PERBEDAAN JUMLAH KEMATIAN LARVA NYAMUK Aedes aegypti DENGAN PEMBERIAN EKSTRAK BIJI KELOR (Moringa oleifera) PELARUT ETANOL DAN AQUADES
PDF

Keywords

Larva Aedes aegypti, Ekstrak Biji Kelor (Moringa oleifera), Pelarut Etanol dan Pelarut Aquades

How to Cite

Fitriyah, N., Koamesah, S., & Nurina, R. (2019). PERBEDAAN JUMLAH KEMATIAN LARVA NYAMUK Aedes aegypti DENGAN PEMBERIAN EKSTRAK BIJI KELOR (Moringa oleifera) PELARUT ETANOL DAN AQUADES. Cendana Medical Journal (CMJ), 7(1), 94-101. Retrieved from https://ejurnal.undana.ac.id/CMJ/article/view/1461

Abstract

Aedes aegypti merupakan vektor dari berbagai penyakit seperti dengue, chikungunya, yellow fever dan zika. Demam berdarah dengue di Kota Kupang terjadi peningkatan dari tahun 2014 – 2016. Salah satu upaya pengendalian kasus DBD adalah abatesasi, namun sudah terjadi resistensi di beberapa wilayah Indonesia. Oleh karena itu, perlu dikembangkan tanaman kelor yang memiliki senyawa alkaloid, saponin, tannin dan flavonoid sebagai larvasida biologi,  yang mana kelor sebagai tanaman daerah semiringkai sesuai dengan kondisi geografis di Kota Kupang. Tujuan penelitian ini menganalisis jumlah kematian larva nyamuk Aedes aegypti dengan pemberian ekstrak biji kelor (Moringa oleifera) pelarut etanol dan aquades dalam jangka waktu 48 jam. Metode penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan post test control group. Ekstraksi menggunakan pelarut etanol dan aquades dengan berat simplisia 300g dalam 1.100 mL volume palarut selama 36 jam. Penelitian dilakukan terhadap larva Aedes aegypti instar III/IV dengan 4 kelompok yaitu ekstrak etanol biji kelor, ekstrak aquades biji kelor, kontrol negatif dan kontrol positif dengan 5 kali pengulangan. Data dianalisis menggunakan uji T Independent untuk mengetahui apakah ada perbedaan jumlah kematian larva nyamuk Aedes aegypti dengan pemberian ekstrak biji kelor (Moringa oleifera) antara pelarut etanol dan aquades. Hasil rerata jumlah kematian larva pada tiap kelompok perlakuan yaitu kelompok ekstrak etanol biji kelor (4,2 larva), ekstrak aquades biji kelor (3,2 larva), kontrol negatif (0 larva) dan kontrol positif (25 larva). Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan rerata persentase jumlah kematian larva nyamuk Aedes aegypti dengan pemberian ekstrak biji kelor (Moringa oleifera) pelarut etanol adalah 16,8% dan pelarut aquades adalah 12,8% artinya tidak ada perbedaan signifikan diantara keduanya dengan nilai p 0,095

