PENGANTAR REDAKSI

Buletin EXCELLENTIA Volume VII No 2 (Desember 2018) kembali hadir di tengah-tengah para pembaca. Pada edisi ini, redaksi kembali menurunkan tiga belas manuskrip hasil penelitian. Pada Volume VII ini redaksi mengangkat tema “Pertanian sebagai sumber Penghidupan”. Redaksi mengetengahkan berbagai isu terkait dengan pertanian sebagai sumber penghidupan di tengah arus revolusi Industri 4.0. Beragam potret kondisi sosial ekonomi dan potensi pertanian lahan kering disajikan pada artikel yang diturunkan pada Volume VII ini. Mampukah pertanian menjadi sandaran perekonomian yang tidak saja memenuhi pangan rumah tangga, tetapi juga kebutuhan lainnya? Manuskrip yang dihadirkan lebih banyak mengulas segi sosial ekonomi pertanian.
Pada terbitan nomor 1, hasil penelitian Duru dkk (1-9) menunjukkan bahwa pendapatan rumah tangga masih rendah sehingga masuk pada kategori belum sejahtera (Rp. 1.112.456/bulan). Pertanian masih menjadi tulang pung­gung pendapat­an petani. Pendapatan yang rendah berdampak pada daya beli petani. Hal ini juga disampai­kan oleh Ayunita dalam artikelnya bahwa pengeluaran rata-rata Rp.860.508/bulan (59,84%) merupakan pengeluaran untuk konsumsi (makanan). Indikator lain yang menunjukkan belum sejahteranya petani yaitu Nilai Tukar Rumah Tangga Petani Pedesaan di Kabupaten TTU dengan nilai NTRTP terhadap total pengeluaran < 1 atau NTRTP = 0,89%. Rendahnya nilai NTRTP sangat dipengaruhi oleh rendahnya pendapatan yang tidak sebanding dengan besarnya pengeluaran rumah tangga. Kondisi kesejahteraan petani pedesaan ini bukan merupakan kondisi keseluruhan petani, namun dapat memberikan gambaran petani pedesaan di wilayah Timor barat yang belum sejahtera.
Secara Ekonomi, usahatani yang dijalankan petani layak diusahakan. Kelayakan usaha pertanian disampaikan oleh beberapa peneliti seperti Feby dkk (10-19). Usaha tani jagung yang diusahakan mampu memberikan pendapatan per hektar sebesar Rp. 1.925.330,-. Hasil ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Ayunita sebelumnya. Jagung yang menjadi komoditas unggulan mampu memberikan pendapatan sebesar 1.925.330,- per hektar untuk satu musim tanam. Hasil yang lebih rendah ditunjukkan oleh hasil penelitian Jena dkk (28-34) di Daerah Amarasi. Pendapatan Petani jagung di Daerah Amarasi hanya sebesar Rp.502.890,- dalam satu musim tanam. Kita ketahui bersama bahwa kepemilikan lahan oleh petani relatif terbatas. Sebagian besar petani mengusahakan lahan kurang dari satu hektar. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan Yoktan dkk (75-82) bahwa rata-rata petani di lokasi penelitianya mengusahakan lahan 50 sampai 100 are. Penguasaan lahan yang sempit ini dibarengi dengan kualitas SDM yang belum mumpuni. Rata-rata tingkat pendidik­an petani adalah Sekolah Dasar. Melihat kondisi ini, adopsi teknologi oleh petani me­miliki tantang­an yang lebih berat. Pendapatan petani juga disampaikan oleh Jumasni (19-27). Hasil peneliti­annya menunjukkan bahwa pendapatan petani kacang di daerah penelitiannya selama satu musim produksi hanya mencapai Rp. 2.812.083,-. Apabila diasumsikan masa produksi 3 bulan, maka per bulan petani mendapat penghasilan kurang dari Rp. 1.000.000,-. Melihat beberapa data hasil penelitian ini, nampaknya usahatani kacang lebih memiliki potensi pendapatan yang lebih besar.
Salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan pertanian lahan kering kepulauan adalah terbatasnya ketersediaan air. Rata-rata pertanian konvensional hanya mampu berproduksi satu kali dalam satu tahun, sehingga apabila hanya mengharapkan produksi jagung seperti gambaran di atas, maka daya beli dari petani sangat rendah. Namun demikian, petani terus mengupayakan sumber­sumber pendapatan lainnya seperti dari perkebunan (asam, mete, kemiri), peternakan dan juga sektor jasa seperti pertukangan. Guna meningkatkan produktivitas usahatani lahan ­kering, Undana telah melakukan berbagai uji coba, salah satunya adalah mengembangkan budidaya tanam­an dengan sistem irigasi tetes. Marta Naba dkk (66-74) meneliti penggunaan tenaga kerja pada budidaya jagung dengan irigasi tetes di lahan UPT Lahan kering Kepulauan Undana. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tenaga kerja layak apabila bekerja di usahatani jagung karena nilai produktivitas tenaga kerja lebih besar dari Upah Minimum Provinsi (UMP) NTT tahun 2017 sebesar Rp 58.653/HOK. Tenaga kerja pertanian relatif berimbang antara perempuan dan laki-laki. Sekitar 43.52% kegiatan usahatani dikerjakan oleh tenaga kerja wanita (Yoktan dkk, 75-82). Menurut hasil penelitian ini, faktor sosial ekonomi menjadi pendorong terlibatnya perempuan dalam usahatani. Perempuan memang memegang peranan penting dalam perekonomian keluarga di Indonesia. Beberapa penelitian menunjukkan peran perempuan dalam berbagai pekerjaan sangat aktif, termasuk pekerjaan berat. Nampa dkk. (2017) mengungkapkan perempuan petani juga terlibat aktif dalam aktivitas pertambangan mangan pada saat maraknya pertambangan mangan di Timor Barat antara tahun 2008-2012. Hal ini menunjukkan tenaga kerja wanita menjadi salah satu potensi besar dalam peningkatan kesejahteraan keluarga petani.
Selain usahatani, potensi usaha pertanian dalam arti luas juga patut dilirik. Salah satunya adalah budidaya ayam. Ayam merupakan salah satu sumber protein hewani yang menjadi kebutuhan dasar rumah tangga, khususnya di perkotaan. Pengembangannya masih cukup menjanjikan. Hasil penelitian Siska dkk (83-89) menunjukkan bahwa usaha ini menjanjikan. Ini terlihat dari empat skala usaha pemeliharaan ayam broiler yang diteliti, semuanya memberikan keutungan yang menjajikan di mana Nilai IRR lebih besar dari suku bunga rata-rata. Namun demikian, pengusaha yang diteliti belum meningkatkan skala usahanya. Menurut penelitian ini, peternak belum memiliki orientasi usaha yang lebih luas, sehingga cenderung stagnan dalam menjalankan usahanya. Melihat perkembangan perekonomian dan kebutuhan pangan yang cenderung meningkat, diperlukan upaya-upaya serius untuk menangkap peluang kebutuhan pangan yang meningkat untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan insentif usaha yang semakin besar, tentu ketertarikan generasi muda menekuni profesi di bidang pertanian diharapkan juga ikut meningkat, sehingga kerisauan akan krisis petani di masa yang akan datang seperti yang mengemuka akhir-akhir ini dapat disambut sebagai peluang.
Pada terbitan nomor dua ini, manuskrip yang dihadirkan juga masih pada tema yang sama. Seperti Bain dkk (107-117) mengetengahkan hasil bahwa tingkat adaptasi petani terhadap agribisnis jagung masih berlangusun cukup baik. Hal ini mungkin di dukung oleh pengaaman usaha tanu jagung para petani yang sedemikian panjang di NTT. Dan jangun merupakan salah satu pangan tradisional masyarakat NTT, meskupun apabila ditelurusi jagung sebenarnya bukan tanaman asli provinsi kepulauan ini (Benu & Mudita, 2013; Mudita, 2013b). namun demikian kondisi berbeda disampaikan oleh Mete (150-158). Hasil penelitiannya Menunjukkan bahwa karaterstik usahatani jagung di lokasi penelitianya belum mampu mengadopsi anjuran teknolog. Pemupukan masih menjadi masalah prioritas yang dihadapi oleh petani dalam melakukan usahatani jagung di lokasi tersebut. Meskipun demikian, para petani tetap bertahan dengan tanaman pangan tradisional seperti jagung, ubi-ubian dan tanaman tradisional lainnya (Mudita, 2013a).
