Wana Lestari
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari
<p>Wana Lestari Journal is published by the Forestry Study Program, Faculty of Agriculture, Universitas Nusa Cendana, Kupang, Indonesia. The journal provides a platform for scientific research and academic discussion in the field of forestry and related disciplines. Its scope includes forest planning, forestry policy, forest ecology, forest resource utilization, forest inventory, silviculture, forest resource conservation, forest product processing, forest socio-economics, and environmental studies. In addition, the journal also accommodates contributions in agricultural sciences that intersect with forestry and environmental sustainability.</p> <p><br>Wana Lestari Journal is published twice a year, with issues released in June and December.</p> <p><br>Wana Lestari Journal provides immediate open access to its content on the principle that making research freely available to the public fosters a wider global exchange of knowledge. By removing barriers to access, the journal supports the advancement of science, education, and policy development in forestry, agriculture, and environmental studies.</p> <p><br>e-ISSN: 2716 - 4179<br>p-ISSN: 2252 - 7974</p>Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendanaen-USWana Lestari2252-7974Identifikasi Faktor Penyebab Terjadinya Konflik Satwa dengan Masyarakat Desa Penyangga di Taman Nasional Kelimutu
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/24913
<p>Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor dan dampak penyebab konflik satwa dengan masyarakat desa penyangga di Taman Nasional Kelimutu, menganalisis persepsi masyarakat serta mengetahui jenis satwa yang sering menimbulkan gangguan. Konflik satwa dengan manusia semakin meningkat karena satwa liar kerap merusak lahan pertanian dan menimbulkan kerugian ekonomi . Penelitian dilakukan di 6 desa penyangga melalui purposive sampling sebanyak 93 responden. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi kemudian dianalisis secara deskriptif dan skala likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab terjadinya konflik dipicu dari tingkat kesukaan satwa liar terhadap jenis tanaman dan perambahan hutan dampak yang masyarakat alami berupa kerugian ekonomi karena satwa merusak tanaman pertanian milik masyarakat, Jenis satwa terdiri dari Babi hutan (Sus scrofa), monyet ekor panjang(Macaca fasciularis), landak (Erinaceinae), tikus besar (Bandicota bengalensis), dan musang (Paradoxurus hemaphroditus). Keseluruhan masyarakat memiliki persepsi positif karena keberadaan satwa itu untuk keseimbangan ekosistem berkelanjutan.</p>Fandham Junior BekalaniFadlan PramatanaYusratul Aini
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317221522110.35508/wanalestari.v7i2.24913Etnobotani Tumbuhan Pewarna Alami sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu (Studi Kasus Desa Inbate, Kecamatan Bikominilulat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur)
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/25438
<p><em>Natural dye plants used by ikat weaving craftsmen in Inbate Village, Conservation efforts of natural dye plants in Inbate Village. This research was carried out in Inbate Village, Bikominilulat, North Central Timor Regency, East Nusa Tenggara which was carried out in June 2025. The results of the study show that the types of natural dye plants found in Inbate Village are pear cactus (Opuntia ficus- indica), Tarum (Indigofera tinctoria), Arbila (Phaseolus lunatus L), and Turmeric (Curcuma longa). The distribution of natural dye plants for ikat weaving in Inbate Village, Bikomi Nilulat District, North Central Timor Regency, found the most commonly used dye plant species in the ikat weaving artisan community in Inbate Village which are spread across several locations including yards, gardens and forests. Observations consisting of 27 points can be seen the distribution, namely the pear cactus (Opuntia ficus- indica) as many as 4 points, Tarum (Indigofera tinctoria L) as many as 10 points, Arbila (Phaseolus lunatus L) as many as 6 points, and Turmeric (Curcuma longa) as many as 7 points. The form of use of natural dye plants by the community in Inbate Village is as a basic material for natural dyes for ikat woven fabrics. In addition, conservation efforts carried out by the community to maintain the preservation of natural dye plants are by cultivating them in the yard of the house.</em></p>Reynaldy HenukAstin E. MauPamona Silvia SinagaFadlan Pramatana
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317222223110.35508/wanalestari.v7i2.25438Pengaruh Lama Penjemuran dan Lama Pembakaran terhadap Perkecambahan Benih Kemiri (Aleurites moluccana)
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/24725
<p><em>This study aimed to evaluate the effects of physical scarification methods-specifically sun drying and burning treatments-on candlenut seed germination. A Completely Randomized Design (CRD) with two factors, duration of sun drying and duration of burning, was implemented. The sun drying treatments included: A0 = control (no drying), A1 = 24 hours, A2 = 20 hours, and A3 = 16 hours. The burning treatments comprised: B0 = control (no burning), B1 = 5 minutes, and B2 = 10 minutes. Each treatment was replicated three times for a total of 36 experimental units, with 10 seeds per unit (360 seeds total). Data were analyzed by Analysis of Variance (ANOVA) followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at a 5% significance level. The results showed that the individual treatments A2 (20 hours of sun drying) and B1 (5 minutes of burning) significantly enhanced germination percentage, germination rate, number of leaves, and seedling height. An interaction effect between sun drying and burning was statistically significant for germination rate and seedling height but not for germination percentage or number of leaves.</em></p>Patrick Gaudens PirikusAstin E. MauNorman P. L. B. Riwu Kaho