PDF

References

1. WASH Regional Group. Aedes aegypti vector control and prevention measures in the context of Zika , Yellow Fever , Dengue or Chikungunya Technical Guidance WASH Regional Group ( West and Central Africa ). 2016;(July).
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil kesehatan Indonesia tahun 2016. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2017.
3. Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Profil kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2014. 2015;
4. Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Profil kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2015. 2016;
5. Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Profil kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2016. 2017;
6. Dinas Kesehatan Kota Kupang. Profil kesehatan Kota Kupang Tahun 2016.
7. Kamahayanikan SH, Wiwaha A, Rajya-rajya P, Nusantara B, Praratwan P. Berbagai cara pengendalian larva nyamuk. 6:59–62.
8. Ridha MR, Nisa K. Larva Aedes aegypti sudah toleran terhadap temepos di Kota Banjarbaru , Kalimantan Selatan. J Vektora. 1976;III(2):93–111.
9. Fuadzy H, Hodijah DN, Jajang A, Widawati M. Kerentanan larva Aedes aegypti terhadap temefos di tiga kelurahan endemis demam berdarah dengue Kota Sukabumi. Bul Penelit Kesehat. 2015;43(1):41– 6.
10. Aminah S, Ramdhan T, Yamin M. Kandungan nutrisi dan sifat fungsional tanaman kelor (Moringa oleifera). Bul Pertan Perkota. 2015;5(30):35–44.
11. Baharuddin A, Kesehatan P, Universitas M, Indonesia M, Belakang L. Efektivitas ekstrak dahan kelor terhadap mortalitas larva Aedes aegypti. 2018 p. 10–5.
12. Setiawan E, Karimuna SR, Kesehatan F, Universitas M, Oleo H, Setiawan E, et al. Efektifitas ekstrak biji sirsak (Annona muricata L) sebagai insektisida alami terhadap nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor DBD. :1–8.
13. Bureni EYN. Uji efektivitas ekstrak biji kelor (Moringa oleifera) terhadap larva nyamuk Aedes aegypti. Universitas Nusa Cendana; 2018.
14. Setyawaty D. Studi pengaruh ekstrak daun sirih (Piper betle 1.) dalam pelarut aquades, etanol, dan metanol terhadap perkembangan larva nyarnuk Culex quinquefasciatus. Institut Pertanian Bogor; 2002.
15. World Health Organization. Guidelines for laboratory and field testing of mosquito larvacides. 2005;
16. Syahdrajat T. Panduan penelitian untuk skripsi kedokterean & kesehatan. 2018.
17. Cory JS, Hoover K. Plant- mediated effects in insect- pathogen interactions. Trends Ecol Evol. 2006;21(5):278–86.
18. Kubo I. Chapter 4 New concept to search for alternate insect control agents from plants. In: Naturally Occurring Bioactive Compounds. 2006. p. 61–80.
19. Kasminah. Aktivitas antioksidan rumput laut Halymenia durvillaei dengan pelarut non polar, semi polar, dan polar. Universitas Airlangga; 2016.
20. Kuppusamy P, Yusoff MM, Parine NR, Govindan N. Evaluation of in-vitro antioxidant and antibacterial properties of Commelina nudiflora L. extracts prepared by different polar solvents. Saudi J Biol Sci. 2015;22(3):293–301.
21. Suryani NC, Permana DGM, Jambe AAGNA. Pengaruh jenis pelarut terhadap kandungan total flavonoid dan aktivitas antioksidan ekstrak daun matoa (Pometia pinnata). (2013):1–10.
22. Cabardo DE, Portugaliza HP. Anthelmintic activity of Moringa oleifera seed aqueous and ethanolic extracts against Haemonchus contortus eggs and third stage larvae. Int J Vet Sci Med. 2017;5(1):30–4.
23. Hamany Djande CY, Piater LA, Steenkamp PA, Madala NE, Dubery IA. Differential extraction of phytochemicals from the multipurpose tree, Moringa oleifera, using green extraction solvents. South African J Bot. 2018;115:81–9.
24. Liu X, Klinkhamer PGL, Vrieling K. The effect of structurally related metabolites on insect herbivores: A case study on pyrrolizidine alkaloids and western flower thrips. Phytochemistry. 2017;138:93– 103.
