HUBUNGAN JARAK KELAHIRAN DAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KEJADIAN PREEKLAMPSIA DI RSUD PROF. DR. W.Z. JOHANNES KUPANG TAHUN 2017
Pdf

Keywords

preeklampsia , jarak kelahiran, Indeks Massa Tubuh, rumah sakit

How to Cite

Tapowolo, Y., Lalandos, J., & Rambu Kareri, D. (2019). HUBUNGAN JARAK KELAHIRAN DAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KEJADIAN PREEKLAMPSIA DI RSUD PROF. DR. W.Z. JOHANNES KUPANG TAHUN 2017. Cendana Medical Journal (CMJ), 6(3), 376-382. Retrieved from https://ejurnal.undana.ac.id/CMJ/article/view/669

Abstract

Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan proteinuria. Risiko preeklampsia semakin meningkat sesuai dengan lamanya interval dengan kehamilan pertama (1,5 setiap 5 tahun jarak kehamilan pertama dan kedua). Pada kehamilan pertama, bila dibandingkan dengan berat badan normal wanita (IMT<25), risiko preeklampsia untuk wanita dengan kelebihan berat badan (IMT: >25) masing-masing 1.82 dan 2.10 Tujuan  penelitian ini menganalisis hubungan jarak kelahiran dan indeks massa tubuh dengan kejadian preeklampsia. Metode yang digunakan adalah desain cross sectional dengan jumlah sampel 96 orang yang diambil dengan metode consecutive sampling. Sampel adalah ibu melahirkan di RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang pada bulan Agustus sampai Oktober tahun 2017. Data diperoleh melalui rekam medik dan Buku KIA responden. Hasil penelitian ini, dari 96 sampel yang diteliti, didapatkan 79 responden tanpa preeklampsia dan 17 responden dengan preeklampsia. Dari 17 kejadian preeklampsia, 7 responden dengan jarak kelahiran <5 tahun dan 10 responden dengan jarak kelahiran ≥ 5 tahun. Sedangkan kasus preeklampsia yang berasal dari ibu dengan IMT ≤25 kg/m2 berjumlah 6 responden dan 11 responden dengan IMT >25  kg/m2. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan antara jarak kelahiran dengan preeklampsia (p = 0,010) dan antara IMT dengan preeklampsia (p = 0,001).

Pdf

References

1. Kementrian Kesehatan RI. Infodatin Pusat Data dan informasi. Jakarta Selatan; 2014.

2. Dinas Kesehatan ProvinsiNusa Tenggara Timur. Profil Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015. Salmun E, Hutahaean D, Kikhau A, Roja M, Rini Y, editors. Kupang; 2016. 1- 252 p.


3. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Diagnosis dan Tata Laksana Pre-eklampsia. Jakarta; 2016.
4. Duckitt K, Harrington D, Duckitt K, Harrington D. Risk factors for pre-eclampsia at antenatal booking: systematic review of controlled studies. BMJ. 2005;(September 2007).
5. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Ibu dan Anak. Pedoman Manajemen Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta;2014
6. Cormick G, Betrán AP, Ciapponi A, Hall DR, Hofmeyr GJ. Inter-pregnancy interval and risk of recurrent pre-eclampsia : systematic review and meta-analysis. Reprod Health [Internet]. ReproductiveHealth;2016;

Available from: http://dx.doi.org/10.1186/s12978-016-0197-x

7. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Praktis Status Gizi Dewasa.

8. Fajarsari D, Prabandari F. Pengaruh Paritas dan Indeks Massa Tubuh (IMT) Terhadap Kejadian Preeklampsia di Kabupaten Banyumas. Banyumas; 2015.

9. Langelo W, Arsin A, Russeng S. Faktor risiko kejadian preeklampsia di RSKD Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar tahun 2011-2012. Makassar; 2012.
10. Skjaerven R, Wilcox A, Lie R. The Interval Between Pregnancies and The RiskOf Preeclampsia. 2002;346(1) :33–8.
11. Wulandari, Siswi. Hubungan Antara Jarak Kehamilan dan Status Gizi dengan Kejadian Preeklamsi pada Ibu Hamil di RS Aura Syifa Kabupaten Kediri Tahun 2015.2015; Kediri
12. Hutabarat Rien, Suparman Eddy,Wagey Freddy. Karakteristik pasien dengan preeklampsia di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado. 2016; Manado.
Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.