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317223224410.35508/wanalestari.v7i2.24725Kajian Kepadatan, Distribusi, dan Habitat Burung Paruh Bengkok di Kawasan Hutan Lindung Praimbana Lakatang, Kabupaten Sumba Timur
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/24763
<p>The existence of parrot species in Sumba Island is unique and attractive, but their population is decreasing due to illegal hunting and trade. This research was conducted in Luku Melolo Forest, Praimbana Lakatang Protected Area, using IPA (Index Ponctualle de’Abondance), Line Transect, Vegetation Analysis, and habitat observation methods. Results showed that the highest population density was found in Orange-crested Cockatoo (1.44 ind/ha), while other species such as Red-cheeked Parrot, Eclectus Parrot, and Orange Parrot had 0.2 ind/ha each. The distribution pattern of all four species was random. The dominant vegetation was Bidara (Zizipus mauritiana L.) with the highest INP value, while Bamboo (Bambusoideae) had the lowest INP. The Shannon-Wiener diversity index (H’=2.66) indicated a medium level of species diversity. This study provides essential insights for the conservation of parrots in East Sumba</p>March Cahya Maru LoboMaria M. E. PurnamaOki Hidayat
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317224525210.35508/wanalestari.v7i2.24763Kontribusi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) terhadap Pendapatan Masyarakat Pengelola Hutan Kemasyarakatan (HKm) di Desa Hikong, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/24843
<p style="margin: 0in; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify; text-indent: .5in;">Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berperan penting dalam meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya kontribusi HHBK terhadap pendapatan masyarakat pengelola Hutan Kemasyarakatan (HKm) di Desa Hikong, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling terhadap 72 responden dari kelompok HKm Tuar Tana. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan menghitung kontribusi HHBK melalui terhadap total pendapatan rumah tangga dan disajikan dalam bentuk tabel, persentase dan uraian naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan berbagai jenis HHBK seperti kemiri, jambu mete, pinang, kakao, kopi, cengkeh, dan lainnya. Total pendapatan dari HHBK mencapai Rp<span style="color: black;">1.060.462.000/tahun </span>dengan rata-rata Rp14.728.639/orang/tahun. Sementara rata-rata total pendapatan dari seluruh sumber adalah Rp16.416.764/orang/tahun. Dengan demikian, kontribusi HHBK terhadap pendapatan masyarakat mencapai 89,72%, menunjukkan bahwa HHBK merupakan sumber penghidupan utama masyarakat pengelola HKm di wilayah ini.</p> <p style="margin: 0in; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify; text-indent: .5in;"> </p>Elyn Novtansya PelupessyNixon RammangNorman P. L. B. Riwu Kaho
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317225326110.35508/wanalestari.v7i2.24843Analisis Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Berbasis Agroforestri oleh Masyarakat Desa Goloworok, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/24863
<p>Agroforestri merupakan sistem pengelolaan lahan yang mengintegrasikan komponen kehutanan, pertanian, dan/atau peternakan secara bersamaan atau berurutan dalam satu unit lahan. Sistem ini menawarkan solusi berkelanjutan untuk pemanfaatan lahan hutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HKm) berbasis agroforestri oleh masyarakat Desa Goloworok, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai. Agroforestri menjadi solusi strategis dalam pengelolaan lahan Hutan Lindung secara produktif dan berkelanjutan tanpa mengubah fungsi kawasan. Metode yang digunakan meliputi pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan rumus Slovin yang menghasilkan 62 responden dari 164 anggota Kelompok Tani Hutan (KTH). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua pola tanam yang diterapkan, yaitu berselang-seling (<em>alternative rows</em>) dan acak (<em>random mixture</em> ). Sebagian besar petani (39 responden) menerapkan pola <em>alternative rows</em> karena dinilai lebih teratur dan mempermudah pemeliharaan hingga panen. Sistem agroforestri yang digunakan meliputi sistem agroforestri sederhana (kombinasi pohon dan satu jenis tanaman semusim) dan kompleks (kombinasi beragam jenis pohon, tanaman pertanian, dan/atau ternak menyerupai hutan alami), serta diklasifikasikan ke dalam bentuk agrosilvopastura berdasarkan kombinasi unsur kehutanan, pertanian, dan peternakan.</p>Sixta Angrainy LagurNixon RammangNorman P. L. B. Riwu Kaho
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317226227110.35508/wanalestari.v7i2.24863Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Tanaman Kemiri (Aleurites moluccana) di Kelompok Pengelola Hutan Kemasyarakatan (HKm) Tuar Tana Desa Hikong Kecamatan Talibura Kabupaten Sikka
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/25021
