Pengaruh Perbedaan Jarak Tanam terhadap Pertumbuhan Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) dengan Metode Longline
Abstract
Pengaturan jarak tanam merupakan aspek penting dalam optimalisasi budidaya rumput laut karena berkaitan dengan pemanfaatan ruang, penetrasi cahaya, dan dinamika perairan yang mendukung pertumbuhan. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh variasi jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produktivitas Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan menggunakan metode longline. Percobaan dilakukan selama 45 hari di perairan Pasir Panjang, Kota Kupang, menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga perlakuan jarak tanam, yaitu 30 cm (P1), 35 cm (P2), dan 40 cm (P3), masing-masing dengan tiga ulangan. Parameter yang dievaluasi mencakup pertumbuhan berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik, produktivitas, dan kualitas air. Data dianalisis menggunakan analisis ragam, diikuti uji beda nyata terkecil pada taraf signifikansi 5% apabila ditemukan pengaruh nyata. Hasil menunjukkan bahwa jarak tanam berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan berat mutlak (p < 0,05), dengan nilai tertinggi pada P2 (897,33 g), diikuti P1 (861,00 g) dan P3 (848,33 g). Sebaliknya, laju pertumbuhan yang dilaporkan tidak berbeda signifikan antarperlakuan (p > 0,05), meskipun P2 menghasilkan nilai tertinggi (5,48 g/hari). Produktivitas menunjukkan perbedaan sangat nyata antarperlakuan, dengan nilai tertinggi pada P3 (981,64 g/m), diikuti P2 (967,57 g/m) dan P1 (905,25 g/m). Selama penelitian, suhu berkisar 30–32 °C, pH 7,6–7,9, dan salinitas 35–36 ppt. Temuan ini mengindikasikan bahwa jarak tanam 35 cm lebih mendukung pertambahan biomassa individu, sedangkan jarak 40 cm menghasilkan produktivitas per satuan panjang tertinggi secara numerik.
Kata kunci: Kappaphycus alvarezii, jarak tanam, metode longline, pertumbuhan biomassa, produktivitas.
Stefanus Donuata(1*)

