HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI KLINIK UME MANEKAN SOE KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN

Keywords

Balita, Status Gizi, dan ISPA

How to Cite

korbafo, redemptus, Dira Tome, J., E.D, M., & Indriarini, D. (2018). HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI KLINIK UME MANEKAN SOE KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN. Cendana Medical Journal (CMJ), 6(2), 203-210. Retrieved from https://ejurnal.undana.ac.id/CMJ/article/view/411

Abstract

ISPA didefinisikan sebagai penyakit saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh agen infeksius yang ditularkan dari manusia ke manusia.Timbulnya gejala biasanya cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam sampai beberapa hari. Menurut Riskesdas 2013, Provinsi NTT merupakan provinsi yang tertinggi periode prevalensi nya di antara semua provinsi di Indonesia yaitu sebesar 41,7% tidak jauh berbeda dengan 2007. Berdasarkan data puskesmas di kabupaten Timor Tengah Selatan pada 2007 terdapat frekuensi ISPA sebanyak 28,5%, presentase ini menunjukan ISPA sebagai penyakit terbanyak. Status gizi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya ISPA. Status gizi dan infeksi saling berinteraksi, karena infeksi dapat mengakibatkan status gizi kurang dengan berbagai mekanisme dan sebaliknya status gizi juga dapat menyebabkan infeksi.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan status gizi dengan kejadian ISPA pada balita di Klinik Ume Manekan Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan. Metode pada penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel 67 data rekam medik balita di Klinik Ume Manekan yang diambil dengan total sampling. Cara pengumpulan data menggunakan data sekunder berupa data rekam medik. Data dianalisis meggunakan kolmogorov-Smirnov Z. Hasil analisis antara status gizi dengan kejadian ISPA pada balita diperoleh nilai p = 1,000. Sehingga disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA pada balita.di Klinik Ume Manekan Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan

References

1. WHO. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut ( ISPA ) yang Cenderung Menjadi Epidemi dan Pandemi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Pedoman Interim WHO [Internet]. 2007;12.
Available from:
http://apps.who.int/iris/bitstream/1066
5/69707/14/WHO_CDS_EPR_2007.6
_ind.pdf
2. Agnes M, Dedy E, Weraman P, Kes M. Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis Anak Balita di Kabupaten Timor Tengah Selatan. :1– 17.
3. Hadiana SYM. Hubungan Status Gizi terhadap terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di Puskesmas Pajang Surakarta. J Chem Inf Model [Internet]. 2013;53
Available from:
http://eprints.ums.ac.id/22566/9/NaskaPublikasi.pdf
4. Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Profil Kesehatan NTT. 2015;
5. Kesehatan K. Profil Dinas Kesehatan Kab.TTS. 2010;
6. RI KK. Buku Saku Pemantauan Status Gizi dan Indikator Kinerja Gizi Tahun 2015. 2016;42–84.
7. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. IV. 2009;
8. Rahajoe NN, Supriatno B SD. Buku Ajar Respirologi Anak. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2008.
9. Suhandayani. Infeksi Saluran Pernafasan Akut dan Penanggulangannya. Medan:
Universitas Sumatera Utara; 2007.
10. Behrman RE. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Edisi Keen. Jakarta:
SAUNDERS ELSEVIER; 2011. 512-
518 p.
11. knutson D BC. Diagnosis and Menagement of Acute Bronchitis. 2002;
12. Supriasa, Bakri B FI. Penilaian Status Gizi. EGC; 2001. 1-19 p.
13. Ernawati A. Hubungan Faktor Sosial Ekonomi, Higiene, Sanitasi, Lingkungan, Tingkat Konsumsi dan Infeksi dengan Status Gizi Anak Usia 2-5 Tahun di Kabupaten Semarang Tahun 2003. Universitas Diponegoro; 2003.
14. R. S G. Priciples of Nutritional Assesment. Second. New York:
Oxford University Press Inc; 2005.
15. Supriasa IDN. Penilaian Status Gizi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2012.
16. Ernawati A. Hubungan Faktor Sosial Ekonomi, Higiene, Sanitasi Lingkungan, Tingkat Konsumsi dan
Infeksi dengan Status Gizi anak Usia 2-5 Tahun di Kabupaten Semarang Tahun 2003. Universitas Diponegoro; 2003.
17. Supriasa IDN. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC; 2002.
18. Soekirman. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. Jakarta: Gramedia;
19. Riset Kesehatan Dasar. Kementrian Kesehatan RI. Jakarta; 2013.
20. Kementerian Kesehatan RI. Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. 2011;
21. Hadi R. Pesan Dasawisma dalam Membina Status Gizi Balita di Desa Pilomonu Kecamatan Mootilango Kabupaten Gorontalo. 2014;
22. Musrifu A. Hubungan Tingkat
Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan dengan Status Gizi Balita di Posyandu Desa Batu etno Banguntapan Bantul DIY. 2103;
23. Hadiana S. Hubungan Status Gizi terhadap ISPA pada Balita di
Puskesmas Surakarta. 2103;
24. Febrianto W, Mahfoedz I. Status gizi berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di Wilayah Kerja Puskemas Wonosari I Kabupaten Gunungkidul 2014. 2015;3(2):113–8.
25. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013. Lap Nas 2013. 2013;1–384.
26. Behrman, K & Arvin N. Pemberian Makanan Bayi dan Anak. Vol.1. Jakarta: Penerbit Buku Kedikteran RGC; 2000.
27. Kartasasmita, B C. Pneumonia Pembunuh Nomor 1. Kementrian
Kesehat RI. 2010;
28. Lestari N, Kresnowati L, S KK. di Wilayah Kerja Puskesmas Purwoyoso
Semarang ;2013
Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.