<p>Kemiri (<em>Aleurites moluccana</em>) merupakan salah satu komoditas unggulan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di Nusa Tenggara Timur dengan nilai ekonomi tinggi serta potensi besar sebagai sumber penghidupan masyarakat sekitar hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan tanaman Kemiri (<em>Aleurites moluccana</em>) pada Kelompok Pengelola HKm Tuar Tana di Desa Hikong, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2024 menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei lapangan. Data primer diperoleh melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator partisipasi dan dibagikan kepada 38 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan skala Likert untuk mengukur tingkat partisipasi pada empat tahap pengelolaan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan hasil, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat secara umum berada pada kategori tinggi. Pada tahap perencanaan, partisipasi mencapai 68,21%, mencerminkan keterlibatan dalam penyusunan rencana kerja meskipun masih terkendala oleh tingkat pendidikan yang relatif rendah. Tahap pelaksanaan mencapai 72,96%, menunjukkan peran aktif dalam penyiapan lahan, penanaman, dan pemeliharaan tanaman. Pada tahap pemanfaatan hasil, partisipasi sebesar 68,12%, yang menggambarkan keterlibatan dalam pengolahan dan pemasaran hasil panen meskipun akses pasar terbatas. Tahap evaluasi memperoleh skor 63,15%, menunjukkan adanya kontribusi dalam menilai keberhasilan program, namun belum optimal dalam penyampaian kritik dan saran. Faktor pendorong partisipasi meliputi usia produktif, pengalaman bertani, dan motivasi ekonomi, sedangkan hambatan utama adalah keterbatasan sarana, prasarana, serta tingkat pendidikan.</p>Mario Fernando Eni EmbuNixon RammangPamona Silvia Sinaga
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317227228010.35508/wanalestari.v7i2.25021Keanekaragaman Jenis Kelelawar (Chiroptera) di Taman Nasional Kelimutu
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/25062
<p>Kelelawar (chiroptera) merupakan satu satunya jenis mamalia yang bisa terbang. Kelelawar memiliki mobilitas tinggi di dalam aktivitas mencari makanan seperti bunga, buah, nektar, dan serangga pada malam hari. Indonesia memiliki beberapa jenis kelelawar yang tersebar luas dibeberapa pulau besar seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Dalam hal ini Taman Nasional Kelimutu memiliki berbagai habitat potensial bagi flora dan fauna yang dapat mendukung kehidupan kelelawar. Informasi mengenai kelelawar yang terdapat di Taman Nasional Kelimutu belum tersedia sampai saat ini, oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi/data awal mengenai jenis kelelawar di Taman Nasional Kelimutu. Sehingga diharapkan data-data tersebut dapat bermanfaat bagi pihak instansi dan masyarakat umum sebagai data awal tentang jenis kelelawar (Chiroptera) di Taman Nasional Kelimutu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat keanekaragaman jenis kelelawar (<em>Chiroptera</em>) baik nama spesies, nama lokal, dan nama famili pada Taman Nasional Kelimutu. Penelitian ini menggunakan metode observasi langsung dengan menggunakan alat seperti Harpa dan Misnet dan analisi vegetasi. hasil penelitian menunjukan bahwa jenis terbanyak yaitu Codot nusatenggara (<em>Chinopterus nusatenggara) </em>sebanyak 35 individu dengan lokasi temuan tertinggi yaitu resor Wolojita sebanyak 12 individu. Sementara untuk jenis yang paling sedikit ditemukan yaitu Lasiwen biasa (<em>Myotis muricola</em>) dengan total keseluruhan penemuan pada kelima lokasi sebanyak 14 individu hal ini menujukan masing-masing lokasi sangat berfariasi keanekaragamannya. kelelawar yang didapat ini memiliki kategori status <em>Least Concern</em> (LC), meskipun saat ini keempat jenis kelelawar ini tidak menghadapi ancaman kepunahan yang serius di alam liar, namun tetap penting untuk menjaga habitatnya agar tetap stabil.</p>Gabriel Alexandro TondaFadlan PramatanaMhd Muhajir Hasibuan
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317228128810.35508/wanalestari.v7i2.25062Populasi dan Karakteristik Pohon Sarang Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) di Kawasan TWA Studi Kasus Kawasan Rimba Kenari Desa Kamot Kecamatan Alor Timur Laut Kabupaten Alor
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/25113
<p><em>The Yellow-crested Cockatoo (Cacatua sulphurea), a critically endangered subspecies of the Yellow-crested Cockatoo, faces population pressure due to illegal hunting and habitat destruction. This study aimed to analyze the population and characteristics of Yellow-crested Cockatoo nest trees in the Tuti Adagae Natural Reserve (TWA), a case study area of the canary forest in Kamot Village, North East Alor District, Alor Regency. The research method involved field surveys, direct observation, and measurements of the characteristics of the nest trees used by the cockatoos. The population survey was conducted by recording the number of individuals observed along the observation route, while nest trees were identified and their characteristics, including tree species, diameter, and height of the nest The study concluded that although the Tuti Adagae National Park (TWA) provides habitat for the Yellow-crested Cockatoo, the species' population remains vulnerable. Habitat destruction and microclimate factors pose serious challenges. Conservation recommendations include protecting existing nesting trees, restoring habitat through appropriate tree planting, and conducting regular population monitoring to support the survival of this endangered species. hole, were measured. Analysis of nest tree characteristics revealed that cockatoos tend to select tall, large-diameter trees with natural holes. In the Tuti Adagae TWA, a case study of the canary forest area of Kamot Village, North East Alor District, Alor Regency, for example, the identified nest trees have an average height of 15 to 19 meters, with nest holes at an average height of 15 to 20 meters from the ground surface. Study concluded that although the Tuti Adagae National Park (TWA) provides habitat for the Yellow-crested Cockatoo, the species' population remains vulnerable. Habitat destruction and microclimate factors pose serious challenges. Conservation recommendations include protecting existing nesting trees, restoring habitat through appropriate tree planting, and conducting regular population monitoring to support the survival of this endangered species.</em></p>Yosua Prastowo PehiMaria M. E. PurnamaFadlan PramatanaNorman P. L. B. Riwu Kaho
