudamalo@staf.undana.ac.id<p>The study aimed to examine the effect of premix supplementation in concentrate feed containing fermented rumen contents on the consumption and digestibility of BETN and the energy of Bali cattle feeders. This study used 4 male Bali cattle aged 1-1.5 years with a body weight range of 69-74 kg with an average of 72.87 kg. The study method was an experimental method, using a Latin Square Design (RBSL) with 4 treatments and 4 replications. treatment: P0: Complete feed 70% lantoro + 30% concentrate without premix (Control), P1: Complete feed 70% lontoro + 30% concentrate + 0.5% premix, P2: Complete feed 70% lontoro + 30% concentrate + 1.0% premix, P3: Complete feed 70% lontoro + 30% concentrate + 1.5% premix. The data obtained were analyzed using Analysis of variance (ANOVA). According to the study results, BETN consumption (g/e/h) P0; 994.84, P1; 1018.21, P2; 1057.98, P3; 1065.51, energy consumption (kcal/e/h) P0; 8597.33, P1; 8799.27, P2; 9142.96, P3; 9208.09, BETN digestibility (%) P0; 75.24, P1; 77.53, P2; 78.58, P3; 78.99, energy digestibility (%) P0; 73.27, P1; 75.01, P2; 77.17, P3; 77.11. The results of the statistical analysis showed that the treatment had no significant effect (p>0.05) on BETN and energy consumption, but had a significant effect (p<0.05) on BETN and energy digestibility in Balinese cattle. The conclusion of this study is that premix supplementation with levels of 0.50%, 1.00%, 1.50% in complete feed based on fermented rumen contents provides the same effect between treatments on BETN and energy consumption, but has an effect on increasing BETN and energy digestibility.</p> <h1>ABSTRAK </h1> <p>Studi bertujuan untuk mengkaji efek suplementasi premix dalam pakan konsentrat yang terkandung isi rumen fermentasi pada konsumsi dan kecernaan BETN serta energi sapi bali bakalan. Studi ini mempergunakan 4 ekor sapi bali jantan pada kisaran umur 1-1,5 tahun dengan kisaran BB 69-74 kg dengan rerata 72.87 kg. Metode studi dengan metode experiment, mempergunakan Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. perlakuan: P<sub>0</sub>: Pakan komplit 70% lantoro+30% konsentrat tampa premix (Kontrol), P<sub>1</sub>: Pakan komplit 70% lontoro +30% konsentrat +0,5% premix, P<sub>2</sub> : Pakan komplit 70% lontoro +30% konsentrat +1,0% premix, P<sub>3</sub>: Pakan komplit 70% lontoro +30% konsentrat +1,5% premix. Data yang didapat dianalisis mempergunakan Analisis of variance (ANOVA). Sesuai hasil studi didapat konsumsi BETN (g/e/h) P<sub>0</sub>; 994.84, P<sub>1</sub>; 1018.21, P<sub>2</sub>; 1057.98, P<sub>3</sub>; 1065.51, konsumsi energi (kkal/e/h) P<sub>0</sub>; 8597.33, P<sub>1</sub>; 8799.27, P<sub>2</sub>; 9142.96, P<sub>3</sub>; 9208.09, kecernaan BETN (%) P<sub>0</sub>; 75.24, P<sub>1</sub>; 77.53, P<sub>2</sub>; 78.58, P<sub>3</sub>; 78.99, kecernaan energi (%) P<sub>0</sub>; 73.27, P<sub>1</sub>; 75.01, P<sub>2</sub>; 77.17, P<sub>3</sub>; 77.11. Hasil analisis statistik menampilkan perlakuan berefek tidak nyata (p>0,05) pada konsumsi BETN dan energi, namun memberikan efek yang nyata (p<0.05) pada kecernaan BETN dan energi pada sapi Bali jantan bakalan. Kesimpulan dari studi ini yakni suplementasi premix dengan level 0,50%, 1,00%, 1,50% dalam pakan komplit berbasis isi rumen fermentasi memberikan efek yang sama atara perlakuan pada konsumsi BETN dan energi, namun memberikan efek pada peningkatan kecernaan BETN dan energi.</p> <p><em>Kata kunci: </em><em>Isi rumen sapi, </em><em>Konsumsi Kecernaan, Pakan komplit, sapi Bali.