ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN KECACINGAN PADA SISWA SEKOLAH DASAR PADA DATARAN TINGGI DAN DATARAN RENDAH KABUPATEN FLORES TIMUR

Keywords

Higiene Perorangan, Kecacingan, Sanitasi Lingkungan, Dataran Tinggi, Dataran Rendah, Flores Timur

How to Cite

korbafo, redemptus, Khadija, S., Deo, D., Lidia, K., & E.D, M. (2018). ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN KECACINGAN PADA SISWA SEKOLAH DASAR PADA DATARAN TINGGI DAN DATARAN RENDAH KABUPATEN FLORES TIMUR. Cendana Medical Journal (CMJ), 6(2), 238-249. Retrieved from https://ejurnal.undana.ac.id/CMJ/article/view/416

Abstract

Kabupaten Flores Timur (Flotim) memiliki wilayah dataran tinggi dan dataran rendah serta jenis tanah yang mendukung perkembangan cacing jenis Soil Transmitted Helminths (STH). Keadaan sanitasi lingkungan belum memadai dan higiene perorangan yang buruk masih ditemukan pada siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Flotim. Tujuan penelitian ini  menganalisis faktor risiko kecacingan siswa SD dataran tinggi dan dataran rendah Kabupaten Flotim. Metode  yang digunakan adalah penelitian analitik observasional dengan desain cross – sectional. Sampel berjumlah 133 orang. Cara pengambilan sampel menggunakan rumus Lemeshow. 133 sampel tinja dikumpulkan dari siswa SD dataran tinggi dan dataran rendah Kabupaten Flotim untuk pemeriksaan mikroskopik pada Agustus 2017. Faktor risiko diidentifikasi dengan kuisioner. Analisis yang digunakan adalah uji Chi-square. Hasil penelitian ini adalah prevalensi kecacingan siswa SD dataran tinggi lebih besar dibandingkan dataran rendah. Berdasarkan hasil mikroskopik, kecacingan STH tipe Ascaris lumbricoides paling banyak pada siswa SD dataran tinggi, sedangkan STH tipe Tricuris trichiura dan Hookworm lebih banyak pada siswa SD dataran rendah. Kemudian tidak terdapat hubungan signifikan dari faktor risiko yang mempengaruhi kecacingan pada siswa SD dataran tinggi dan dataran rendah Kabupaten Flotim dengan nilai p yaitu kepemilikan jamban (p=0,558), memakai alas kaki (p=0,841), mencuci tangan (p=0,236), kebersihan kuku (p=0,773), kebiasaan makan (p=960) dan kebiasaan kontak dengan tanah (p=0,488). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa  tidak terdapat hubungan signifikan dari faktor risiko yang diteliti. Higiene perorangan dan sanitasi lingkungan merupakan pencegahan kecacingan siswa SD dataran tinggi dan dataran rendah