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317228929710.35508/wanalestari.v7i2.25113Kontribusi Ekonomi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Jambu Mete Terhadap Pendapatan Keluarga Petani di Desa Sillu Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/25416
<p><em>This research was conducted in Sillu Village, Fatuleu District, Kupang Regency. The objective of the study was to determine the income generated from Non-Timber Forest Products (NTFP), specifically cashew nuts, and its contribution to the total household income of farmers in the village. The research location was selected using purposive sampling, while the respondents were selected randomly using the Slovin formula, with a total sample size of 75 farmers. The research employed a survey method. Data analysis used both qualitative and quantitative descriptive approaches. The data were processed using cost analysis, income analysis, and contribution analysis of the farming business.The results showed that cashew farming contributed 81,43% to the total farmer household income, amounting to IDR 372,775,000. Other agricultural activities contributed 8,75% (IDR 40,073,000), while non-agricultural activities contributed 9.82% (IDR 44,950,000). These findings indicate that cashew farming makes a significant contribution to the total household income of farmers compared to other sources of income.On average, cashew nut production per farmer in Sillu Village reached 189.44 kg per year, with total production amounting to 14,208 kg. However, most farmers remain at a low production level (approximately 100 kg per year). The average revenue from cashew farming per farmer was IDR 5,155,733 per year, with a net income of IDR 4,970,333 per year. Thus, cashew nuts represent the main source of income for farmers in Sillu Village.</em></p>Trison Meiwilson HeriNixon RammangNorman P. L. B. Riwu Kaho
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317229830910.35508/wanalestari.v7i2.25416Kontribusi Agroforesty Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Petani di Desa Niukbaun, Kecamatan Amarasi Barat
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/14168
<p>Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui komponen penyusun dan pola <em>agroforestry </em>yang telah dipraktekkan oleh masyarakat Di Desa Niukbaun, Kecamatan Amarasi Barat. Untuk mengetahui kontribusi <em>agroforestry</em> terhadap pendapatan rumah tangga petani Di Desa Niukbaun, Kecamatan Amarasi Barat. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Niukbaun, Kecamatan Amarasi Barat Penentuan sampel dilakukan secara <em>purposive </em>berdasarkan kriteria-kriteria tertentu yaitu responden yang dipilih merupakan masyarakat yang bermukim dekat hutan dan mengusahakan kebun sebagai sistem <em>agroforestr</em><em>y </em>tradisional. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Dari data yang dikumpulkan dilakukan Analisis data secara deskriptif kuantitatif. Pola agroforestry yang di terapkan petani di desa Niukbaun adalah pola<em> tress along border</em> atau tanaman yang dikelilingi tanaman berkayu dengan komponen-komponen tanaman seperti Terong (<em>solanum melongena</em>), selidri,bawang , sayur, Jagung (<em>zea mays</em>), Wortel (<em>daucus carota</em>), Pisang (<em>Musa</em><em> Sp</em>), Nangka (<em>Artocarpus heterophyllus</em>), Kelapa (<em>Cocos nucifera</em>), Jati putih (<em>Gmelina arborea</em>), Mahoni (<em>Switenia mahagoni</em>), Kemiri (<em>Aleurites moluccanus</em>) dan Asam (<em>tamarindus indica</em>) adapun beberapa hewan ternak seperti Babi dan Sapi. Total pendapatan yang di terima petani dari hasil <em>agroforestry </em>yaitu Rp1.172.874.000 dan hasil dari non<em> agroforestry</em> sebesar Rp 26.400.000,. Pendapatan <em>agroforestry</em> lebih besar dibandingkan dengan <em>non agroforestry</em>. Hal ini menunjukan bahwa sistem <em>agroforestry</em> sangat berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat.</p>Daud Arianto RobuWilhelmina SeranNorman P. L. B. Riwu Kaho
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317231032310.35508/wanalestari.v7i2.14168Dampak Pengembangan Ekowisata Hutan Mangrove Terhadap Ekonomi Masyarakat Desa Watubaing TWAL Gugus Pulau Teluk Maumere
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/23955