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>The study aimed to examine the effect of premix supplementation in concentrate feed containing fermented rumen contents on the consumption and digestibility of BETN and the energy of Bali cattle feeders. This study used 4 male Bali cattle aged 1-1.5 years with a body weight range of 69-74 kg with an average of 72.87 kg. The study method was an experimental method, using a Latin Square Design (RBSL) with 4 treatments and 4 replications. treatment: P0: Complete feed 70% lantoro + 30% concentrate without premix (Control), P1: Complete feed 70% lontoro + 30% concentrate + 0.5% premix, P2: Complete feed 70% lontoro + 30% concentrate + 1.0% premix, P3: Complete feed 70% lontoro + 30% concentrate + 1.5% premix. The data obtained were analyzed using Analysis of variance (ANOVA). According to the study results, BETN consumption (g/e/h) P0; 994.84, P1; 1018.21, P2; 1057.98, P3; 1065.51, energy consumption (kcal/e/h) P0; 8597.33, P1; 8799.27, P2; 9142.96, P3; 9208.09, BETN digestibility (%) P0; 75.24, P1; 77.53, P2; 78.58, P3; 78.99, energy digestibility (%) P0; 73.27, P1; 75.01, P2; 77.17, P3; 77.11. The results of the statistical analysis showed that the treatment had no significant effect (p>0.05) on BETN and energy consumption, but had a significant effect (p<0.05) on BETN and energy digestibility in Balinese cattle. The conclusion of this study is that premix supplementation with levels of 0.50%, 1.00%, 1.50% in complete feed based on fermented rumen contents provides the same effect between treatments on BETN and energy consumption, but has an effect on increasing BETN and energy digestibility.</p> <p> <em>Keywords: Rumen content of cattle,Consumption Digestibility,Complete Feed,Bali Cattle</em></p>2026-02-03T15:48:54+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/JPLK/article/view/27430Pengaruh Lama Pengasapan Menggunakan Kayu Cemara Gunung ( Casuarinaceae junghuhniana) terhadap Kolesterol, Oksidasi Lemak, Total Bakteri Se’i Daging Babi2026-02-09T16:45:52+00:00Bernadino Aryanto Nahaknahakbernadino99@gmail.comGemini E. M. Malelakgeminimalelak@staf.undana.ac.idAgustinus R. Riwuagustinusrudolfriwu@staf.undana.ac.id<p>The purpose of this study was to determine the impact of the duration of Se'i pork smoking using spruce wood on the quality of pork chemical attributes. With four different treatments and three different replications, this research approach used a Completely Randomized Design (CRD). P1 is thirty minutes, P2 is forty minutes, P3 is fifty minutes, and P4 is sixty minutes. This is the duration of the smoking session. A statistical technique known as analysis of variance (ANOVA) was used to examine the variables assessed in this study. These variables include cholesterol, fat oxidation, and total bacteria of Se'i pork. In each treatment, the findings showed that the smoking time of Se'i pork had a significant impact (P>0.05) on cholesterol levels and fat oxidation levels. However, it did not have a significant impact (P>0.05) on total bacteria. Thus, it can be concluded that increasing the smoking time using mountain pine wood (Casuarinaceae junghuhniana) with a duration of up to 60 minutes in making pork Se'i shows a decrease in cholesterol and peroxide values, while the effect of smoking time does not change the TPC value.</p> <p><a name="_Toc136196592"></a>Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memastikan dampak dari lamanya waktu pengasapan Se'i babi menggunakan kayu cemara terhadap kualitas atribut kimia babi. Dengan empat perlakuan berbeda dan tiga kali ulangan berbeda, pendekatan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). P1 adalah tiga puluh menit, P2 adalah empat puluh menit, P3 adalah lima puluh menit, dan P4 adalah enam puluh menit. Ini adalah durasi sesi pengasapan. Teknik statistik yang dikenal sebagai analisis varians (ANOVA) digunakan untuk memeriksa variabel-variabel yang dinilai dalam penelitian ini. Variabel-variabel ini meliputi kolesterol, oksidasi lemak, dan total bakteri Se'i babi. Pada masing-masing perlakuan, temuan menunjukkan bahwa waktu pengasapan Se'i babi memiliki dampak yang signifikan (P>0,05) terhadap kadar kolesterol dan tingkat oksidasi lemak. Namun, tidak memiliki dampak yang signifikan (P>0,05) terhadap total bakteri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Peningkatan lama pengasapan menggunakan kayu cemara gunung <em>(Casuarinaceae junghuhniana)</em> dengan durasi waktu hingga 60 menit dalam pembuatan <em>Se’i</em> daging babi menunjukan penurunan nilai kolesterol dan nilai peroksida sedangkan pada nilai TPC pengaruh lama pengasapan tidak berubah.</p> <p> </p>2026-02-09T16:45:52+00:00##submission.copyrightStatement##