Jagung tetap menjadi tanaman tradisional petani yang setiap musim tanam selalu dibudidayakan. Beberapa kearifan lokal masyarakat di beberapa daerah bahkan menanam jagung dijadikan ukuran dalam menilai apakah petani atau warga tersebut rajin atau tidak. Petani dikatakan tidak rajin apabila tidak menanam jagung di musin hujan. Namun demikian, seiring perkembangan jaman, petani di lahan kering di NTT juga membudidayakan tanaman introduksi seperti petsay. Berkembangnya paradigma baru dalam pertanian yang mengedepankan konsep agribisnis mendorong para petani membudidayakan tanaman yang memiliki nilai ekonomis tanpa meninggalkan kearifan lokal menanam jagung. Lado dkk (118-126) meneliti tentang pemsarn dan pendapatan petani pitcay. Lokasi penelitiannya di dataran tinggi aratan timor yaitu desa Netpala, kabupaten TTS. Hasil pepenitiannya menunjukkan tataniaga pertanian telah terbentun untuk menalurkan produk pertanian ke konsumen yang dominan brada di perkotaan. Ditemukan juga bahwa beberapa rantai pemasaran yang ada terjadi kurang efisien (ep=1, 42%). Dilihat dari nilai r/c ratio, usaha tani pitcay (2,55%) menjunjukkan bahwa petani yang menanam tanaman introduksi mampu memberikan manfaat ekonomi. Lenda (127-133) juga menelitia aspek pemasaran pada produk pertanian lainnya (tomat).
Sementara itu Ritan dkk. (134-139) melihat faktor-faktor yang mempengaruhi usaha tani kacang hijau. Ritan menemukan beberapa faktor yang berpengaruh seperti luaslahan, tenaga kerja, pupuk dan pestisida. Namun apabila diuji secara parsial hanya benih dan luas lahan. Hal ini menunjukkan memang kedua faktor tersebut sangat menentukan produksi kacang hijau. Ritan juga mengungkapkan bahwa skala ekonomi usahatani kacang hijau berada pada kondisi constant return to scala. Selain kacang hijau, bawang merah meruapakan salah satu produk pertanian yang menjadi kebutuhan pokok konsumen. Bawang merah menjadi salah satu produk pertanian yang perdagangan dan harganya harus dikndalikan oleh pemerintah. Oleh karenanya pengembagnan bawang merah menjadi sangat penting dilakukan. Menggunakan analisis SWOT, Damaledo dkk (140-149) menawarkan beberapa strategis untuk meningkatkan produksi bawang merah yaitu dengan meningkatkan permodalan untuk memfasilitasi usahatani, menerapkan adopsi teknologi pembuatan pupuk organik kepada petani, intensifikasi lahan potensial untuk budidaya bawang merah, demontrasi teknologi produksi bawang merah untuk memperoleh hasil produksi yang tinggi, optimalisasi pengelolaan lahan pertanian dengan basis teknologi moderen, meningkatkan fungsi poktan dan gapoktan dalam meraih pangsa pasar, penataan rantai pasokan, konsolidasi yang menjembatani program-program pemerintah dengan kelompok tani dan pemberdayaan petani.
Budidaya jagung yang menjadi kearifan lokal memang seyogyanya terus berjalan. Karena jagung merupakan salah satu infut penting industry pengolahan. Beberapa home indutri pengolahan berbasis jagung berkembang sangat baik di kota kupang. Sala satunya disampaikan oleh Fitriani dkk. (168-174). Hasil penelitiannya menunjukkan industri rumah tangga yang diteliti masuk dalam kreteria kriteria layak untuk dijalankan dibuktikan dengan kriteria kelayakan yang memberikan hasil positif. Hal senada juga disampaikan oleh Hatto ( (196-203). Berbagai parian olahan jagung mampu memberikan kontribusi terhadap laba usaha industry rumah tangga yang diteliti. Kontribusi laba terbesar (52,12%) diproleh dari produk jagung rasa udang, selanjutnya emping jagung (29,48%), dan marning jagung (18,40%).
Dari berbagai hasil penelitian ini mengarahkan pemikiran redaksi pada suatu padnangan bahwa jagung di NTT bukan sekedar tanaman pangan tradisional yang harus dilestarikan karena sudah dibudidayakan secara turun temurun. Lebih dari pada itu, jagung masih menjadi salah satu pondasi ketahanan pangan keluarga petani dan juga memiliki nilai ekonomi, sebagai bahan baku industri rumah tangga. Oleh karenanya, dipandang dari persepektif ekonomi maupun kearifan lokal, jagung memiliki peranan peting untuk terus dibudidayakan. Terlebih penelitian Lobo dkk. (2017) perdagangan jagung masuk leih tinggi daripada keluar provinsi NTT.

Published: 2019-08-06

Articles