<p>Hutan mangrove memiliki manfaat bagi lingkungan dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, melindungi pantai dari abrasi, mengolah limbah beracun, menghasilkan oksigen, menyerap karbon dioksida serta menyediakan tempat hidup dan sumber makanan bagi makhluk lain. Hutan mangrove juga berkontribusi pada perekonomian masyarakat salah satunya sebagai tempat wisata seperti pariwisata ekologis atau lebih dikenal sebagai ekowisata. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Agustus 2024 di Kawasan Konservasi Taman Wisata Alam Laut (TWAL). Penentuan responden pada penelitian ini menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Karakteristik responden yang menjadi <em>key informan</em> (informan kunci) dalam penelitian ini adalah pengelola kawasan, masyarakat kelompok dan masyarakat sekitar kawasan ekowisata mangrove yang memiliki usaha. Analisis data yang digunakan berupa analisis deskripsi dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan analisis F<sub>hitung</sub> dan t<sub>hitung </sub>diperoleh F<sub>hitung </sub>lebih besar dari F<sub>tabel</sub> (F<sub>hitung </sub>= 2,530 < F<sub>tabel</sub> =3,10) yang memberikan gambaran bahwa semua variabel independen yang digunakan tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap variabel bebas. Lalu berdasarkan analisis t<sub>hitung </sub>untuk variabel kesempatan berusaha (X<sub>1</sub>) dan manajemen pengelolaan (X<sub>3</sub>) lebih kecil dari t<sub>tabel</sub> (t<sub>hitung </sub>masing-masing X<sub>1 </sub>dan X<sub>3</sub> = -0,682 dan 0,504 < <sub> </sub>t<sub>tabel </sub>=2,080) yang menunjukkan bahwa variabel bebas X<sub>1 </sub>dan X<sub>3 </sub>tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel ekonomi masyarakat (Y), sedangkan nilai t <sub>hitung </sub>variabel penyerapan tenaga kerja (X<sub>2</sub>) lebih besar dari t <sub>tabel </sub>( t<sub>hitung </sub>X<sub>2</sub> = 2,303 > t<sub>tabel </sub>=2,080) menunjukkan variabel X<sub>2 </sub>berpengaruh signifikan terhadap variabel ekonomi masyarakat (Y).</p> <p> </p>Saveria Novi TrianaFadlan PramatanaRoni Haposan Sipayung
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317232434410.35508/wanalestari.v7i2.23955Analisis Faktor yang Mempengaruhi Permudaan Alami Tumbuhan Ampupu (Eucalyptus urophylla) di Hutan Lindung Mutis Timau Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/12318
<p>Hutan Lindung mutis timau memiliki pola regenerasi permudaan yang buruk. Hal ini dilandasi dengan keadaan di lapangan yang menunjukkan tegakan ampupu tingkat pohon yang cukup padat sedangkan tingkat tiang, pancang dan semai cukup jarang ditemukan, sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui (1) Bagaimana pertumbuhan permudaan alami Ampupu (<em>Eucalyptus urophylla) </em>di Hutan Lindung Mutis Timau (2) Apa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan permudaan alami Ampupu (<em>Eucalyptus urophylla) </em>di Hutan Lindung Mutis Timau. Penelitian ini dilaksanakan di Hutan Lindung Mutis Timau, Desa Kuanoel, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang dilakukan selama 1 bulan yaitu dari bulan Desember 2022 - Januari 2023. Penelitian ini menggunakan metode analisis vegetasi, wawancara dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi tumbuhan Ampupu di Kawasan Hutan Lindung Mutis timau. Untuk tingkat pohon terdapat dua jenis pohon yaitu Ampupu <em>(E. urophylla</em>) dan kasuari (<em>Casuarina</em>), dengan nilai INP tertinggi yaitu Ampupu dengan nilai 198,891. Untuk tingkat tiang hanya terdapat satu jenis tiang yaitu Ampupu (<em>E. urophylla</em>), dengan nilai INP 300. Untuk tingkat pancang terdapat dua jenis pancang yaitu Ampupu (<em>E. urophylla</em>) dan Harendong (<em>Melastoma malabathricum</em>), dengan nilai INP tertinggi yaitu Ampupu dengan nilai 139,522 dan diikuti dengan harendong dengan nilai 63,189. Untuk tingkat semai hanya terdapat satu jenis semai yaitu Ampupu (<em>E. urophylla</em>) dengan nilai INP 200 dan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan permudaan alami tumbuhan Ampupu (<em>E. urophylla)</em> di Kawasan Hutan Lindung Mutis Timau yakni penggembalaan liar, perambahan hutan, perladangan berpindah, penebangan liar, dan kebakaran hutan.</p>Verianto Lango ManupeleLudji Michael Riwu KahoAstin E. Mau
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317234535110.35508/wanalestari.v7i2.12318Studi Kerusakan Hutan Mangrove di Desa Lewolaga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/12269
<p class="s68"><span class="s37"><span class="bumpedFont15">Hutan</span></span> <span class="s40"><span class="bumpedFont15">Mangrove</span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15"> merupakan hutan yang tumbuh</span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15">disepanjang pantai </span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15">yang</span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15"> sangat besar</span></span> <span class="s37"><span class="bumpedFont15">manfaatnya.</span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15">Namun kondisi </span></span><span class="s40"><span class="bumpedFont15">Mangrove</span></span> <span class="s37"><span class="bumpedFont15">baik secara kualitatif dan kuantitatif</span></span> <span class="s37"><span class="bumpedFont15">terus menurun dari tahun ke tahun</span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15"> yang menyebabkan hutan </span></span><span class="s40"><span class="bumpedFont15">Mangrove</span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15"> di Indonesia mengalami kerusakan. Salah satunya seperti yang terjadi pada Hutan </span></span><span class="s40"><span class="bumpedFont15">Mangrove </span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15">di Desa Lewolaga, Kecamatan Titehena yang </span></span><span class="s64">cend</span><span class="s64">e</span><span class="s64">rung mengalami pengurangan</span><span class="s65"><span class="bumpedFont20"> luas </span></span><span class="s64">karena banyak dialihfungsikan</span><span