25. Hartmann T, Theuring C, Schmidt J, Rahier M, Pasteels JM. Biochemical strategy of sequestration of pyrrolizidine alkaloids by adults and larvae of chrysomelid leaf beetles.J Insect Physiol. 1999;45(12):1085–95.
26. Setyaningsih NMP, Swastika IK. Efektivitas ekstrak ethanol daun salam (Syzygium polyanthum) sebagai larvasida terhadap larva nyamuk Aedes aegypti.
27. Scofield AM, Witham P, Nash RJ, Kite GC, Fellows LE. Castanospermine and other polyhydroxy alkaloids as inhibitors of insect glycosidases. Comp Biochem Physiol -- Part A Physiol. 1995;112(1):187–96.
28. Francis G, Kerem Z, Makkar HPS, Becker K. The biological action of saponins in animal systems : a review. Br J Nutr. 2002;88:587–605.
29. Sparg SG, Light ME, Staden J Van. Biological activities and distribution of plant saponins. J Ethnopharmacol. 2004;94:219– 43.
30. Geyter E De, Lambert E, Geelen D, Smagghe G. Novel advances with plant saponins as natural insecticides to control pest insects. Pest Technol. 2007;(January):95–105.
31. Dinan L, Bourne PC, Meng Y, Sarker SD, Tolentino RB, Whiting P. Assessment of natural products in the Drosophila melanogaster B II cell bioassay for ecdysteroid agonist and antagonist activities. Cell Mol Life Scinces. 2001;58:321–2.
32. Irwan A, Noer K, Rusdiana. Uji aktifitas ekstrak saponin fraksi n-butanol dari kulit batang kemiri (Aleurites moluccana WILLD) pada larva nyamuk Aedes aegypti. Sains dan Terap Kim. 2007;1(2):93–101.
33. Geyter E De, Swevers L, Soin T, Geelen D, Smagghe G. Saponins do not affect the ecdysteroid receptor complex but cause membrane permeation in insect culture cell lines. J Insect Physiol. 2012;58(1):18– 23.
34. Wiesman Z, Chapagain BP. Larvicidal activity of saponin containing extracts and fractions of fruit mesocarp of Balanites aegyptiaca. Fitoterapia. 2006;77:420–4.
35. Chapagain BP, Saharan V, Wiesman Z. Larvicidal activity of saponins from Balanites aegyptiaca callus against Aedes aegypti mosquito. Bioresour Technol. 2008;99:1165–8.
36. Kubo I, Kinst-hori I, Nihei K, Soria F, Takasaki M. Tyrosinase inhibitors from Galls of Rhus javanica Leaves and their effects. 2003;
37. Simmonds MSJ. Importance of avonoids in insect- plant interactions : feeding and oviposition. Phytochemistry. 2001; 56:245–52.
38. Şöhretoğlu D, Sari S, Barut B, Özel A. Tyrosinase inhibition by some flavonoids: Inhibitory activity, mechanism by in vitro and in silico studies. Bioorg Chem. 2018;81:168–74.
39. Mierziak J, Kostyn K, Kulma A. Flavonoids as important molecules of plant interactions with the environment. Molecules. 2014;19(10):16240– 65.
40. Simmonds MSJ. Flavonoid- insect interactions: recent advances in our knowledge. Phytochemistry. 2003;64(1):21– 30.
41. Simmonds MSJ, Stevenson PC. Effects of isoflavonoids from Cicer on larvae of Heliocoverpa armigera. J Chem Ecol. 2001;27(5):965–77.
42. Sosa T, Chaves N, Alias JC, Escudero JC, Henao F, Gutiérrez-Merino C. Inhibition of mouth skeletal muscle relaxation by flavonoids of Cistus ladanifer L.: a plant defense mechanism against herbivores. J Chem Ecol. 2004;30(6):1087–101.
43. Tawatsin A, Thavara U, Chompoosri J, Bhakdeenuan P, Asavadachanukorn P. Larvicidal efficacy of new formulations of temephos in non-woven sachets against larvae of Aedes aegypti (L.) (Diptera: Culicidae) in water-storage containers. Southeast Asian J Trop Med Public Health. 2007;38(4):641-5
44. Thavara U, Tawatsin A, Srithommarat R, Zaim M, Mulla MS. Sequential release and residual activity of temephos applied as sand granules to water-storage jars for the control of Aedes aegypti larvae (Diptera: Culicidae). J Vector Ecol. 2005 Jun;30(1):62—72
Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

Downloads

Download data is not yet available.