Mega-Chan di Negeri Konoha
Gender, Internet Meme dalam Kontestasi Politik Indonesia
Abstract
Penelitian ini mencurigai popularitas internet meme politik “Mega-Chan”, sebagai dampak dari subordinasi partisipasi perempuan dalam politik tanah air. Diskursus politik masyarakat yang masih meletakkan kekuasaan di tangan laki-laki, serta faktor budaya Indonesia yang patriarkal menjadi landasan kecurigaan ketimpangan gender dalam popularitas meme Mega-Chan. Penelitian ini menggunakan jenis dan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif, dengan model analisis semiotika yang dikembangkan oleh Hackley, model semiotika ini mengedepankan pemaknaan dari dua perspektif, subjektif, dan sosial (others) sehingga bisa menghindari iterpretasi bias sekaligus bisa menjelaskan proses subjektif dan sosial dalam sisi produksi tanda Mega chan. Dengan model semiotika ini penelitian dilakukan dengan tujuan menggali sekaligus menjawab kecurigaan/pertanyaan penelitian, bagaimana gambaran partisipasi perempuan dalam politik Indonesia, yang dihadirkan melalui meme Mega-chan dan apakah Megawati adalah salah satu korban ketimpangan gender dalam partisipasi politik ?. hasilnya. Meme Mega-chan sebagai tanda tidak hanya dimaknai sebagai satire politik kepada Megawati Soekarnoputri, namun memuat makna sudut pandang stereotype Gen Z terhadap partisipasi politik perempuan, meskipun secara regulasi telah diijinkan oleh negara Indonesia. Stereotipe itu membatasi perempuan melalui ciri feminine yang mereka miliki: emosional, sensitif, dan kurang dalam berpikir rasional.
Copyright (c) 2026 Putra Aditya Lapalelo, Christopher Chandra, Nanang Krisdinanto

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.










The articles in Jurnal Communio are licensed under a