class="s64">menjadi</span><span class="s64"> pe</span><span class="s64">r</span><span class="s64">mukiman, menjadi tambatan perahu, dan penebangan oleh masyarakat untuk berbagai kepentingan</span><span class="s64">. </span><span class="s37"><span class="bumpedFont15">Penelitian ini bertujuan untuk </span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15">mengetahui </span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15">bentuk-bentuk </span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15">kerusakan</span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15"> yang </span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15">terjadi </span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15">dan </span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15">tingkat keanekaragaman vegetasi jenis</span></span> <span class="s59"><span class="bumpedFont15">Mangrove</span></span> <span class="s37"><span class="bumpedFont15">sebagai bukti adanya kerusakan Hutan</span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15"> di </span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15">Desa Lewolaga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur</span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15">, </span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15">Provinsi Nusa Tenggara Timur.</span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15"> Penelitian ini berlangsung selama satu bulan yaitu pada bulan September 2022 di Desa </span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15">Lewolaga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur</span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15">. Responden yang diwawancarai berjumlah 7 orang yang diperoleh menggunakan metode </span></span><span class="s40"><span class="bumpedFont15">non probability sampling</span></span><span class="s40"><span class="bumpedFont15">, </span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15">yaitu </span></span><span class="s40"><span class="bumpedFont15">snowball sampling</span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15"> dan dianalisis menggunakan metode analisis </span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15">deskriptif kualitatif dan analisis vegetasi dengan intensitas sampling 10%</span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15"> dan </span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15">luas areal hutan mangrove 5,89 Ha</span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15">. </span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15">Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) b</span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15">entuk-bentuk kerusakan hutan </span></span><span class="s59"><span class="bumpedFont15">Mangrove</span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15"> di Desa Lewolaga disebabkan oleh aktivitas manusia yaitu antara lain (a) pembuatan tambatan perahu dan daerah lintasan perahu yang dilakukan dengan cara membuka lahan, (b) kegiatan tambak garam dan tambak ikan, (c) pemanfaatan </span></span><span class="s59"><span class="bumpedFont15">Mangrove </span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15">untuk pembuatan </span></span><span class="s59"><span class="bumpedFont15">turo,</span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15"> (</span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15">d</span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15">) </span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15">pada saat musim kemarau, masyarakat di Desa Lewolaga memanfaatkan </span></span><span class="s40"><span class="bumpedFont15">Mangrove</span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15"> dengan cara memotong daun </span></span><span class="s40"><span class="bumpedFont15">Mangrove</span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15"> untuk dijadikan makanan kambing</span></span><span class="s37"><span class="bumpedFont15">, dan lain-lain. </span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15">2) </span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15">inde</span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15">ks</span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15"> keanekaragaman jenis tergolong sedang</span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15"> dengan nilai H’ pada tingkat semai </span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15">1,15, pada tingkat pancang 1,17, pada tingkat tiang 1,24 dan pada tingkat pohon 1,19. </span></span><span class="s52"><span class="bumpedFont15">Sedangnya keanekaragaman jenis pada semua tingkatan mengindikasikan adanya gangguan dan tekanan oleh faktor luar yang menyebabkan kerusakan pada vegetasi hutan </span></span><span class="s59"><span class="bumpedFont15">Mangrove</span></span><span class="s59"><span class="bumpedFont15">.</span></span></p>Dominikus Vorel Friski BeribeLudji Michael Riwu KahoAstin E. Mau
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317235236210.35508/wanalestari.v7i2.12269Efektivitas Zat Pengatur Tumbuh Alami Terhadap Pertumbuhan Stek Bambu Betung (Dendrocalamus asper)
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/12229