References

1. Sumanto D. Faktor Resiko Infeksi Cacing Tambang pada Anak Sekolah. Faktor Resiko Infeksi Cacing Tambang pada Anak Sekolah. [Demak]Universitas Diponegoro;2010.
2. Pertiwi Cendra A, Ane La R, Selomo M. Analisis Faktor Praktik Hygiene Perorangan Terhadap Kejadian Kecacingan pada Murid Sekolah Dasar Di Pulau Barrang Lompo Kota Makassar Tahun 2013.
Universitas Hasanudin; 2013.
3. Handayani D, Ramdja M,Nurdianthi Fitri I. Hubungan Infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) dengan Prestasi Belajar pada Siswa SDN 169 di Kelurahan Gandus Kecamatan Gandus Kota Palembang. Universitas Sriwijaya;2015.
4. Natadisastra D, Agoes R. Parasitologi Kedokteran. Jakarta: EGC;2009.
5. Putriheryanti A. Hubungan Infeksi Cacing Usus yang Ditransmisikan melalui Tanah (Soil-Transmitted Helminths) dengan Pendapatan Keluarga pada Siswa SDN 09 Pagi Paseban Tahun 2010.Universitas Indonesia; 2011.
6. Direktorat Jenderal PP dan PL RI. Profil Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Tahun 2011
[Internet]. Jakarta: Direktorat Jenderal PP dan PL RI; 2012.Available from:
www.pppl.kemkes.go.id
7. Departemen Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 2008 [Internet].Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2009. Available from:
www.depkes.go.id
8. Mahshuri N. Pemeriksaan Telur Nematoda Usus Pada
Anak SDN 050736 Di Daerah Pantai Kecamatan Tanjung Pura Pemkab.Langkat. Universitas Medan Area; 2011.
9. Febriani K. Faktor Risiko Soil Transmitted Helminths pada anak SD di dataran tinggi dan rendah di Kabupaten Gianyar tahun 2016. Universitas Udayana;2016
10. Sinarya. PrevalensiKecacingan pada siswa SD di Dataran Tinggi dan Dataran Rendah. 2011
11. Badan Pusat Statistik Flores Timur. Proyeksi Penduduk Flores Timur Tahun 2016[Internet]. [cited 2017 Apr 19]. Available from:
http://florestimurkab.bps.go.id
12. WHO. Soil-transmitted helminth infections [Internet]. 2017 [cited2017Apr 19]. Available from:www.who.int/mediacentr e/factsheets/fs366/en
13. Natadisastra D, Agoes R. Parasitologi Kedokteran.Jakarta: EGC;2009.
14. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pengendalian Kecacingan [Internet]. [cited 2017 Apr 19]. Available
from:perpustakaan.depkes.go.id
15. Samosir P dkk. Pengaruh Derajat Infeksi Cacing terhadap Tingkat Kecerdsan Anak (Studi Kasus terhadap Siswa SD Negeri 067775
Kotamadya Medan). Institut Teknologi Indonesia; 2015.
16. H. Asdie A. Harrison PrinsipPrinsip Ilmu Penyakit Dalam Vol. 2: Infeksi Helmintik. Jakarta: Pusat Penerbit Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2014.
17. Sianturi RS. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Infeksi Kecacingan yang Ditularkan melalui Tanah pada Murid Kelas IV, V dan VI SD Negeri No 173327 bahalimbalo Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2011. Universitas Sumatera Utara; 2011.
18. Yudhastuti R, Lusno M. Kebersihan Diri dan Sanitasi Rumah pada Anak Balita dengan Kecacingan. Universitas Airlangga. 2012.
19. Jurnal Buski. Kejadian Penyakit Cacing Usus di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Jurnal Epidemiologi dan Penyakit Bersumber Binatang. 2013.
20. Umar Z. Perilaku Cuci Tangan Sebelum Makan dan Kecacingan pada Murid SD diKabupaten Pesisir Selatan Sumaera Barat. [KESMAS]: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol.2; 2008.
21. Mutoharoh S, Ismail J, Hakimi M. Perilaku Mencuci Tangan dan Kejadian Kecacingan pada Siswa Sekolah Dasar di Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen.
Universitas Gajah Mada. 2015.
22. Jurnal Buski. Risiko InfeksiCacing Usus pada Anak Sekolah Dasar Berdasarkan Ekosistem yang berbeda di Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2009. Jurnal Epidemiologi dan Penyakit Bersumber Binatang.2013
23. Dly RRZ. Hubungan Higiene Perorangan Siswa dengan Infeksi Kecacingan Anak SD Negeri di Kecamatan Sibolga Kota Kota Sibolga. Universitas Sumatera Utara; 2008.
24. Menteri Kesehatan RI Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2017 Tentang Penanggulangan Cacingan [Internet]. Jakarta: Menteri Kesehatan RI;2017. Available from: hukor.kemkes.go.id/.../PMK_N o._15_ttg_Penanggulangan_Ca cing.
25. Ilmu Geografi. Pusat Ilmu
Geografi Indonesia [Internet]. [cited 2017 Jan 29]. Available from :
https://ilmugeografi.com/geolo gi/pengertian-dataran
26. Gracia dkk. Diagnostic Parasitology Kedokteran. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran FKUI; 1996.
27. Hayati I. Gambaran Hitung Jenis Leukosit Siswa Kelas 1-3 SDN 03 Kayu Manis Selupu Rejang yang Terinfeksi Cacing Nematoda Usus. Akademi Analis Kesehatan Harapan Bangsa Bengkulu. 2015.
28. Notoatmodjo S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta; 2010
29. Sastroasmoro S, Ismael S.
Dasar-Dasar Metodologi
Penelitian Klinis.
4thed.Jakarta: Sagung Seto;2011
.
30. Dinas Kesehatan NTT. Profil
Kesehatan NTT 2015
[Internet]. Kupang:Dinas Kesehatan NTT;2016.Available from:www.depkes.go.id
31. Anonim. Profil Flores Timur.
Diunduh dari :
http://florestimurkab.go.id/bera nda/profil/geografis-umum/ pada tanggal 6 November 2017.
32. Anonim. 2017. Profil Penduduk Kabupaten Flores Timur 2017. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Flotim. Larantuka
33. Anonim. RUTR Kota Larantuka Tahun 2007 – 2016. Diunduh dari
http://itscomma9.com/larantuk a/ pada tanggal 6 November 2017
34. Anonim. 2017. Profil Sekolah Dasar Di Indinesia. Diunduh dari : http://referensi.data.kemdikbud .go.id/tabs.php?npsn=50301913 pada tanggal 6 November 2017
35. Rizal. Analisis Faktor Risiko Kejadian Kecacingan pada sisws SD Inpres Oeleta Kecamatan alak Kota Kupang Tahun 2014. Universitas Nusa Cendana Kupang : 2014
36. Nurmarani. Hubungan Personal Hygiene Dan Sanitasi Lingkungan Rumah Dengan
Infeksi Cacing Pada Anak Usia 6 – 12 Tahun Di Rawa Limbah Kelurahan Pisangan Kota Tangerang Selatan Tahun 2016. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta : 2017
37. Wiwik A dkk. Hand Hygiene Merupakan Faktor Resiko Terjadinya Kecacingan Pada Siswaa Di Sdn Sidorahayu 04 Wagir Kabupaten Malang. Stikes Maharani Malang : 2017
Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.