<p>Bambu merupakan salah satu tanaman berpotensi di daerah flores salah satunya di Kabupaten Flores Timur. Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Timur No. 404 Tahun 2018 menyebutkan bahwa bambu ditetapkan sebagai salah satu dari 14 komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) unggulan di Nusa Tenggara Timur. Persentase hidup dari perbanyakan stek cabang bambu betung masih rendah yaitu sekitar 44,44% sehingga menjadi permasalah dalam pengadaan bibit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas ZPT alami terhadap pertumbuhan stek cabang bambu betung dengan berbagai konsentrasi dan konsentrasi zat pengatur tumbuh alami manakah yang memberikan hasil terbaik dalam pertumbuhan stek bambu betung. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 1 faktor yaitu konsentrasi yang terdiri dari perlakuan Kontrol (Akuades), Bawang Merah dan Air Kelapa dengan masing- masing konsentrasi 25%, 50%, 75%, 100%. Hasil penelitian menunjukan bahwa ZPT alami air kelapa dan bawang merah memiliki pengaruh sangat nyata terhadap parameter periode munculnya tunas, jumlah tunas, jumlah daun dan panjang akar stek cabang bambu betung (Dendrocalamus asper) namun berpengaruh tidak nyata terhadap persentase hidup stek cabang bambu betung. Perlakuan A1 (Konsentrasi ZPT air kelapa 25%) dan A5 (Konsentrasi bawang merah 25%) memberikan hasil terbaik terhadap parameter periode munculnya tunas, jumlah tunas, jumlah daun dan panjang akar stek bambu betung (Dendrocalamus asper)</p>Yohanes Emanuel Hogo WolorMamie E. Pellondo'uAstin E. Mau
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317236337410.35508/wanalestari.v7i2.12229Strategi Pengembangan Ekowisata di Objek Ekowisata Danau Kaenka, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/12326
<p>Dalam kawasan hutan lindung Mutis Timau terletak berbagai objek wisata alam dan budaya salah satunya Danau Kaenka yang merupakan spot ekowisata yang dikembangkan. Penelitian pada kawasan tersebut dilakukan untuk mengetahui potensi yang ada serta strategi pengembangan yang akan digunakan pada kawasan tersebut sehingga dapat mengetahui dampak pengembangan ekowisata terhadap kondisi perekonomian masyarakat di Desa Fatukoto. Penelitian ini berlangsung selama dua bulan yaitu Oktober – Desember 2022 di Desa Fatukoto, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Responden pada penelitian ini berjumlah 106 orang yang terdiri dari 6 orang pihak pengelola serta 10 orang masyarakat yang diperoleh menggunakan metode <em>Snowball Sampling, </em>sementara 90 orang pengunjung didapat menggunakan metode <em>accidental sampling </em>atau teknik <em>insindental </em>dengan rumus penentuan sampel <em>linear time function </em>(LTF) kemudian dianalisis menggunakan metode analisis ADO-ODTWA, analisis SWOT, dan metode analisis data Interaktif. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) nilai total potensi kelayakan dari 7 variabel penilaian ialah 65,61% sehingga Ekowisata Danau Kaenka belum layak dan harus meningkatkan potensi yang ada. (2) Strategi pengembangan yang didapat yaitu dengan mengoptimalkan pengelolaan, mengupayakan pemerataan transportasi, membentuk kelompok masyarakat sadar wisata serta mengembangkan atraksi wisata. (3) Ekowisata Danau Kaenka dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar meskipun tidak banyak.</p>Maharani Putri MimyMamie E. Pellondo'uFadlan Pramatana
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317237538410.35508/wanalestari.v7i2.12326Analisis Wilayah Jelajah dan Kondisi Habitat Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Taman Nasional Kelimutu (Studi Kasus Zona Pemanfaatan Taman Nasional Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur)
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/12154
<p>Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui luas wilayah jelajah dan wilayah inti Monyet Ekor Panjang (<em>Macaca fascicularis</em>). Penelitian ini dilaksanakan di Taman Nasional Kelimutu Khususnya Zona Pemanfaatan Taman Nasional Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur yang dilakukan selama 1 bulan yaitu dari bulan November-Desember 2022. Penelitian ini menggunakan metode WebGIS Zoatrack yang penentuan wilayah jelajah menggunakan <em>Minimum Concex Polygon </em>(MCP) dan daerah inti menggunakan <em>Kernel Utilization Distribution</em> dan analisis data mengguanakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa luas wilayah jelajah yang dianalisis menggunakan <em>Minimum Convex Polygon</em> (MCP) yakni 47,7 Ha dengan wilayah yang menjadi <em>home range</em> Monyet Ekor Panjang (<em>Macaca fascicularis</em>) berada di hampir kawasan Zona Pemanfaatan TN Kelimutu. Hasil analisis daerah inti menggunakan <em>Kernel Utilization Distribution</em> menunjukan bahwa luas daerah inti yakni 16,2 Ha. Hasil daerah inti menunjukan bahwa terdapat dua daerah inti yang sering dikunjungi oleh Monyet Ekor Panjang (<em>Macaca fascicularis</em>), hal ini dikarenakan banyak nya pengunjung yang menjadi sumber pakan dan pohon sebagai tempat beristirahat pada kawasan TN Kelimutu.</p>Azahra RahmadaniMaria M. E. PurnamaNorman P. L. B. Riwu KahoFadlan Pramatana
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317238539310.35508/wanalestari.v7i2.12154Faktor Penyebab Illegal Logging dan Cara Pencegahannya di Kawasan Hutan Jati Nenuk (Studi Kasus Hutan Produksi di Desa/Kelurahan Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu)
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/23846
<p>Kawasan Hutan Jati Nenuk adalah salah satu kawasan yang telah mengalami perubahan yang disebabkan oleh deforestasi berupa penebangan liar oleh masyarakat di sekitar kawasan hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan penebangan liar dan cara apa yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penebangan liar di Kawasan Hutan Jati Nenuk, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengambilan sampel untuk masyarakat pelaku penebangan liar menggunakan teknik <em>snowball sampling </em>sedangkan untuk pihak pengelola Kawasan Hutan Jati Nenuk menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan adalah panduan wawancara mendalam. Analisis data menggunakan kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 6 faktor yang menyebabkan terjadinya <em>illegal logging </em>(ekonomi dan kemiskinan, akses jalan terhadap hutan, permintaan pasar, kurangnya pengawasan dan penegakan hukum, keterbatasan alternatif pekerjaan, serta kebijakan yang tidak efektif), dan terdapat 5 cara pencegahan <em>illegal logging </em> yang dilakukan oleh pihak KPH (peningkatan kesadaran masyarakat, penegakan hukum yang ketat, kerjasama antar lembaga, setifikasi dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan, serta reboisasi dan rehabilitasi hutan).</p>Stefania Santy SirikLudji Michael Riwu KahoNixon Rammang
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317239441210.35508/wanalestari.v7i2.23846Kajian Jenis Burung-Burung yang Dipelihara oleh Penghobi dan Tingkat Perdagangannya di Kota Kupang (Studi Kasus di Kecamatan Oebobo dan Kecamatan Kelapa Lima)
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/25533
<p>Fenomena pemeliharaan dan perdagangan burung telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat, terutama di perkotaan, yang memunculkan dinamika antara hobi, ekonomi, dan isu konservasi. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan mengkaji jenis burung yang dipelihara penghobi dan tingkat perdagangannya, serta mengidentifikasi status konservasi burung yang ditemukan di Kecamatan Oebobo dan Kelapa Lima, Kota Kupang. Penelitian melibatkan 15 informan yang dipilih secara <em>purposive sampling</em> melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jumlah burung yang dipelihara oleh penghobi 10 spesies yaitu murai batu, kenari, cucak ijo, lovebird, parkit, kacer, perkutut, tekukur, finch dan anis cendana. Mayoritas penghobi (86,67%) memiliki pengalaman 5-10 tahun dengan koleksi intensif (5-15 ekor) yang didominasi Lovebird, Kenari, dan Murai Batu. Motivasi utama penghobi adalah hobi, pengisi waktu luang, dan peluang bisnis, didukung oleh komunitas aktif. Masalah utama penghobi adalah burung sakit/stres dan tidak rajin berkicau, yang diatasi dengan menjaga kebersihan kandang, konsultasi, dan pemberian vitamin. Pembelian burung dominan dari teman/pasar, dan perawatan dasar sudah baik namun pengetahuan pencegahan penyakit perlu ditingkatkan. Dalam perdagangan, aktivitas jual beli umum meskipun hanya sebagian kecil (6 dari 15) berstatus pedagang utama. Motivasi pedagang adalah potensi keuntungan dan kecintaan pada burung, dengan prospek baik dan tren harga naik. Masalah utama pedagang adalah pemasaran/penjualan, pencarian anakan, dan perawatan, yang diatasi dengan menjalin relasi pemasok dan promosi media sosial. Penjualan dominan lokal melalui kios/pasar burung, dengan pertumbuhan penjualan <em>online</em>. Implikasi konservasi menunjukkan dari 10 spesies, 70% berstatus <em>Least Concern</em>, 20% <em>Near Threatened</em> (Anis Cendana, Lovebird), dan 10% <em>Endangered</em> (Cucak Ijo). Cucak Ijo dilindungi Permen LHK No. 106 Tahun 2018, serta Murai Batu dan Lovebird terdaftar dalam Appendix II CITES. Rendahnya sosialisasi regulasi dan kepatuhan perizinan berpotensi mengancam spesies terancam punah. Oleh karena itu, pasar burung di Kupang yang dinamis memerlukan edukasi, sosialisasi, dan penegakan hukum yang lebih kuat untuk memastikan praktik yang bertanggung jawab dan berkelanjutan sesuai peraturan konservasi.</p>Alimus Adrianus Tri PutraMari M. E. PurnamaOki HidayatFadlan Pramatana
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317241341610.35508/wanalestari.v7i2.25533Keanekaragaman dan Potensi Ficus Sebagai Jenis Kerangka untuk Rehabilitasi Hutan dan Lahan di Tahura Profesor Ir. Herman Yohanes, Desa Apren, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang
https://ejurnal.undana.ac.id/index.php/warnalestari/article/view/25579
<p> </p> <p>This research was conducted in the Prof. Ir. Herman. Yohanes Community Forest Park (Tahura) Area, in Apren Village, South Amarasi District, Kupang Regency, East Nusa Tenggara, with the results of the study showing that the Ficus genus identified in Apren Village, South Amarasi District, Kupang Regency is 16 types of Ficus out of 19 types of Ficus there are 3 types of Ficus that are not identified, namely Ficus Callophylla, Ficus Caulocarpa and Ficus Fulva. While the 16 types of Ficus identified in Apren Village, South Amarasi District, Kupang Regency are Ficus Ampelas, Ficus Benjamina, Ficus Callosa, Ficus Drupacea, Ficus Hispida, Ficus Microcarpa, Ficus Nervosa subsp. Pubinervis, Ficus Racemosa, Ficus Septica, Ficus Superba, Ficus Tintoria subsp, Gibbosa, Ficus Tintoria subsp. Tintoria, Ficus Varieagata, Ficus Virens, Ficus Virgata and Ficus Wassa Roxb, which are recorded in 5 subgenus namely Urostigma, Pharmacosycea, Sycomorus, Sycidium and Ficus. According to the results of the study above, it can be concluded that the diversity of Ficus species according to the Shannon & Wiener diversity index, 1≤ H’≤3 which indicates moderate diversity. For each type of habitat, the highest species diversity is found in river habitats with H’= 2.7161 and the lowest diversity is found in residential habitats H’= 1.8191.</p> <p> </p>Daris A. S. TahunAstin E. MauMaria M. E. Purnama
##submission.copyrightStatement##
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2025-12-312025-12-317241742510.35508/wanalestari.v7i2.25579